Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kantor Polisi II


"Kak Del, kenapa Kak Riska belum juga pulang, bukannya ini sudah sore, Mas Rendi, coba kak tanyain dia jam berapa sih selesainya ?"tanya Athar pada Delia, yang saat ini sedang menata makanan di nakas, makanan yang dibawa oleh Ipah dan Misca tadi.


"Nggak tau aku Thar, ngapain sih kamu masih peduliin dia ?" ucap sewot Delia.


"Ya diakan saudara kita kak, kandung lagi, mana mungkin aku tega nggak peduli sama dia !" ucap Athar.


"Kamu itu jangan terlalu baik Thar jadi orang, kamu nggak inget, lupa kamu, dia itu udah meres kamu, kalau bukan karena Mas Rendi nitipin duit sama kamu, mungkin kamu juga bakalan kuwalahan nurutin kemauan dia yang ternyata banyak bohongnya, duit aku, duit kak Citra, kak Mutia, udah berjuta-juta abis ditangan dia, cuma buat apa buat kesenangan dia doang, nah si Tiara yang lebih parah, jangan lupa ya Thar kamu !" ujar Delia tak terima begitu mudahnya Athar mengasihi.


"Aku cuma ngerasa Kak Riska itu lagi salah jalan kak waktu itu, kita kan sebagai saudara kandungnya seharusnya ngerangkul dia saat ini dia lagi dimasa terpuruknya lho, gak ada sama sekali yang dampingin dia pas dia lagi down, Kak kita nggak boleh gitu, kalau bukan kita yang nguatin dia, siapa lagi yang bisa diharapin sama Kak Riska." ucap Athar, ia tidak bisa untuk tidak perduli, karena baginya keluarga adalah segalanya.


"Haaah," Delia menghela nafasnya berat "Terserah kamu teh Thar, terus aja kasihan sama orang yang nggak punya hati kek gitu."


"Bukannya gitu kak, nah coba tolong telponin Mas Rendi, dari kapan selesai sidangnya, atau telpon ke rumah tanyain sama Fahri, ada nggak kak Riska dirumah ?" suruh Athar pada kakaknya.


Dengan perasaan kesal Delia menurut untuk menghubungi Kakaknya itu, ia menghubungi rumah orang tuanya untuk menanyakan keberadaan Riska, namun Fahri mengatakan Riska tidak pulang kerumah.


Segera ia menelpon Rendi, untuk menanyakan kapan sidangnya selesai, namun Rendi mengatakan ia sudah pulang dari lima jam yang lalu, sementara ia terakhir bersama Riska di Pengadilan Agama tadi, setelahnya mereka berpisah. Rendi mengatakan ia tidak tau keberadaan Riska, dan akan mencoba membantu mencari sebisanya.


"Kenapa kak, kok panik ?" tanya Athar yang melihat raut kegelisahan dari kakaknya.


"Kak Riska nggak pulang kerumah Thar, dan dia juga nggak tau ada dimana ?" jelas Delia.


"Lho kenapa gitu ?" tanya Athar lagi.


"Ya aku nggak tau Thar, duh gimana yah ini ?"


Begitulah mereka, meski ada ketidaksesuaian namun jika sudah terjadi sesuatu pada salah satunya tidak akan bisa membiarkan.


Dalam paniknya ponsel Delia kembali berdering.


Dilihatnya nomor yang tidak dikenal, ia ingin mengabaikan karena biasanya ia pantang mengangkat nomor baru yang masuk ke ponselnya, namun mengingat Riska tidak diketahui keberadaannya, ia lalu mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo..."


^^^"Ya selamat sore, apa benar ini dengan Ibu Adelia Fianti ?"^^^


"Ya dengan saya sendiri !"


^^^"Ini dari Kepolisian, saudara anda Riska Fitria saat ini sedang kami lakukan penyidikan sebagai saksi terkait tindak lanjut kasus jerat pidana perdagangan anak dibawah umur dan kasus penusukan saudara Athar Adjiandanu, kalau bisa anda diminta untuk ke Kantor Polisi segera ? Kami akan melakukan penahanan terhadap saudari Riska Fitria, untuk itu kami mengharapkan anda sebagai perwakilannya bisa hadir untuk penandatanganan berkas."^^^


"Kasus Pak ? Ya baiklah saya akan ke sana, alamatnya ?"


^^^"Alamatnya sudah saya kirimkan lewat pesan."^^^


"Iya Pak !"


Delia menatap tidak percaya pada ponselnya yang baru saja di hubungi Kepolisian. Kakak kandungnya akan ditahan, benarkah ? Mengapa rasanya begitu pilu, sementara baru saja ia bersikap acuh saat Athar menanyakan keberadaan Riska padanya ? Bahkan ia pernah berjanji untuk membuat Riska masuk ke penjara atas semua yang dilakukan kakak sulungnya itu pada Tiara dan Athar, namun setelah kejadiannya begini mengapa ia sekaan merasa kasihan.


"Kenapa Kak Del ?" tanya Athar membuyarkan keterkejutannya.


"Kak Riska Thar !" ucapnya sembari menahan sesak.


"Dia, dia akan di tahan di Kantor Polisi, aku harus kesana, ya tapi bagaimana denganmu ?" ucap Delia, ia ingin segera pergi, namun disini ia hanya bedua dengan Athar, jika ia pergi lalu siapa yang akan menunggui Athar jika Athar butuh sesuatu.


"Kakak pergi saja, coba kakak telpon kak Mutia dan kak Citra, bukankah mereka katanya akan kesini sebentar lagi, coba tanyakan sudah berangkat apa belum, sekalian bilang apa yang terjadi pada Kak Riska." usul Athar.


"Ya kau benar, sebentar !"


Delia segera menghubungi kakaknya Mutia, Mutia mengatakan ia sedang dalam perjalanan, ke rumah Citra barulah setelahnya mereka akan pergi bersama ke Rumah Sakit.


Lalu Delia mengatakan apa yang telah terjadi pada Kakak sulung mereka, Mutia nampak terkejut, Mutia mengatakan akan berusaha secepatnya untuk sampai dirumah sakit.


"Gimana Kak Del ?" tanya Athar.


"Iya katanya, sebentar lagi, mereka akan kesini secepatnya." jelas Delia.


"Sudah, Kakak pergi saja, kasihan Kak Riska tidak ada yang menemaninya, biar aku sendiri, nanti Kak Mutia juga bentar lagi sampai."


"Thar, nanti kalau kamu butuh sesuatu gimana, apa kamu mau ke toilet, mau buang air, ayo kakak rangkul sebelum kakak tinggalin." tanya Delia.


"Aku nggak mau apa-apa kak, sudah tidak perlu mengkhawatirkan aku." ucap Athar.


"Baiklah, kakak pergi dulu, semoga saja Kak Mutia segera sampai."


Delia bergegas pergi meninggalkan ruang rawat Athar, ia akan menuju Kantor Polisi untuk mengurusi masalah Riska.


Rasa cemas menyelimutinya, sungguh sebab kesalahan Riska yang ia anggap telah diluar batas, membuat hatinya sudah dipenuhi rasa benci waktu itu.


Bayangkan saja, siapa yang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan yang sangat fatal yang dilakukan Riska, manusia biasa sepertinya tentu saja tidak akan punya hati bak malaikat.


Dua puluh menit berlalu, Delia sudah sampai di Kantor Polisi, dilihatnya Riska yang tertunduk dihadapan penyidik.


"Kak Riska !" serunya.


"Lia !" ucap Riska, benarkah Delia datang untuk menyelamatkannya, menyelamatkan supaya ia bisa tidak ditahan disini, supaya ia bisa menjadi tahanan luar saja.


"Pak bagaimana kejadiannya, siapa yang melaporkan semua ini ?" tanya Delia, baginya ini sungguh ganjal, karena jika masalah Tiara, Rendi sudah mengatakan kalau ia tidak akan melaporkan semua perbuatan Riska pada pihak yang berwajib meski ia pernah menyarankan, sementara untuk masalah penusukan Athar, bukankah tidak ada saksi mata, meski ia juga sempat menuduh Riska pelakunya, namun tidak semudah itu membuat laporan jika tidak ada bukti yang akurat kan.


Pak Polisi pun kemudian memberikan sebuah Berita Acara Penyidikan yang berisikan segala pertanyaan yang di jawab Riska tadinya.


Pelan Delia membacanya, mulutnya menganga tak percaya atas apa yang tertulis pada setiap jawaban, ternyata kecurigaannya benar, Kakak sulungnyalah yang telah menusuk adik bungsunya.


Terlepas dari alasan karena apa, namun memang benar ternyata Riskalah pelakunya.


Bersambung...


Hai gaesss, mohon dukungannya yaaa, untuk selalu like, koment, dan vote cerita ini, kasih hadiah juga, itu udah membantu banget kok !!!


Happy reading, dan Selamat Tahun Baru untuk kalian semua, salam sayang dari aku "Pee" !!!