Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kapan aku menyuruhmu begitu ?


"Aku tidak ingin melakukannya, kau saja." ucap Jason pada Ben.


"Bos yakin?" tanya Ben.


"Aku sudah janji pada istriku, lakukan saja apapun yang kau mau, aku cukup melihat semuanya."


Ya itu sama saja Bos, otak dari segalanya kan memang darimu meski kau tidak melakukannya dengan tanganmu, memangnya kau pikir dengan begitu kau bisa lepas dari dosa sementara aku tidak.


Dengan dalih janji, ada-ada saja.


"Kau memikirkan apa hah?" bentak Jason.


"Tidak apa, aku hanya memikirkan cara yang baik untuk menyiksanya." ucap Ben cepat.


"Kau yakin tidak sedang mengumpatiku?"


Ben meneguk salivanya kelat, astagah sudahlah ia lupa bahwa Bosnya ini bisa membaca pikiran orang.


"Bicara yang benar, mana ada penyiksaan yang baik, dasar bodoh." ucap Jason lagi


"Ii Iya Bos?" gugup Ben.


"Kau gugup? Haisss, kalau ingin menggorok lehernya aku sarankan jangan memakai pedang yang tumpul."


"Apa Bos, apa aku perlu menggorok lehernya." tanya Ben lagi.


"Bodoh dasar bodoh, begitu saja tidak tau. Kemana saja kau selama ini?" dengus Jason.


"Baik, akan aku lakukan sepenuh hati, aku berjanji tidak akan mengecewakan Bos." ucap Ben lantang.


"Kau tau tidak apa maksudku tadi?" tanya Jason. Kalau sampai Ben salah menjawab lagi, nampaknya Ben yang harus segera diberi pelajaran.


"Ya itu, aku harus menggorok lehernya kan." ucap Ben, tidak yakin namun hanya jawaban itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.


"Bugh..." sebuah tendangan tepat mendarat di dada Ben, membuat ia meringis menahan kesakitan.


"Aku ingin kau serius, tidak ada lagi kata main-main, kau dan Darwin harus selalu siap jika dibutuhkan, dan antara kalian berdua kau lah yang paling mungkin melakukannya, karena selama ini kau juga yang sering aku libatkan untuk mengurus orang-orang bermasalah, aku tidak menyuruh kau menggorok lehernya, itu hanya perumpamaan, jika kau mau menyiksa jangan setengah hati." jelas Jason.


Dalam hati Ben memahami, namun ternyata ia juga menyadari bahwa menjadi Royand tidak semudah yang ia bayangkan, kini ia harus melakukannya, melakukan hal yang biasa Roy lakukan bahkan mungkin lebih parah.


"Ada apa?" tanya Jason lagi, melihat Ben terdiam.


"Tidak Bos, baik akan aku lakukan sesuai perintah." ujar Ben.


"Memangnya aku merintahmu untuk apa?"


"Untuk menghabisi mereka Bos!" jawab Ben.


"Kapan aku menyuruhmu begitu?" memasang mimik bingung, tidak mau dilibatkan padahal dirinyalah dalang dari segalanya.


"Iya Bos, aku sendiri yang menginginkannya, aku geram sekali rasanya dengan para pembuat masalah itu, akan ku tuntaskan mereka segera." ucap Ben pada akhirnya, entah keadaan macam apa ini pikirnya.


Ya baiklah, aku yang melakukannya, aku yang menginginkannya, aku yang punya dendam ini, kau tidak ada urusan hanya cukup melihat saja seperti sedang menonton drama psikopat gila, bagaimana nantinya akulah setannya begitu kan maksudmu Tuan Penguasa, itukan maumu, heh dasar tidak mau disalahkan, suka seenaknya.


"Bukan mauku yaaa." ucap Jason dengan santainya.


"Iya Bos, huh dimulai dari yang mana bagusnya." ucap Ben.


"Kau tampak terlalu bersemangat, ini bukan mauku yaaa." ucap Jason lagi, tetap tidak mau terlibat.


"Iyaaa Bos, aku yang ingin melakukannya." ucap Ben sembari nyengir kuda.


Puas kau Tuan Penguasa, aku yang mau melakukannya demi kau, dasar bajingan, setan yang sebenarnya itu kau.


"Kau mengataiku Ben?" suara Jason melemah, seolah sangat tersakiti.


"Tapi kau terlihat seperti tertekan."


"Aku sedang memikirkan rencana bagaimana penyiksaan yang begitu memilukan kira-kira aku harus apa, ini kan pengalaman pertamaku Bos." kilah Ben.


"Sampai tertekan begitu?"


"Aku tidak tertekan Bos, aku sedang sangat bersemangat ini!"


Aku sedang tidak percaya padamu, tidak percaya bahwa kau akan membalikkan keadaan menjadi salahku nantinya anak setan.


"Ya sudah aku serahkan padamu, kalau kau sebegitu bersemangatnya aku bisa apa kan!" ucap Jason.


"Ya ya, kalau Bos ingin menontonnya silahkan, itu adalah suatu kehormatan bagiku."


Suatu kehormatan bagi hamba yang tidak berdaya ini Tuan Penguasa.


"Jangan mengumpat Ben, kau mau umurmu memendek lebih cepat?" ujar Jason.


Saat ini ia dan Ben sudah menuju ruangan bawah tanah, setelah sebelumnya terjadi drama negosiasi di ruang tamu Villa milik keluarga Adrian tadi.


Kreeeettt, pintu dibuka, dua orang anak manusia memasuki ruangan yang tampak mencekam, agak sedikit kotor karena sudah lama sekali tidak di kunjungi.


Ben membuka maskernya, sementara Jason masih belum, ia memilih duduk di pojokan sambil memainkan ponselnya.


"Kenal gue siapa?" tanya Ben pada ketiga tawanan Bosnya itu.


Tidak ada jawaban, ketiganya masih sama mencoba melepaskan tali pengikat yang mengikat tubuh mereka pada sebuah kursi, membuat Ben sedikit kecewa.


"Hei hei hei, denger gue nggak, gue bisa bunuh kalian sekarang juga kan, lalu buat apa berusaha melepas pengikatnya!"


Ketiganya mendongak, menatap Ben penuh tanya, mengapa mereka di culik, lalu dijadikan tawanan seperti ini, siapa pria yang tengah bertanya pada mereka ini, mereka sama sekali tidak mengenalnya.


Salah satunya hendak bicara melayangkan protes, namun mulutnya masih tertutup lakban.


"Yah, silahkan Pak!" ucap Ben, ia melepaskan lakban yang menutupi mulut pria itu dengan tanpa belas kasih.


"Sraakk" Awh ngilunya, Jason di pojokan sana langsung memegangi wajahnya.


"Siapa lo, gue nggak ada urusan sama lo, gue bisa nuntut apa yang udah lo lakuin sama gue ini, lo nggak tau gue siapa hah?" ucap si pria, ia sedikit ketakutan namun masih bisa meredam semua itu, hingga ia bisa berbicara dengan nada yang menantang.


"Davin Azka Wirawan, bukankah itu nama lo, kalau kiranya gue kenal lo, masa lo nggak kenal gue, itu nggak adil kan." ucap Ben, ia tersenyum smirk, sepertinya ia sudah mulai menjiwai perannya.


"Siapa lo sebenarnya, pengecut, kalau berani lepasin gue, biar gue habisin lo." tantang Davin, sifat sok berkuasanya masih juga ia tonjolkan, entahlah kalau sudah sekarat nanti masih bisa seperti itu atau tidak. Ben tidak tau.


"Oh, oke kalau lo maunya gitu, gue akan dengan senang hati lepasin, tapi kalau lo kalah ataupun sampe mati ditangan gue, lo jangan nyesel ya." ucap Ben.


Dasar Ben goblok, kalau udah mati gimana mau nyesel, ada kali arwahnya tuh tikus nagih-nagih ke kamar lo cuma mau bilang nyesel.


Jason menyunggingkan sudut bibirnya, konyol Ben sebenarnya mau menakuti apa mau melawak pikirnya.


"Tapi biar lo nggak mati penasaran, kali aja lo mau berubah pikiran gue mau berbaik hati bakalan kasih tau kenapa alasan lo bisa berada disini, yang udah sangat beruntung bisa mengalahkan jutaan manusia di dunia untuk bisa sampai di tempat ini, lo pernah nanya dalam hati lo nggak tadi kira-kira kenapa?"


"Lo mau tau, apa biarin aja nggak usah tau sampe lo mati?" tanya Ben.


Jason pasrah saja menghadapi rencana drama psikopat yang menurutnya lebih mirip menonton stand up comedy ini karena Ben sedari tadi hanya mengoceh saja.


"Ben, durasi!" pekik Jason, ia masih punya jam terbang setelah ini, bukannya malah nyangkut di sini nggak kelar-kelar.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...