Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Drama romantis macam apa ini ?


"Mas." Sri menggeliat kala Dareen tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Mas, Fahira udah bangun itu di ayunan," Sri mencoba menyingkirkan tangan Dareen, namun Dareen tetap tidak bergeming. "Mas, Fahira." Sri sedikit menekankan ucapannya.


"Hemm" tanggap Dareen, pelan ia melepaskan Sri.


Sri langsung saja menuju Fahira, bayi mungil itu sudah jadwalnya bangun saat subuh begini, lalu Sri membuatkan susu untuk Fahira,setelahnya ia mandi lagi untuk menunaikan ibadah sholat subuh.


Malam ini tidak disangka ia akan mandi dua kali, ternyata begini rasanya menjadi seorang istri yang seutuhnya.


Sri membangunkan Dareen yang nampak masih pulas, biasanya suaminya itu selalu tepat waktu bangun saat subuh, bahkan biasanya sering kali Dareen yang membangunkannya, namun kali ini mungkin suaminya itu masih letih karena malam pertama mereka tadi, ah malam pertama, Sri teringat lagi akan kegilaannya yang memulai terlebih dahulu semua itu.


Dengan malas sembari menyunggingkan senyumnya Dareen bangun menuju kamar mandi, baginya sebuah kewajiban tetaplah kewajiban.


Lalu mereka berdua pun sholat subuh berjamaah, dalam doanya baik Sri maupun Dareen begitu bahagia, berterima kasih pada sang Khaliq yang telah mempersatukan mereka, Sri bersyukur memiliki Dareen begitu pun Dareen yang sangat bersyukur memiliki Sri.


Pagi menjelang, seperti biasa Shirleen larut dalam aktivitas paginya, Ipah juga sudah sampai dirumahnya seperti yang sudah terjadwal tidak pernah telat sedikitpun.


"Nona, kemarin non Misca menangis lagi merindukan Ayahnya, Non Misca bilang Ayahnya sedang berada di rumah sakit, alangkah lebih baiknya kalau non Misca dipertemukan dengan Ayahnya." ucap Ipah di sela-sela kegiatannya membantu Shirleen mempersiapkan sarapan.


Shirleen menghentikan kegiatannya, ia berpikir apakah ia terlalu penurut dengan Jason hingga ia tidak bisa mempertemukan Misca dengan Ayahnya, kemarin sebenarnya Jason sudah mempertemukan Misca dengan Ayahnya, apa iya dirinya harus meminta izin lagi.


"Nona, maaf jika saya sudah lancang, saya tidak bermaksud..." ucap Ipah menyesali perkataannya, ia takut nona mudanya itu menjadi bingung menghadapi pengakuannya tadi, walau pada kenyataannya Shirleen memang sedang dilanda kebingungan saat ini.


"Tidak apa Ipah, nanti aku akan bicara pada Jason bagaimana baiknya." ucap Shirleen.


"Iya Nona, memang sebaiknya begitu, kasihan Non Misca."


"Sudah, kau tata ini di meja makan, aku akan menggoreng kerupuk ini sebentar." suruh Shirleen pada Ipah.


Ipah pun menurut, setelah selesai ia menjalankan tugasnya seperti biasa, pergi ke kamar Misca untuk melihat keadaan anak asuhnya itu, biasanya jam segini Misca masih pulas tertidur.


Shirleen menyelesaikan masaknya, ia memperhatikan menu di meja makan apakah masih ada kekurangan atau tidak, setelah dipastikan tidak ia lalu menuju kamarnya untuk melihat Jason, entah sudah bangun atau belum suaminya itu, karena dilihat dari cara Jason tidur semalam, Jason sungguh sangat keletihan nampaknya.


Benar saja, suaminya itu masih bergelung dibawah selimut, bahkan Jacob saja belum bangun mengikuti Papanya.


"By, tumben belum bangun jam segini ?" tanya Shirleen pada yang masih memejamkan mata.


"Cup," Shirleen mengecup singkat bibir suaminya "Morning kiss." ucapnya.


Jason langsung saja terbangun, ia benar-benar tidur pulas tadi, hingga tidak menyadari Shirleen sudah berada di dekatnya.


"By..." ucap Jason dengan masih mengumpulkan nyawanya.


"Kenapa kok kaget gitu ?" tanya Shirleen.


"Aku dicium tante-tante." ucap Jason dengan sok keterkejutannya, ekspresi wajahnya nampak dibuat seperti kebingungan akan apa yang baru saja terjadi padanya.


"Apa kamu bilang, oh berani ya..." Shirleen langsung saja mencubiti tubuh Jason, kurang ajar sekali suaminya ini pikirnya.


"Ampun By, ampun By," Jason berusaha bangkit dari tempat tidurnya, menghindari serangan maut istrinya itu, jangan salah, lumayan sakit jika kena. "Aduh By, aduh." keluhnya.


"Berani banget kamu bilang gitu." ucap Shirleen tidak terima, kalau dirinya tante-tante kenapa dinikahi, dasar suami nggak ada akhlak pikir Shirleen.


"Aduh, aduh, udah By, aku itu mimpi By tadi." ucap Jason memelas, membuat Shirleen menghentikan cubitan mautnya.


"Mimpi apa ? Mimpi gimana maksudnya ?" tanya Shirleen dengan nafas yang masih naik turun siap untuk memberikan serangan lagi kalau saja Jason masih menjawab yang tidak-tidak.


"Iihh, dasar kamu, jadi kamu nggak terima nikah sama aku ?" keluh Shirleen, ia sudah menghentikan cubitannya namun bibirnya kini sudah mengerucut menandakan ia sedang kesal.


"Ya terima dong, biar tante juga istriku ini." rayu Jason lagi, matanya mengerling genit pada Shirleen.


"Istri istri, tadi katanya tante-tante, jangan gitu dong By, aku kan jadi minder, kamu masih muda gini aku udah tua bentar lagi keriput, kamu kalau ngomong suka bener emang, tapi aku kan juga punya perasaan." Entah kenapa rasanya Shirleen sedikit tersindir kala Jason menyebutnya dengan sebutan tante-tante.


"Iya iya aku minta maaf, lagian aku gemes aja tau, kamu tiba-tiba kasih morning kiss gitu." ucap Jason.


"Ya kenapa emangnya, gak boleh ?" tanya Shirleen ketus, sungguh ia masih kesal.


Jason merengkuh istrinya itu, ia duduk di sofa, membawa Shirleen kepangkuannya dengan posisi saling berhadapan.


"Apapun keadaan kamu, sekarang atau nanti, aku tetap memilih kamu, By aku mencintaimu," Jason lalu mencium mesra bibir istrinya itu, melu*atnya sebentar "Morning kiss !" ucapnya kemudian.


"Aku juga By !" balas Shirleen, sebuah senyuman terbit di bibirnya, begitu mudahnya menyenangkan suasana hati Shirleen.


Jason kembali memeluk istrinya itu, dilihatnya Shirleen masih sangat cantik, iya sungguh sangat cantik.


Aku mencintaimu Shirleen Damla Julian, selamanya, menualah bersamaku...


Kemudian terjadilah drama saling tatap, ah sungguh romantisnya di pagi hari begini, apa lagi saat ini kebetulan Shirleen dan Jason sedang memakai piyama couple dengan warna merah maroon polos, tolong ambil foto mereka berdua, siapa yang akan mengabadikan moment ini, untuk endorse misalnya.


"Eheek ehekk... Eheekk" suara tangis Jacob membuyarkan drama romantis di pagi hari tersebut.


Jason spontan menoleh, ia begitu terkejut kala melihat Jacob yang sudah berhasil merangkak di box bayi, sejak kapan bayinya bisa begitu pikirnya.


"Bughh" sesuatu yang lumayan berat jatuh juga didekatnya, sedetik kemudian Jason lebih terkejut lagi kala melihat benda apa yang jatuh ke bawah.


"Aduuhh"


"By..."


Ucap keduanya bersamaan, Jason meneguk salivanya kelat, setelah ini mungkin bukan lagi drama romantis, namun bisa jadi perang dunia antara ia dan Mak lampir, si Lampir pasti akan mulai meledakkan meriamnya sebentar lagi.


Sebelum itu terjadi, Jason dengan cepat melihat situasi dan kondisi sekitar, bak ibarat kata begitu banyak jalan menuju roma, maka segeralah ia menghindar dengan cepat menuju kamar mandi, benar saja bahkan di detik ketiga suara istrinya itu sudah menggema meneriaki namanya, tidak ada lagi embel-embel By apalagi suamiku, jangan terlalu berharap.


"Jasoooonn, sialan pantat aku." Shirleen masih memegangi pantatnya yang mendarat tidak mulus dilantai. "Dasar suami durhakim bukannya bantuin malah pergi." omel Shirleen.


Tidak ada sahutan, hanya ada gemercik air yang menandakan bahwa orang didalamnya tengah mandi yang bersih.


"Jason sialan, hiks hiks dasar bocah." umpat Shirleen.


Shirleen berusaha bangkit meski masih terasa sakit di bokongnya, entah bagaimana kejadian yang sebenarnya, semua berlalu begitu cepat, ia tidak sempat memprediksi akan jatuh dimana supaya tidak sakit, perasaan baru saja ia berpelukan mesra sambil kakinya menyilang di pinggang Jason lalu kedua tangannya mengalung dileher suaminya, namun sayangnya seperdetik kemudian bokongnya malah sudah mendarat hebat dilantai.


Aaahh, dasar Jason, drama romantis macam apa ini ?


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!