
Semua ini gara-gara Ibu, kalaubsaja Ibu tidak mempunyai dendam, mungkin aku dan Shirleen adalah pasangan yang sangat bahagia saat ini.
Ibumu hanya korban, ia juga pasti kesakitan.
Bahkan setelah ayahmu meninggal, ibumu mengutuk istriku, dan berjanji akan membenci nama Aleyna di seumur hidupnya.
Athar masih termenung di tempat tadi, Pak Haris sudah kembali bergabung pada para tamu yang datang dari berbagai kalangan.
Ia memikirkan apa yang ia bicarakan tadi dengan mantan mertuanya, jika seperti ini kenyataannya malah membuatnya semakin membenci ibunya, namun ia juga tidak bisa, dari kecil ia tidak diajarkan seperti itu, ia selalu menghormati orang tua.
"Ayah..." Panggil Misca, ia bersama Maidnya menemui sang ayah setelah diberi tahu oleh Pak Haris bahwa ayahnya juga hadir disini.
"Sayangnya Ayah, Ayah tadi cari kamu, tapi nggak ketemu, abis luas dan rame gini" ucap Athar, ia segera menggendong gadis kecilnya itu.
"Ayah ayo kita ke Bunda, sama Papa juga" pinta Misca.
"Eeh" bingung Athar.
Apa iya, dirinya harus kesana menemui bahkan bersalaman dengan pasangan paling fenomenal itu.
Yudha sedang dilanda kebingungan, pasalnya ia tidak pernah melihat Weni sama sekali sedari tadi, padahal sudah ia taksir bahwa hari ini ia akan bertemu Weni lagi, karena Weni adalah sahabatnya Shirleen, bahkan menurut pengamatannya pasti mereka sahabat dekat.
Apa iya, sahabat dekat tidak datang di acara penting sahabat dekatnya.
"Ngapain lo cebong ?" tanya Afik.
"Nyari duit ilang ?" sambung Angga lagi asal menebak.
"Wah bener, berapa yang ilang ?" Afik sudah menganggap serius ucapan Angga.
Yudha tidak berniat menanggapi, ia terus saja memperhatikan sekeliling, lalu pergi kesana kemari, di tempat seluas ini mungkin saja Weni berada di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau mudah dengan mata.
"Woy nyari duit itu kebawah arah matanya, ini kok muter-muter" protes Angga.
"Brisik lo" umpat Yudha.
"Yeee ini juga emang udah bising dari tadi kali, bukan karena suara gue doang" ucap Angga tidak terima.
Yudha masih saja gelisah, mau bertanya pada Shirleen namun istri sahabatnya itu sedang bersanding, mana mungkin ia senekat itu.
"Maaf maaf" ucap Yudha saat tubuhnya menabrak seseorang, membuat apa yang orang itu bawa menjadi jatuh berserakan.
"Tidak apa, tapi seharusnya kamu tidak terburu-buru seperti ini, disini sangat ramai banyak orang berlalu lalang, pelankan langkahmu" ucap Dokter Eri, ia ingin memberikan obat untuk sahabat Shirleen yang katanya sedang istirahat di kamar sepupunya itu, karena tadi Jason memerintahkannya.
"Ayo Sus" ajaknya pada suster yang mengekorinya.
Yudha memelankan langkahnya, namun matanya masih tetap memantau sekeliling.
"Lo ngapain sih ?" tanya Angga lagi.
"Bilang kek apa yang dicari, kali aja kita bisa bantu" sambung Afik.
"Udah lo sono, gue bisa cari sendiri" usir Yudha.
"Heemm romannya ini, saya membau bau ehh baunya seperti kebucinan yang hakiki" sindir Angga yang menirukan salah satu sang indigo terkenal di dunia pertelevisian, ia sekilas memang mengintip kejadian di cafe kemarin, Yudha dan wanita bernama Weni itu kalau tidak salah pernah nenyebut nama Shirleen, mungkinkah apa yang tengah Yudha cari saat ini adalah Wanita yang kemarin.
"Maksud lo apaan ?" tanya Afik yang nampak ketinggalan informasi.
"Beh gue lupa cerita sama lo, wah parah itu si cebong kemaren main peluk-peluk anak orang tau nggak lo" biang gosip sudah mulai bicara, bagai topik hangat terkini, Afik malah sudah mengajak Angga duduk untuk menyimak lebih lanjut.
Yudha hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir akan kelakuan duo A tersebut.
Weni sedang memainkan ponselnya, dia sangat bosan sendirian berada di kamar Shirleen, ia ingin keluar tapi sungguh takut bertemu dengan Yudha.
Tok tok tok, suara pintu diketuk, Weni menatap heran kearah pintu, siapa gerangan yang akan menuju kamar Shirleen, ah mungkin saja Ipah pikirnya.
"Ca cari siapa ya" tanya Weni, bodohnya justru pertanyaan semacam itu yang keluar dari mulutnya.
"Apa anda yang bernama Weni ?" tanya dokter Eri.
"Ii iya, saya" ragu Weni.
"Apa kita akan berbicara didepan pintu seperti ini ?" tanya dokter Eri "Sus, tolong nanti kamu periksa ya" perintahnya pada susternya.
Weni mencondongkan sedikit kepalanya, ah iya benar ternyata ada orang lain, mengapa tadi perasaan hanya ada laki-laki dihadapannya ini, apa tadi dia sedang terpesona.
"Ah iya silahkan masuk" ucap ramah Weni, namun masih dengan setengah kecanggungan.
Suster pun mulai memeriksa tubuhnya, ia yang tadinya tidak demam sama sekali malah berhasil menjadi seperti orang demam dihadapkan dengan dokter Eri.
Postur tubuh, penampilannya mirip seperti Athar, kenapa ia tidak menemukan yang seperti ini saat ia belum kecewa dengan Athar pikirnya.
"Kenapa anda melihat saya seperti itu, apa ada sesuatu di wajah saya ?" tanya dokter Eri.
"Ah tidak, bukan begitu, emm saya seperti pernah melihat anda" dusta Weni, sebuah alasan yang masuk akal, untung hari ini ia tidak kena sindrom telat mikirnya.
"Oohh, saya bekerja di rumah sakit milik keluarga Adrian, jika anda pernah kesana tentu saja mungkin anda pernah melihat saya" ucap Dokter Eri ramah.
"Heemm ya ya, mungkin juga" ucap Weni mengangguk seolah membenarkan.
"Sudah Sus ?" tanya dokter Eri.
"Sudah dok, eem nona ini tidak apa-apa, ia mungkin hanya kelelahan saja, perbanyak minum air putih mungkin bisa membantu memulihkan kesehatan anda nona" ucap suster tersebut.
"Ii iya Sus" Weni tampak semakin lancar berbohong, sudah resiko, ini semua gara-gara Yudha.
Dokter Eri tampak mengecek obat apa yang akan diberikan pada pasien mendadaknya itu, dasar, ia kan kesini tadi untuk kondangan eh siapa sangka malah dapat bonus kerjaan.
"Eemm Weni" ucap Weni memberanikan diri untuk memulai perkenalan, untung saja ia belum mengulurkan tangannya.
"Hah, maksudnya ?"
Ah Weni, begitu malunya ia saat baru pertama kalinya mengajak pria berkenalan, namun malah kata seperti itu yang ia dapatkan sebagai jawaban.
Weni memalingkan wajahnya, sungguh demi Tuhan ia sangat malu.
Dokter Eri dan susternya saling pandang, kemudian suster tersebut berbisik pelan didekatnya.
Dokter Eri mengerti, tadinya ia memang mendengar wanita dihadapannya ini seperti mengajaknya berkenalan, namun karena ia belum yakin mengingat hal seperti itu tidak pernah ia alami, jadinya ia malah menanyakan apa maksudnya lagi untuk lebih jelasnya.
"Saya Eri, senang berkenalan dengan anda" ucap dokter Eri kemudian.
Weni menoleh, setelah rasa malu, lalu ini rasa apa lagi.
"Eehh" ucapnya hanya bisa mengatakan itu, sebagai tanda ketidak siapannya.
"Iya saya Eri, bukankah tadi anda mengajak saya berkenalan ?" jelas dokter Eri lagi.
"Eem ii iya, saya Weni"
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!