Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Rencana mendepak Si Serong.


Hari ini seorang gadis akan memulainhidupnya yang baru, setelah sekian lama memperbaiki dirinya yang sudah hancur kini ia kembali ke tanah kelahirannya.


Ia memandang satu foto yang akan selalu ia simpan sampai kapanpun. Foto seseorang yang telah merubah hidupnya begitu banyak.


Sayangnya ia tidak bisa membalas dendam walau ia ingin sekali, ia takut mati karena ia pernah hampir mati karena berurusan dengan orang sinting tidak punya belas kasih itu.


"Selena, apa kamu tidak ada niat untuk mengambil job lagi" tanya managernya.


"Banyak sekali yang merindukanmu, meski beritamu yang pernah viral karena memanfaatkan postingan Jason Ares itu, tapi mereka sepertinya sudah melupakan" lanjutnya lagi.


"Aku bingung kak" jawab Selena.


"Karena penyakitmu ?"


Selena mengangguk, ia memang bilang kalau ia sakit pada ginjalnya, namun ia tidak bilang penyebab sakitnya, meski satu ginjalnya bisa berfungsi dengan baik namun Selena tidak mau bekerja terlalu lelah seperti waktu ia masih di dunia entertain dulu, pergi pagi pulang pagi dan karena kesibukannya ia terpaksa harus makan sembarangan yang penting perutnya terisi, rasanya itu pasti sangat akan berpengaruh pada kesehatannya nanti, dan sekali lagi ia takut mati apa lagi karena masalah pada organ tubuhnya yang sudah tidak lengkap ini.


"Ya sudah terserah padamu, aku tidak bisa berbuat banyak karena mau bagaimanapun kau yang merasakannya"


"Mungkin kalau ada tawaran iklan yang ringan nanti bisa dipertimbangkan kak, pokoknya aku hanya tidak mau terlalu lelah" ucap Selena.


"Kau serius ?" tanya sang manager.


"Ku rasa kembali tidak buruk juga" ucap Selena lagi.


Sri sedang mendiamkan Dareen saar ini. Dari tadi ia selalu saja menyibukkan diri semenjak Dareen pulang dari sekolahnya.


Sebisa mungkin ia menyiapkan apa saja keperluan Dareen, namun sebisa mungkin juga ia tidak berlama-lama dekat dengan suaminya itu.


Dareen merasa puas akan keberhasilannya membuat sri membenci dirinya, namun tanpa ia ketahui sebenarnya ia telah menorehkan luka yang begitu dalam pada istrinya itu.


"Nduk, kalau ada masalah itu yo dibicarakan to, jangan seperti ini, jadilah istri yang baik" ucap simbok memberinya pengertian.


Sri ingin sekali menceritakan masalahnya pada ibunya, namun sekarang ia milik Dareen, apapun yang terjadi pada rumah tangganya orang luar tidak berhak tau sekalipun itu ibunya sendiri.


"Iya simbok" jawab Sri.


"Sri, besok simbok sama bapak akan pulang kampung, kamu baik-baik dirumah mertua, jangan bikin ulah, senangi semua orang, terutama suamimu"


"Apa Fahira ibu bawa ke kampung saja Sri, biar kamu bisa berduaan sama Mas mu" tanya simbok tiba-tiba.


"Mbok, ya jangan, piye to kalau anakku dibawa, Fahira akan tetap samaku"


"Siapa tau kamu mau bulan madu, hihihi" simbok menggoda putrinya itu.


"Uhuukkk" Sri tersedak air liurnya sendiri, ia tidak menyangka simbok akan mengatakan itu.


Bulan madu seperti apa yang bisa diharapkan, Dareen bahkan seakan tidak sudi tidur satu ranjang dengannya.


"Jangan pernah tinggalkan sholat ya nduk, selalu ingat Allah, mintalah penjagaan dari-Nya, karena dimanapun kita berada nyawa dan hidup kita hanya ditangan Allah"


"Kamu beruntung bisa mendapatkan keluarga yang baik seperti keluarga Pak Safar, simbok senang sekali rasanya meski kamu harus nikah dadakan dan simbok harus pingsan jantungan dulu mendengar kabar mengejutkan itu"


"Nduk apa kamu bahagia ?" tanya Bapaknya Sri yang berada di samping simbok.


"Iya Nduk, apa kamu bahagia saat ini ?" tanya simbok, ia tadinya ingin menanyakan itu pada anaknya, namun lupa beruntung suaminya menanyakannya pada Sri.


"Sri bahagia kok Mbok, Bapak"


"Alhamdulillah hirobbilalamin, baguslah kalau kamu bahagia, tadinya kalau kamu masih belum bisa bahagia dengan pernikahan ini, bapak ingin menyampaikan pesan padamu bahwa kamu harus bahagia, terutama ikhlas, karena dengan ikhlas insyaallah kamu pasti akan menggapai bahagia"


"Lho kenapa nangis to nduk" tanya simbok yang melihat air mata putrinya sudah mengalir.


"Sri pasti bakalan kangen sama Bapak sama simbok di kampung"


"Iya simbok juga, kamu yang baik-baik disini, jangan berulah, jangan malas ingat sudah jadi istri orang"


"Iya simbok"


Dareen yang melihat interaksi antara kedua orang tua dan istrinya itu tanpa sadar mengulum senyumnya, ia salut dengan Sri meski tadi malam dan paginya ia tidak pernah memperlakukan Sri dengan baik namun Sri tidak pernah cerita apapun tentang masalah keluarga kecilnya itu, hah keluarga kecil ? Apa iya dirinya dan Sri sudah menjadi keluarga kecil ?


Bagai mimpi saja rasanya, namun memang begitulah kenyataannya.


Sri adalah istri yang sholeha, selalu menjaga pandangannya, baik hati dan budi pekerti, santun serta bertanggung jawab.


Sri juga tidak pernah meninggalkan sholat, pandai mengaji, dan pastinya penurut pada suami, namun satu yang tidak ia mengerti mengapa ada Fahira di hidup Sri, apakah Sri termasuk cewek nggak bener dan sekarang sudah bertaubat menjadi benar pikirnya.


"Aaarrrggghhh sial" Dareen mengutuk dirinya yang tanpa sadar mengagumi Sri, padahal ia sudah membentengi hatinya untuk tidak akan pernah jatuh cinta pada Sri.


Sadar Dareen, Sri itu cewek nggak bener, kalau iya dia cewek baik-baik nggak mungkin ada Fahira.


Dasar munafik, penipu, lo bisa aja nipu kedua orang tua gue, namun nggak untuk gue.


"Gue masih sering mikirin dia Son" ucap Yudha. bisa dibilang ia sedang curhat akbar dengan para sahabatnya.


Disebelah mereka juga sudah hadir Angga dan Afik yang mulai serius juga mendengarkan curhatan Yudha.


"Sampai kapan Men, sampai si Serong punya cucu" ucap Angga.


Angga dan Afik memang kompak menggelarkan nama Sarah menjadi Serong, baginya nama itu sangat cocok untuk mantan kekasih sahabatnya yang telah berhasil membuat sahabatnya itu gagal move on.


"Gini gue punya solusi, gimana kalo lo pake strategi Angga" usul Afik.


"Lah kok bawa-bawa gue si anjim" protes Angga.


"Iya, pacaran tiga bulanan" jelas Afik.


"Nggak gue gak setuju" tolak Jason.


"Heh yang udah punya bini diem, lo nggak bakalan tau rasanya jadi jomblo karatan kek si bloon ini, gagal move on dari taun ke taun bisa keriput tu aset gak kepake" sanggah Afik, baginya hanya itu cara satu-satunya supaya Yudha bisa menghilangkan traumanya.


Dasar jomblo teriak jomblo...


"Gue rasa lumayan, oke juga, bisa di coba, gak ada salahnya ye nggak" setuju Angga.


Pacaran tiga bulan seperti yang sering dilakukannya, mungkin bisa membantu.


Hanya bedanya Angga melakukan itu karena ia tidak enak menolak para ciwi-ciwi yang menyatakan perasaan padanya, sedang Yudha mencoba strategi tersebut supaya ia bisa mendapatkan wanita yang bisa melupakan kenangan pahitnya pada sang mantan si Serong yang suka serong sambil makan terong.


"Gimana Yud ?"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!