Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Dilema Athar.


Athar masih memikirkan apa yang ia bicarakan dengan Rudi tadi siang, sekeras apapun ia mencoba melupakan semuanya, bayang-bayang Riana dan Ibunya tetap saja memenuhi otaknya.


Ia tidak habis pikir, isi otaknya kini dipenuhi dengan pemikiran yang tidak sinkron menentang hatinya. Hatinya mengatakan jangan, namun keadaan seakan memaksanya untuk menyetujui ajakan Rudi.


Lama ia termenung dimobilnya yang masih belum beranjak juga dari parkiran, sudah hampir setengah jam ia berdiam diri disitu, enggan rasanya untuk pergi kerumah sakit menemui sang kakak, ocehan kakaknya benar-benar membuatnya muak, walaupun memang sudah seharusnya ia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada ibunya.


Ia memilih mengenang Shirleen lagi, wanita itu sudah bahagia tidak seperti dirinya yang saat ini tak henti-hentinya meratapi hidup. Ia yang menyakiti Shirleen ia juga yang harus menderita, apakah ini hasil dari buahnya bermain api.


Andai saja ia tidak menghianati Shirleen, mungkin keluarga kecilnya adalah keluarga yang paling bahagia, walau jabatannya hanya manager pemasaran saat itu, tidak apa karena Shirleen tidak pernah mengeluhkan segalanya, Shirleen selalu merasa cukup atas segala yang ia berikan.


Memandang jauh kebelakang, Shirleen selalu saja membuatnya merasa dicintai, saat sore begini biasanya ia sudah tidak sabar untuk pulang kerumah, mencicipi masakan rumahan buatan istrinya sambil tersenyum bangga, Shirleen selalu saja tau cara memanjakan lidahnya.


Menggendong dan bermanja dengan putri kecilnya, suasana itu suasana yang sangat ia rindukan, sebuah keluarga sederhana namun begitu bahagia.


Namun sekarang ia begitu malas untuk pulang, tidak ada yang menyambutnya lagi seperti dulu, hanya Sri yang kadang menghidangkan masakan seadanya sambil mengasuh Fahira, ia tidak bisa berharap banyak pada pembantunya itu, sudah merawat Fahira dengan sangat baik saja ia sangat berterima kasih.


"Aaahhhh, semua ini gara-gara Ibu"


Kadang juga ia masih belum berdamai dengan apa yang pernah dilakukan ibunya, rasanya tega sekali wanita yang telah melahirkannnya itu sampai harus membuat hidupnya dipenuhi rasa bersalah seperti ini pada sang mantan istri. Hanya karena ibunya tidak pernah menyukai Shirleen bukan berarti harus memisahkannya dan Shirleen dengan cara menjijikan seperti itu kan.


Ia mengusap wajahnya kasar, Ia sangat ingin marah pada ibunya, namun ibunya sedang sekarat saat ini dan sialnya itu juga karena dirinya.


Dengan malas ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit, ia akan menuruti keinginan sang kakak sebagai bentuk tanggung jawabnya.


"Aku tidak suka kau bertindak seperti ini Ma" Pak Adrian kini sedang mengintrogasi istrinya yang kedapatan sedang mencoba menemui Shirleen.


"Pa, Jason anak kita Pa, apa kau ingin dia menyerangmu saat mengetahui rencanamu ini" Mama Mila tak kalah tegas menatap manik mata suaminya itu.


"Papa ingat saat papa menyuruhnya menjauhi Shirleen saat status Shirleen masih istri orang, aku tidak akan sanggup melihatnya murka Pa"


"Ma, kau hanya akan menghancurkan rencanaku, tidak akan terjadi apa-apa dengan Jason dan Shirleen, bersabarlah sedikit ini juga belum terjadi tapi kau sudah sangat ketakutan"


"Lagi pula Shirleen sedang hamil, akan tidak baik untuk kondisinya sekarang, mama tidak memikirkan itu hah" Pak Adrian menatap tajam istrinya.


"Dan karena mama juga memikirkan Shirleen, mama tidak ingin segalanya terlambat dan Shirleen jadi membenci anak kita, lebih baik mama jelaskan segalanya dari sekarang"


"Anak itu memang tidak mempunyai cinta, adanya hanya obsesi, persis seperti opanya"


"Dan itu juga karena mama selalu memanjakan Jason, hingga ia tidak suka dibantah seperti sekarang"


"Pa cukup Pa, kita sama kau juga memanjakannya sedari kecil, Jason hidup dalam keadaan selalu terpenuhi sedari kecil, mana mungkin setelah dewasa papa akan melepaskan segala yang ia inginkan, itu hanya akan membuatnya marah dan membenci"


"Itukan pemikiranmu, sebelum terlambat sekarang ia harus belajar ikhlas terhadap sesuatu yang tak bisa ia dapatkan" Pak Adrian masih terus dengan pemikirannya, ia benar-benar akan memisahkan Jason dan Shirleen, hanya itu satu-satu caranya.


"Pa..."


"Diamlah Ma, kalau mama berani diam-diam lagi menemui Shirleen, tidak usah berharap perubahan dari anak kita, papa menyerah" Pak Adrian berlalu meninggalkan istrinya yang tampak pasrah.


Ia menunduk dalam diam, berat memang namun harus ia lakukan.


Jason persis seperti almarhum papanya, arogan dan tak terkalahkan. Salahnya juga yang terlalu memanjakan Jason dari kecil, hingga ternyata Jason pada akhirnya begitu sulit dikendalikan, ia sangat menyesali itu.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment. dan vote yah


Happy reading !!!