Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jacob Aslan Adrian.


Suara tangus bayi menggelegar diruangan bersalin itu, membayar seluruh kesakitannya, Shirleen tersenyum puas, bayinya telah lahir dengan selamat.


Bayi itu dibawa dokter kedalam dekapannya, menggerak-gerakkan mulutnya seolah tengah mencari sesuatu, yah sekarang ia mulai minta susu.


Shirleen tanpa sadar membuka gunung kembarnya dihadapan Jason, entah karena merasa tidak sesuai dengan situasi dan kondisi, Jason sama sekali bukan masalah, ia mengerti dan sebisa mungkin hasratnya tidak bergejolak melihat sesuatu yang menantang itu.


Shirleen mendekap bayi mungil itu, yang mulai menyusu padanya.


Kini ia harus menuntaskan persalinannya setelah melakukan inisiasi menyusu dini tadi, selang beberapa menit ia kembali diminta mengedan untuk mengeluarkan ari-arinya, tidak sesakit tadi, semuanya berjalan lancar saja.


Bayi laki-laki itu sudah selesai dibersihkan, diberikan pakaian hangat, mirip Shirleen, bayi laki-laki itu benar-benar mirip Shirleen, beruntung, kalau saja mirip Athar pasti akan membuat hati Jason sedikit tergores, ia tidak bisa berbohong selama ini ia selalu berdoa supaya bayi itu mirip mamanya, agar ia tidak menanam benci yang sangat tidak ingin ia tuai.


Jason mengadzani bayi yang akan menjadi anaknya itu, bahagia... Ia sungguh bahagia itu terlihat dari pancaran wajahnya.


"By..." ucap Jason lalu menyerahkan bayinya itu kedekapan Shirleen untuk disusui lagi. Shirleen harus memberikan kolostrum pada bayi mereka.


Bayi gembul berbobot 4,2 kg itu tampak antusias melahap makanannya, Jason hanya bisa menahan gejolak yang membara didadanya, ia memalingkan wajahnya yang memerah, ini benar-benar ujian, sayangnya Shirleen masih belum menyadari itu.


"By, siapa namanya ?" Shirleen bertanya pada kekasihnya, ia punya permintaan khusus, mengingat bagaimana selama ini Jason memperlakukannya ia ingin Jason yang menamai anaknya. Ia akan menghargai setiap nama yang Jason berikan nanti.


"Entahlah, aku belum menyiapkan nama, kau melahirkan terlalu mendadak" jawabnya.


"Aku ingin kau yang memberinya nama By..."


"Heemmmm" Jason nampak berpikir, ia mencoba menggabungkan namanya dan nama Shirleen, namun tidak bisa menciptakan sebuah nama yang bagus, lalu bagaimana.


Beberapa menit berlalu, Jason masih terlihat berpikir keras. Ini terlalu tiba-tiba. ia sama sekali belum memikirkan nama untuk buah hatinya.


"Jacob Aslan Adrian" ucapnya setelah sekian lama, bahkan Shirleen dan si bayi ternyata sudah tertidur pulas.


Ia tertunduk, sedikit kecewa, apakah ia berpikir selama itu batinnya.


Ditempat lain.


Rendi masih memikirkan kejadian seminggu yang lalu, saat ia mengikuti istrinya dan menemukan istrinya masuk dan keluar dari sebuah rumah. Lalu secara tidak langsung ia telah menuduh istrinya berselingkuh, ia menyesal ternyata sedalam itu luka yang ia torehkan.


Flashback.


Tok tok tok.


Setelah Riska menghempaskan genggaman tangannya dan berlalu pergi, ia memberanikan diri untuk menemui penghuni rumah dihadapannya ini, walau canggung namun rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya. Ia benar-benar ingin tau.


"Ya sebentar" suara wanita menyahut dari dalam rumah, ada kelegaan dihati Rendi kala mendengar suara wanita itu, berarti istrinya kemungkinan tidak selingkuh.


Ceklek, pintu dibuka, nampaklah raut wajah bingung dari seorang wanita cantik. Sayang sekali masalah yang menimpanya begitu besar saat ini, hingga Rendi tidak sempat untuk menjajankan matanya menatap wanita cantik dihadapannya ini.


"Siapa ya ?" tanya Clara.


"Eemm, Mbak kenal wanita yang baru saja pergi dari rumah Mbak ?" tanya Rendi.


"Oohh Riska, iya saya kenal"


"Ya, Emmm kalau boleh tau dia kesini ada keperluan apa yah, dan mbak ini siapanya yah"


Clara menatap curiga Rendi, ia menebak mungkinkah pria dihadapannya ini adalah suami Riska.


"Riska teman saya, dia hanya mampir sebentar tadi kesini"


Rendi pun balas menatap Clara, seingatnya Riska tidak punya teman seperti ini, ia tidak mengenali wanita dihadapannya ini yang katanya teman istrinya.


"Anda siapanya Riska" lanjut Clara.


"Saya tidak tau Riska punya teman di daerah sini, perumahan ini lumayan jauh dari rumah kami, apa kalian teman baru" lanjut Rendi.


"Yaaa, aku baru mengenalnya di beberapa minggu ini"


Rendi mengangguk, kakinya cukup pegal sekarang karena sedari tadi ia tidak dipersilahkan masuk apalagi untuk duduk, wanita dihadapannya ini memang tidak tau adab menyambut tamu nampaknya.


"Boleh saya bertanya"


"Yaaa silahkan"


"Maaf, aku tidak tau lagi harus bagaimana, kami punya masalah rumah tangga yang cukup serius, apa Riska membicarakannya padamu" Ia curiga, mungkinkah wanita dihadapannya ini ada hubungannya terkait vidio yang katanya dikirimkan pada Riska, sehingga Riska mengetahui kebejatannya. Ia sangat curiga siapa dalang dari masalah yang merka tengah hadapi ini, siapa pengirim rekaman vidio itu.


"Ooohh tidak tidak, maaf yaa Mas, Mas salah paham deh kayaknya, Riska kesini cuma mampir sebentar, mungkin ia kebetulan lewat di daerah perumahan ini atau gimana, beberapa hari yang lalu aku memang mengundangnya mampir kerumah, sebagai perkenalan teman baru"


"Dan Mas perlu tau juga, saya gak tau sama sekali Riska punya masalah rumah tangga yang kata Mas serius, ia sama sekali tidak pernah membahas itu setiap kali kami berbincang" tutur Clara.


"Oohh, baguslah, saya hanya takut Riska menceritakan masalah rumah tangga kami pada orang lain, bukankah sebuah masalah dalam rumah tangga itu adalah aib yang harus ditutupi agar tidak terlihat ataupun tercium orang luar" ujar Rendi, ia berharap wanita dihadapannya ini akan merasa tidak nyaman dengan perkataannya, namun yang ia lihat wanita itu tampak santai saja.


"Eemm iya Mas, memang lebih baik seperti itu" ucap Clara.


"Ya sudah terima kasih"


"Sama-sama Mas"


Rendi pun berpamitan, ia segera keluar dadi halaman rumah Clara, tanpa berkenalan pada pemilik rumah.


Namun tiba saat ia hendak keluar, ia berpapasan dengan sebuah mobil yang berhenti tepat dihadapannya. Pria yang mengemudi itu kemudian membuka kaca mobil dan bertanya padanya.


"Siang Mas, apa Bu Claranya ada ?"


"Eemm Bu Clara, maksudnya wanita penghuni rumah ini ?" tanya balik Rendi.


Pengemudi itu mengangguk. Rendi sedikit mengintip saat tatapannya tidak sengaja melihat seorang gadis didalam mobil yang terlihat sangat murung, dari tatapannya Rendi bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sedang depresi. Ia mengkerutkan keningnya, ia yang memang ingin mencari tau untuk apa tujuan istrinya ke tempat ini pun tiba-tiba menjadi tidak enak pada perasaannya.


"Dia ada, maaf sebelumnya saya bertanya, untuk apa kalian mencarinya.?" Tanya Rendi, kecurigaan semakin menyelubungi hatinya. Ia berharap bukan, namun ia harus memastikan.


"Eemm, sebenarnya hari ini adalah pertemuan kedua untuk anak saya menemui dokter Clara, tapi dari tadi kami sudah menelpon dan mengirim pesan pada bu Clara, namun tidak ada jawaban, makannya saat kami melihat Mas hendak keluar dari gerbang ini, kami bertanya apakah dokter Clara ada dirumah?" jelas pria didepan kemudi itu yang ternyata anaknya adalah salah satu pasien Clara.


"Dokter Clara, apa wanita penghuni rumah ini seorang dokter ?"


"Eemm lebih tepatnya psikolog, anak saya mengalami depresi karena kehamilannya, biasalah anak muda, jadi saya membawanya kesini untuk memberikan semangat hidup padanya, karena dari kami semua ia seakan sudah tuli tidak bisa menerima perkataan kami semua dengan baik, maaf Mas bukan maksud saya untuk curhat"


"Ah iya, tidak apa, semoga anak Bapak segera pulih" Jawab Rendi tenang, sementara didalam hatinya bergemuruh hebat, ia merasa sangat menyesal, apakah begitu menderitanya Riska, apakah begitu parah sakit hati yang ia torehkan, hingga Riska harus mengadakan janji temu dengan psikolog seperti ini.


"Kalau kau sungguh ingin tau, silahkan kau masuk dan tanya aku siapa bagi penghuni rumah ini, biar kau puas telah melakukan semua ini padaku Mas, silahkan, silahkan masuk dan tanyakan !"


Ia terdiam mengingat terakhir kali percakapannya dengan Riska, benar, ia bahkan menanyakan pada dirinya sendiri, apakah ia sudah puas melakukan ini semua pada istrinya.


Maafkan aku Riska, maafkan aku...


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, dan vote !!!