Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Pertunangan Yudha dan Weni.


Tiga hari sudah berlalu.


Di rumah Weni,


Semua orang tampak bahagia tidak terkecuali dua anak manusia yang memang tengah dilanda cinta.


Yudha dan Weni akan melangsungkan pertunangan malam ini, kerabat dekat mulai berdatangan, apa lagi dari pihak wanita yang terlihat nampak sangat antusias, keluarga Weni memang sudah lama menantikan keponakan mereka itu untuk segera menikah, sayang sekali hari ini baru saja akan dilangsungkan pertunangan, dan untuk menikah mungkin akan diadakan beberapa tahun kemudian, mereka harus menunggu sedikit lama lagi.


"Kau cantik hari ini !" ucap Yudha, matanya menatap lekat wanita pujaan hatinya.


"Gombal !" sanggah Weni.


"Dan aku suka !" lanjut Yudha.


"Dih apaan sih ?" Weni merasakan panas di wajahnya yang memang nampak sudah memerah bak tomat.


"Kau lain sekali !" ucap Yudha lagi.


"Hah maksudnya ?" bingung Weni, kalau seperti ini ia bagaikan abege yang baru mengenal cinta saja, eh emang dia baru mengenal cinta sih cuma dianya aja yang abege kadaluarsa.


"Dan aku suka !"


"Eh," Weni seperti familiar akan yang baru saja Yudha ucapkan.


"Tak kan kubiarkan lagi kau menghilang dari kehidupanku, oh yeaa." Yudha sedikit tertawa karena berhasil menggoda Weni.


"Iihh, apaan sih kamu." Weni memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup bertatap muka dengan Yudha.


"Ya aku cuma bacain lirik lagu, kamu kira apaan." ucap Yudha santai.


"Bacain lirik lagu, dasar aneh !" umpat Weni.


"Ya apanya yang aneh coba ?" tanya Yudha.


"Udah ah, tuh orang udah pada kumpul, sana kamu bentar lagi pasti dipanggil." ucap Weni.


"Iyaaa iyaa, aku ke sana dulu yaaa calon istri !" ucap Yudha yang mulai menggoda Weni lagi.


Weni menunduk menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah, ah calon istri ! Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau dirinya akan bertunangan dengan Yudha, laki-laki yang sempat di katainya cowok gila saat dipertemuan pertama mereka.


Dasar berondong ngeselin...


"Nah gitu dong, dari tadi dicariin baru nongol juga, berduaan mulu lo !" ucap Afik menyindir Yudha yang nampak baru terlihat keberadaanya, karena sejak tadi mereka datang si cebong mereka itu pasti tengah berduaan dengan si pacar barunya.


"Jason mana ?" tanya Yudha yang lebih memilih menanyakan keberadaan Jason dari pada menanggapi sindiran kedua sahabatnya.


"Tadi sih kata bininya mereka datangnya agak telat, soalnya Jason kebo banget, dibangunin malah tidur lagi kata kak Shirleen." terang Afik.


"Tumbenan ?" heran Yudha.


"Tau tuh anak setan !" sambung Angga.


"Yud, nanti kamu sama Kak Dimas, Om yang bakalan manggil kalian, kamu udah hapal apa yang bakalan di ucapin ?" tanya Om Radit pada keponakannya itu.


"InsyaAllah sudah Om !" ucap Yudha.


"Papamu pasti bangga, kamu sudah berani mengambil keputusan seserius ini, jangan mengecewakan Papamu di sana, jangan mengecewakan Mamamu, kamu adalah satu-satunya harapan baginya." ucap Om Radit pada Yudha sembari memegang pundak keponakannya, sebenarnya ia bisa melihat sosok abangnya ada pada diri Yudha, kalau sudah mencintai tidak akan pernah gentar dan akan terus bertahan selagi nafas berhembus.


Satu tugasku sudah dimulai Bang...


"Pasti Om !" yakin Yudha.


"Kok gue jadi melo ya !" ucap Angga, ia terharu, saat Jason menikah mereka semua tidak ada yang tau, terkejut saat suatu malam mendapatkan kabar bahwa satu sahabat mereka sudah sold out, jadi mereka tidak bisa menghayati setiap prosesnya seperti Yudha saat ini, yang saat baru tunangan begini saja rasanya sudah menelan haru.


"Sama Ga, si Junedi mana sih, gue mau nangis nih, gak mau bareng dia ?" sambung Afik.


"Gue sedih Fik !" ucap Angga.


"Sama !" timbal Afik.


"Kalian sedih karena gue mau tunangan, santai aja kali." hibur Yudha, kadang kelakuan dua A memang suka ada-ada saja.


"Iya !"


"Bukan !"


Ucap Angga dan Afik bersamaan, namun dengan jawaban yang berbeda.


"Lho, lo bukan sedih karena si cebong mau tunangan ?" tanya Angga pada Afik yang tadi menjawab bukan.


"Bukan !" Afik mengusap air matanya yang sedikit menetes. "Ya meski itu juga salah satunya sih, tapi ada yang lebih bikin gue sedih tau nggak lo !"


"Lha apa ? Lo jangan gak solid lo !" tanya Angga mengintimidasi.


"Gue lebih sedih mikirin nasib kita ege, nih dua anak setan milih kewong muda, lah kita kapan ? Punya pacar aja kagak !" ungkap Afik tentang kegundahannya.


"Cebong cuma tunangan, belum kawin, lagian perjalanan kita masih panjang, biarkan kita mengembara, berkelana mengikuti kemana angin berhembus, siapa tau ada yang butuh angin segar seperti kita, ya udah kita singgah aja nanti !" ucap Angga garing.


"Paan sih lo, nggak nyambung banget ege !" kesal Afik.


"Udah santai aja, buat Angga tanyain itu si Shakira Shakira lo itu sama Junedi, udah punya pacar belum..." ucap Yudha namun segera dipotong oleh Angga.


"Nah iya, kok gue lupa ya sama tuh wanita cantik, bener nih gue musti dapetin tuh Shakira." optimis Angga penuh semangat.


"Pepetlah jangan kasih kolor, gue doain !" dukung Yudha.


"Lah gue sama siape ?" tanya Afik dengan penuh keputusasaan.


"Tanya ntar sama kak Shirleen, kemaren kan lo udah ngincer itu sodara nya Kak Shirleen yang dari Turki, udah lo ajak kenalan juga, siapa namanya Zaine apa Zenap gitu kalau gue gak salah, nah lo udah chat belum ?" tanya Angga, seolah tak ingin melihat Afik bersedih, dan juga Afik memang pernah mengajak kenalan salah satu saudara Shirleen asal Turki waktu di resepsi nikahan Jason, cuma pendekatannya nampak terkendala bahasa yang naudzubillah gak nyambung, mana bahasa Inggrisnya Afik pas masih sekolah suka remidi.


"Zaine, namanya Zaine, tapi jujur gue malu kalau sama sekelas Zaine !" ungkap Afik, padahal yang sebenarnya ia tidak bisa mengimbangi Zaine, otaknya yang baru saja santai sehabis diperas oleh pelajaran semasa sekolah rasanya belum mampu untuk berpura-pura menjadi orang yang pandai, nanti deh dia pikirkan lagi untuk mengambil kelas bahasa Turki atau setidaknya bahasa Inggris sebagai langkah awal pedekate dengan Zaine.


"Dah nanti lo pasti dapet juga jodoh terbaik, belum saatnya Men perjalanan masih panjang !" ucap Angga sembari menaik turunkan alisnya, bayang Shakira sudah memenuhi isi kepalanya, ah wanita cantik I'am coming !!!


"Lah noh Junedi sama bininya ! Kok lesu pula itu pengantin basi." ucap Angga lagi menunjuk Jason dan Shirleen yang tengah berjalan mendekati mereka, tidak membawa pasukan ternyata mereka karena hanya ada pasangan suami istri itu saja.


"Heh ngapain tu muka kusut kek baju belum setrikaan, temen tunangan bukannya malah seneng." sindir Afik.


"Nggak tau gue, bawaannya ngantuk mulu !" jawab Jason.


"Kurang-kurangin begadang Junedi, anak masih bayi juga, jaga jarak dikit napa jan rapat-rapat !" sindir Angga.


"Sialan lo !" umpat Jason tidak terima, bahkan tiga hari ini saja Jekinya belum pernah masuk sarang, Jason kalau malam langsung tidur tidak sempat beryuhu ria.


Dan Shirleen, sungguh saat ini ia sedang menahan malu, Afik dan Angga kadang memang suka berucap seenak jidat.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...