Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Menjelang persalinan II


Shirleen masih berperang dengan batinnya.


Tidak ia tidak mau dioperasi. Ia tidak merasakan sakit apapun, ia juga sudah menurut untuk memposisikan dirinya selalu miring kekiri, sudah pegel rasanya punggung dan belakang ini, apa pengorbanannya akan sia-sia, kenapa harus di caesar jika bisa melahirkan normal, ia merasa baik-baik saja, bayinya juga aktif bergerak didalam sana, bukan maksud ia membantah tenaga medis yang lebih tau segalanya, tapi ia ingin mencoba normal, apa salah.


Shirleen ingin menolak, bisakah ?


"Aduuhh..."


"By... kenapa By...?" panik Jason, wajah minta dikasihani Shirleen membuat Jason cemas.


"Perutku sakit By ?"


"Udah mulai sakit ?" Tanya Jason lagi.


"Ii iya By, kayak mules gitu" jawab Shirleen.


"Biar saya periksa Tuan Muda" ucap salah satu dokter wanita di ruangan itu.


"Ya silahkan"


Shirleen diperiksa, masih tetap pembukaan tujuh. Mereka semua harus sabar menunggu lagi.


Tapi usaha Shirleen berhasil, Dokter sudah memutuskan untuk menunggu reaksi si janin, itu lebih bagus jika bisa melahirkan secara normal karena menurut mereka Shirleen sudah merasakan kontraksi.


Satu jam dari pemeriksaan terakhir, Shirleen masih belum merasakan apapun selain bayinya yang seperti terus aktif bergerak, ia hanya bersandiwara mengatakan perutnya mulai mulas, ia sungguh tidak ingin di caesar kalau masih bisa melahirkan normal.


Akhirnya setelah lama menanti, kontraksi pertama mulai terjadi, kali ini ia tidak berbohong, perutnya memang sakit.


Sakit melilit, hilang, sakit lagi, hilang, kesakitan itu seperti berlangsung lima belas menit sekali.


Ia masih bisa tenang, sama saat melahirkan Misca, sakit seperti ini adalah nikmat menjadi seorang ibu. Sekaligus ladang pahala juga kan.


Jason masih setia disamping Shirleen, wajahnya menegang, dari tadi ia sudah mual karena dadanya berdebar dan terus merasa gelisah. Ia terlalu cemas melihat Shirleen yang kesakitan namun ia tidak bisa berbuat apapun.


"By, apa benar-benar sakit, apa sebaiknya di caesar saja ?" tanyanya entah kesekian kalinya.


"Tidak apa, sebentar lagi" jawab shirleen, Shirleen masih bisa tenang, ia juga terhibur melihat wajah masam kekasihnya itu yang seolah lebih parah darinya bahkan mungkin lebih membutuhkan pertolongan nampaknya.


Jason menghela nafas lagi.


Apa setiap wanita melahirkan seperti ini.?


Tanyanya dalam hati, padahal perlu ia ketahui, dan kalau perlu ia riset sekalian, yang dialami Shirleen jauh lebih mudah dari pada kesakitan orang melahirkan lainnya, bahkan Shirleen masih bisa tenang juga karena ia sudah pernah melahirkan Misca yang jauh lebih sakit dari ini.


Bahkan di kasus lain ada yang tidak bisa bernafas lega lagi. ada yang menyerah karena saking sakitnya nikmat melahirkan, Shirleen hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan para pejuang lahiran normal lainnya yang sudah sangat bekerja keras.


Waktu ia melahirkan Misca, tak tanggung tanggung ia harus menahan sakit seharian penuh. Ia bahkan sempat berpikir mungkinkah yang terjadi padanya waktu itu karena ia durhaka melawan orang tuannya terutama seorang Ibu, Mama yang melahirkannya. Ia hampir kehabisan tenaga saat itu.


Jadi santai saja, karena kali ini jauh lebih mudah.


Kali ini rasanya sudah persepuluh menit. Kontraksinya sudah semakin sering, Shirleen masih mencoba menikmati.


Jason semakin gila, ia semakin kesusahan menahan gejolak emosinya, ingin rasanya ia berteriak dan memerintah semua orang diruangan itu untuk membantu meringankan sakit pada calon istrinya itu, tapi sama sepertinya semua orang hanya bisa menunggu sembari berdoa yang terbaik, karena ini persalinan normal.


Dokter memeriksa lagi, masih dengan buka tujuh.


Aaarrggghhh, Jason semakin frustasi padahal dari tadi Shirleen hanya diam saja mencoba menikmati setiap proses. Bagaimana jika Shirleen mengadu keluh kesahnya, mengatakan sakit dan mulutnya terus meratap, mungkin Jason sudah bukan frustasi lagi namanya.


"By... caesar saja yaaa" tawarnya lagi.


"Heh diamlah, sebentar lagi" Tidak taukah Jason, bagi setiap wanita yamg mengerti akan nikmat melahirkan, caesar ataupun lahiran normal itu sama saja, sama-sama ada resiko, kelebihan dan kekurangannya, sama sama ada sakitnya cuma cara kerjanya saja yang berbeda, bahkan dari yang Shirleen tau lahiran caesar itu sangat tidak mudah, banyak pantangan yang harus dilalui setelahnya, jadi jangan meremehkan seorang ibu yang harus lahiran dengan cara caesar, kalian tidak tau berapa banyak tenaga yang harus mereka tukar dengan perjuangan mereka, berapa banyak resikonya jika luka jahitan terbuka apa lagi sampai infeksi, jangan pernah membandingkan tolong jangan, setiap cara melahirkan jangan kalian anggap remeh.


Aarrrggggh, What the... Jason mengumpat, apa yang bisa ia lakukan. berpikir berpikir, ayooo namun blank saat ini ia hanya bisa menikmati wajah kesakitan kekasihnya.


Seperlima menit sudah, kontraksinya sudah sampai ditahap seperlima menit, membuat mulut Shirleen yang awalnya enggan bersuara sedari tadi akhirnya meloloskan kata "Aduuhh" kedua kalinya setelah tadi yang pertama saat berpura-pura.


"By, kau kesakitan, jangan lanjutkan By..."


Mata Shirleen mulai sayu, ini benar-benar sakit rasanya.


Ia merasakan ada dorongan dari perutnya, itu membuatnya kesakitan lagi,


"Aaahhh, aduuuhh" rintihan lolos lagi dari bibirnya.


"By, By, kamu harus kuat, jangan lanjutkan By kalau terus menyakitimu" Jason memeluk kekasihnya itu.


Shirleen meremas kuat lengan Jason, keringat dingin sudah tembus membasahi bajunya, nafasnya memburu dan tersengal, ingin rasanya ia meracau namun itu bukan sifatnya, ia terlalu komit dengan keadaan dan kedewasaan. Sehingga takut menciptakan malu jika ia melakukannya.


Dorongan lagi, semakin kebawah rasanya, Shirleen tau mungkin bayinya yang bertindak, tapi nafasnya yang tak teratur membuat ia sulit berbicara.


Sakit, inilah salah satu nikmat menjadi wanita, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan, ini menyangkut dua nyawa, walaupun sakit mereka para wanita harus melaluinya, sekalipun dengan mengorbankan nyawanya sendiri.


Beda anak beda juga caranya, ada yang begitu merasakan sakit, ada juga yang biasa saja, bahkan ada juga wanita yang melahirkan seperti kucing melahirkan segampang itu seolah tanpa beban, tidak bisa diprediksi, tidak bisa dihindari, dan tidak bisa diperbaiki, kodrat wanita satu ini memang mutlak. Seringan-ringannya sakit melahirkan, siapa yang pernah bilang tidak merasakan sakit, tentulah pasti merasakan hanya saja cara dan level sakitnya yang berbeda-beda.


"By..." Lolos, Jason benar-benar menangis.


Sakiiittt, ini sudah tidak ada jeda. Ini bahkan lebih sakit ketimbang detik-detik melahirkan Misca.


"Aaahhhh"


Dokter memeriksa lagi, kali ini dokter mengisyaratkan bahwa sudah siap untuk lahiran, kepala bayi ternyata sudah terlihat sedikit, berbekal ilmu yang diajarkan singkat para dokter, dan pengetahuan sendiri serta pengalaman pertama beberapa tahun lalu, Shirleen mulai mengedan.


Erangan terus memenuhi mulutnya, ia tidak bisa menahan untuk tidak bersuara.


Shirleen masih memegang erat lengan Jason, beruntung ia selalu menjaga kebersihan diri termasuk kebersihan kukunya yang selalu ia potong tepat waktu. Kalau tidak saat ini pastilah ia sudah berhasil menciptakan banyak maha karya.


"Eeerrrrggghhh"


"Eeerrhhhhhgg"


"Hah hah hah hah" Nafasnya melemah, sejujurnya ia tidak kuat lagi, tapi untunglah ia masih berbekal semangat, sedikit lagi... ia tidak boleh menyerah setelah sudah sejauh ini pikirnya.


Jason yang panik pun secara tidak sadar juga mengikuti arahan dokter, ia juga turut mengejan entah apa yang akan ia keluarkan.


"Mulai yah Bund, satu dua tiga mengejan"


"Eeerhhhhh"


"Yak lagi Bun, lagi sebentar lagi"


"Satu dua tiga dorong"


"Eerrggggghhhh"


"Yaaaa terus Bund, satu dua tiga"


"Errrhhhhhh hah hah"


"Yaaa ayo Bund sedikit lagi, sedikit lagi Bun, terus saja mengejan Bund"


"Eeerggghhhh, eeergggggg"


Bersambung...


*


*


*


Like, Koment, dan Vote


Happy reading** !!!