
Jason masih betah mendiamkan dirinya, ia bukannya menyesal telah melakukan semua itu pada Roy, ia hanya tidak bisa membayangkan bagaimana psikis Shirleen saat kekasihnya itu melihatnya hampir membunuh Roy, itu pasti akan menjadi kenangan terburuk selama hidup Shirleen.
Ia mengambil jaketnya, berjalan kearah pintu keluar meninggalkan Roy sendirian di ruangan bawah tanah itu, ia sudah tidak perduli pada penghianatan Roy, yang terpenting baginya kini adalah kekasihnya.
Yah benar, ia akan menyusul Shirleen ke apartemennya, ia ingin meminta maaf kalau perlu ia akan berlutut untuk mengambil hati kekasihnya itu, entahlah untuk urusan menyesal dan meninggalkan dunianya ia masih akan pikirkan lagi. Butuh banyak pertimbangan untuk meninggalkan dunia yang telah menjadi hidupnya itu.
Dua puluh menit berlalu, ia sudah sampai di apartemennya, kosong, kemana Shirleen.
Ia mencari di seluruh penjuru ruangan, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Pelan ia membuka lemari pakaian Shirleen, hatinya teriris manakala mendapati tidak satupun pakaian Shirleen tersimpan dilemari.
Baru saja paling lama tiga puluh menit berlalu, Shirleen sudah meninggalkannya.
Ia mengecek cctv di ponselnya, ia menggeram saat ternyata Shirleen mempunyai alasan kuat dibalik kepergiannya.
Ia keluar dan melajukan mobilnya ke rumah keluarga Adrian.
Tidak butuh lama, mobil mewahnya sudah sampai di halaman rumah keluarganya.
Buugghhh Bugghhh Bugghhh
Jason memukuli Papanya membabi buta, aura kemarahan jelas terpancar dimatanya.
Mama Mila berteriak histeris menyaksikan pertengkaran ayah dan anak dihadapannya itu.
Ia dengan cepat berteriak menyuruh para pekerja laki-laki dirumahnya untuk memisahkan keduanya.
Namun itu semua tidak berarti, Jason terlalu kuat dan tak terkalahkan, andai saja ia membawa senjata saat ini mungkin sang papa juga akan mati terbunuh saat itu juga.
Jason seolah tuli, Mama Mila terus memanggil namanya untuk menghentikan penyerangan brutal yang dilakukannya, namun sekali lagi nama Shirleen, tangis Shirleen, cara Shirleen yang menyebutnya pembunuh, Shirleen yang melihat kebejatannya tadi terus berdengung memenuhi telinganya, sehingga hanya ada kebencian yang ia pancarkan pada papanya.
Bahkan para satpam, pengawal, dan beberapa pekerja laki-laki dirumah itu nampak babak belur dan mengalami patah tulang karena berusaha melerainya.
Satu hal yang Pak Adrian lupa sebelum ia berniat melawan Jason, Jason bukanlah orang sembarangan, tanpa sepengetahuan Papanya Jason telah tumbuh dengan bekal ilmu bela diri yang tak terkalahkan. Hingga dalam sekejap tubuh pria paruh baya itu sudah terkapar tidak berdaya.
"Jangan ikut campur masalah gue dan Shirleen, lo tau apa tentang hidup gue, yang lo tau hanya bisnis, bisnis, pewaris, harta, kekayaan, itu yang lo ajarin selama gue hidup, apapun yang gue keluh kesahkan selama ini tidak sedikitpun lo berniat mengetahui" Jason marah, ia bahkan meneriaki papanya itu.
"Nak, Jason sayang... jangan seperti ini" Mama Mila mencoba meredam amarah putranya, ia tau pasti masih ada sisi baik dari putranya yang bak iblis dimatanya kali ini.
"Gue diam saja, gue diam saja selama ini karena bentuk bakti gue terhadap orang tua, lihatlah Ma lihat pria itu" Jason menunjuk Papanya, kini alasan mengapa ia selalu bersikap dingin pada papanya terungkap sudah.
"Bayangkan saja pria itu begitu sehat waktu itu saat gue berumur delapan tahun, bukankah hari ini juga ia masih terlihat sehat, kenapa harus memberi gue bekal dengan umur gue yang seharusnya masih bisa gue nikmati"
Mama Mila menangis, sungguh ia tidak pernah membayangkan ternyata akan seberat ini perasaan yang ditanggung putranya bertahun-tahun. Buah dari didikan mereka, untuk urusan bisnis Papanya memang telah melatihnya dari Jason berumur delapan tahun, ia lupa waktu itu Jason bahkan harus berpisah dari Dareen anak tetangga mereka yang selalu menjadi teman putranya bermain saat itu.
Pak Adrian tidak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya penuh darah, Jason sangat kuat memukulinya.
Inilah yang Mama Mila takutkan, ia sudah berusaha membujuk suaminya agar jangan membuat putranya marah, namun Pak Adrian seolah abai, karena ia belum pernah melihat kemarahan yang teramat oleh Jason selama ini.
"Dimana Shirleen ?" tanyanya.
"DIMANA SHIRLEEN..."
Namun tidak ada jawaban dari Pak adrian, ia masih teguh pada pendiriannya, ia tetap harus merubah putranya walaupun ia harus mati dipukuli.
Karena baginya mungkin dengan kehilangan Shirleen, Jason bisa melihat betapa banyak keluarga yang kehilangan orang tersayang mereka karena ulahnya. Begitu banyak nyawa yang hilang karena permainan gilanya. Pak Adrian masih berharap putranya akan kembali ke jalan yang benar.
"Tidak akan Papa katakan, walaupun Papa harus mati ditanganmu Jason"
"Aaarrrrrggghhh" Jason mulai mengamuk, ia tidak bisa membunuh Papanya, walau benci namun percayalah sekaligus ia juga sangat menyayangi Papanya itu.
"Gue tanya sekali lagi, dimana Shirleen ?"
Tidak ada jawaban, membuat Jason mengepalkan tangannya dan bugh, buggh, bugh, bogem mentah kembali mendarat di wajah papanya.
"Jassonn, sudah nak, sudah" Mama Mila menahan anaknya sambil menangis, beruntung saat ini ia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.
Jason menoleh kearah Mamanya.
"Mama pasti tau, aku tanya baik-baik, dimana Shirleen ?" sebuah pertanyaan yang akan membuat perang batin Mama Mila.
Bersambung...
Like, koment, gift, dan vote.