
"Ini Mas, upah untuk hari ini" ujar Pak Robin sembari memberikan satu lembar uang seratus ribu pada Athar.
"Lho, nggak ada kembalian sayanya Pak, masih lebih dua puluh ribu kan"
"Tidak apa, heemm begini bisa kita bicara sebentar ?"
"Bisa Pak, silahkan silahkan" Athar sudah antusias, diharapnya ia akan mendapat lebih banyak lagi tempat yang akan ia bersihkan. Hari ini seratus ribu, mungkin pikirnya besok lusa gajinya bisa mencapai angka dua ratus atau lebih jika ia rajin dan memilih lembur.
"Saya harus mengatakan ini, heemm mulai besok kamu tidak perlu bekerja disini lagi"
"lhooo Pak, kenapa ? Apa saya dipecat, saya melakukan apa ?"
"Sebenarnya kamu tidak melakukan apapun, cuma saya sudah tau pekerjaan kamu sebelumnya dan alasan mengapa kamu berhenti, sebenarnya kamu bukan berhenti kan melainkan dipecat secara tidak hormat" ucap Pak Robin, dengan lembut ia mengatakan itu karena takut menyakiti hati Athar, sebenarnya ketua yayasan sepertinya tidak tega jika harus memecat pegawai yang tampak sangat membutuhkan pekerjaan ini terlepas dari apa yang Athar lakukan sungguh itu bukan masalah baginya, toh hanya sebagai petugas kebersihan apanya yang mau diresahkan, tapi mau bagaimana lagi yayasannya terancam jika ia tidak mengeluarkan Athar segera.
Athar terdiam, semua yang dikatakan Pak Robin memang benar, namun waktu itu ia benar-benar khilaf karena begitu banyaknya kebutuhan yang mengharuskan ia memiliki uang sebanyak-banyaknya.
Namun yang ia herankan mengapa hanya sebagai petugas kebersihan saja, kesalahan kesalahan seperti itu harus diperhitungkan juga, hingga ia yang baru bekerja hari ini harus merasakan sakitnya dipecat lagi.
"Tapi Pak, cuma sebagai petugas kebersihan saja, saya berjanji akan bekerja dengan sunguh-sungguh, saya benar-benar minta maaf jika sudah mengecewakan bapak, tapi saya sudah berjanji tidak akan melakukan kekhilafan seperti itu lagi" ucap Athar, percayalah walau sempat tidak diharapkan tapi ia sungguh butuh pekerjaan ini.
"Maafkan saya, saya tidak bisa menerima kamu"
"Apa bapak tidak bisa mempertimbangkan lagi"
"Tidak bisa Athar, pergilah seharusnya kamu memang tidak pernah berada disini" usir halus Pak Robin. Mau bagaimana lagi itu semua harus ia lakukan.
"Baiklah kalau memamg begitu, selamat sore Pak, senang bekerja di tempat bapak walau cuma satu hari" ucap Athar lalu menyalami Pak Robin kemudian berlalu pergi.
"Heehh" Pak Robin menghela nafasnya berat sesaat melihat punggung Athar yang semakin menjauh "Kasihan sekali anak itu" gumamnya.
Malam telah tiba, Ipah sudah siap untuk ditugaskan menemani Jacob selama Shirleen meninggalkan rumah, bahkan ia membawa salah satu Maid dari rumah Adrian untuk menemaninya, dirumah besar seperti itu bohong jika ia tidak punya rasa takut sendirian atau hanya berkawan dengan Jacob, bayi doyan tidur yang sedang diasuhnya kini.
"Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku" pesan Shirleen yang entah sudah berapa kali diucapkan sebelum benar-benar pergi meninggapkan rumahnya.
"Iya nona, pasti akan saya kabari, tidak akan terjadi sesuatu den Jacob biasanya sangat anteng tidak pernah rewel" ucap Ipah menenangkan, ia sudah biasa ditugaskan mengasuh Jacob. karena ia juga cukup andil merawat bayi tampan itu sedari lahir.
Shirleen sudah sampai disebuah cafe, matanya membulat karena tidak percaya Jason akan membawanya ketempat begitu. Kalau hanya ingin makan malam jelas saja ia menolak,meninggalkan Jacob untuk pergi bersenang-senang, itu tidak pernah ada dalam kamusnya.
Ia bahkan tidak berniat turun dari mobil.
"Ayo silahkan tuan putri, ikut dulu mari" ucap Jason, ia kini sudah membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
"Aku mau pulang, gak ada makan malam makan malam, Jacob cuma sama Ipah dirumah, gimana kalau ia rewel"
"Gak bakalan rewel sayang By, Ipah kan sudah biasa ngasuh Jacob"
"Nggak, kamu tuh ya masih bisa-bisanya mikirin kebahagiaan kamu, anak aku masih bayi gitu tega banget kamu ninggalinnya cuma karena pengen makan malam berdua" Shirleen masih menggerutu, ia benar-benar jengkel.
"Masuk, cuma sebentar aja kok By"
"Pesen ajah mau makanan kek gimana, aku tunggu dimobil, nanti kita makan malam dirumah" tolak Shirleen.
"By, masuk..." Jason sudah mengambil tangan istrinya itu, ia geram saat rencana yang telah ia susun tidak sesuai harapannya.
"Apaan sih, lepas..."
"Masuk dulu, nanti kalau kamu nggak suka kita bisa langsung pulang" ucap Jason, kali ini lembut. Sebisa mungkin ia tidak harus menyakiti istrinya.
"Iya, tapi langsung pulang yaah nanti"
"Iyaaa, masuk dulu"
"Cuma makan malam doang gak bisa apa nunggu anaknya gedean dikit" gerutu Shirleen. Jason jadi gemas sendiri melihat wajah Shirleen yang sudah sewot maksimal.
Besambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!