Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Pulangnya Shirleen


"Sudah kau urus apa yang aku minta semalam ?"


^^^"Sudah Tuan Muda"^^^


"Baiklah, buatkan juga surat izinku, aku tidak akan masuk sekolah hari ini, setelah semuanya selesai aku akan langsung ke kantor"


^^^"Baik Tuan Muda"^^^


Jason menghubungi Roy dikamar Shirleen, sementara Shirleen masih membuatkan sarapan didapur.


Hari ini ia akan mengantarkan Shirleen kerumah orang tuanya, kerumah keluarga Julian.


Jason telah selesai mandi dan berganti pakaian santai, ia akan sarapan terlebih dahulu bersama kekasih dan princessnya itu, lalu setelahnya mereka akan pergi kerumah orang tua Shirleen.


Di kediaman keluarga Julian, terlihat Sekar dan beberapa pekerja lainnya sedang sibuk membantu majikan mereka menyiapkan berbagai makanan serta kebersihan rumah, baru tadi pagi-pagi sekali Pak Haris menerima telpon dari asisten pribadi Tuan Muda keluarga Adrian, asisten pribadi itu mengatakan bahwa Tuan Muda Jason ingin mengunjungi kediamannya.


Pak Haris terkejut dan juga senang, dari berbagai perusahaan yang bekerja sama dengan CEO ARAD Group itu, mungkin hanya dirinyalah yang sangat beruntung rumahnya bisa dikunjungi Tuan Muda Jason Ares Adrian.


Itu adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya, ia langsung menyuruh istri dan pembantunya berkemas, sampai ia lupa memikirkan mengapa CEO ARAD Group yang terkenal tidak suka disentuh hidupnya itu mau berkunjung secara pribadi kerumahnya.


Segala kebersihan rumah, dan sajian makanan semuanya kini sudah nampak sempurna.


Keluarga Julian tinggal menunggu kedatangan Tamu terhormat mereka saja.


Mereka duduk dengan perasaan senang namun tegang, kedua suami istri itu tak hentinya berdoa agar kunjungan tamu terhormat dirumahnya berjalan lancar.


Tibalah sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah keluarga Julian. Namun anehnya kunjungan ini sangat sederhana, bahkan hanya dengan satu mobil saja.


Pak Haris dan Bu Nena keluar mendekati tamu terhormat mereka, keduanya ingin menyambut kedatangan Tuan Muda itu.


Jason turun dari dalam mobilnya hanya mengenakan pakaian santai, dan itu sukses membuat yang punya rumah melongo tidak percaya dengan yang mereka lihat, apakah ini adalah kunjungan bisnis, kenapa Tuan Muda Jason nampak santai saja. Batin keduanya.


Jason membukakan pintu belakang, ia lalu menggendong Misca keluar, kemudian ia membukakan pintu depan untuk kekasihnya, nampak Shirleen keluar dari mobil dengan muka yang tertunduk malu.


Pak Haris dan Bu Nena tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, setelah enam tahun ia bisa melihat putrinya lagi. Putri yang sangat mereka rindukan.


Mama Nena langsung memeluk putri satu-satunya itu, ia menangis haru, begitupun suaminya. Rindu yang memuncak serasa luruh begitu saja.


Shirleen yang melihat Papa dan Mamanya menangis pun semangkin merasa bersalah dan menyesal.


Ia sungguh telah menyakiti hati kedua orang tuanya, dan lagi masih sempat menyiksa mereka dengan menahan rindu seperti ini. Lihatlah betapa orang tuanya sangat merindukannya, air mata itu... ia sesak melihatnya.


Shirleen lalu membungkuk ingin bersujud dikaki Mamanya, ia ingin meminta ampun atas semua yang ia lakukan, ia menyesal, dan ia ingin mengakui bahwa ia telah salah.


"Ilen, anak Mama" Mama Nena berucap dengan deraian air mata.


"Maa Maamaaa" dengan terbata karena tangis Shirleen memanggil mamanya.


"Ini mama sayang, mamanya Ilen, Ilen anak mama" ucap Mama Nena lagi.


Ia mencium seluruh wajah mamanya itu, ia sangat rindu.


Mama Nenala memeluk erat Shirleen seolah-olah takut Shirleen akan pergi lagi. Namun ia tersadar karena pelukannya seperti mengganjal, diliriknya perut Shirleen yang sudah agak membuncit.


Namun ia menahan diri untuk bertanya, ia tidak ingin momen haru ini terlewatkan.


Shirleen beralih ke Papanya, ia kini memeluk kaki papanya meminta ampun atas kesalahannya. Ia menangis tersedu sambil terus berucap maaf.


Pak Haris membiarkannya, ia tau hanya dengan begitu Shirleen akan merasa dirinya diampuni.


Lalu Pak Haris mengangkat tubuh anak semata wayangnya itu untuk sejajar menghadapnya, memeluknya dengan sangat haru, ia menghapus air mata yang menghiasi pipi anaknya itu.


Dengan lirih ia berkata "gadis kecilku, kau tetaplah gadis kecilku seperti enam tahun lalu"


"Jangan pernah larut dalam rasa bersalahmu sayangku, akulah cinta pertamamu dan akan selamanya begitu" Pak Haris menarik hidung mancung anaknya itu, menghapus air matanya, dan mencium keningnya.


Rindunya terbayar tunai hari ini, anaknya telah kembali.


Shirleen hanya bisa menangis dan terus menangis, rasanya meminta ampun pun belum cukup untuk menebus segala dosanya.


"Apa aku akan terus berdiri disini ?" Ucap Jason sambil menggendong Misca.


Namun mahluk tuhan yang kakinya sudah pegel berdiri itu seenaknya saja merusak momen haru anak dan orang tua itu.


Bersambung...


*


*


*


***Hai Readers, selamat membaca dan semoga kalian suka dengan ceritanya.


Author minta dukungan like, koment, kasih hadiah dan vote yah... Jangan lupa*** !!!