
"Diam..." Riska meneriaki Tiara yang tengah terisak, pakaiannya basah kuyup karena mamanya mengguyur dirinya dengan air di bak mandi.
Satu hal yang Tiara tau, semenjak ia memutuskan untuk memilih tinggal bersama papanya dari pada mamanya, ia tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun di hadapan mamanya.
"Ampuuunn Ma, ampuunn" lirih Tiara, bibirnya bergetar menahan dingin, hari ini ia tidak sekolah karena ibunya melarangnya. Ia menurut saja, kasih sayang pada kedua orang tuanya membuat ia tidak sedikitpun berniat untuk melawan.
Dulu keluarganya begitu harmonis, dulu ia selalu dimanjakan, dulu ia begitu dibanggakan, keluarganya hangat dan menyenangkan, papa dan mamanya selalu menyayanginya penuh cinta kasih.
Sekarang hanya ada amarah dalam diri mamanya, ia merasa begitu sedih atas segala yang terjadi, mungkin benar mamanya begitu tersakiti dan tidak bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan papanya, ia mengerti namun mengapa ia yang harus menerima semua kemarahan ini. Siapa yang menginginkan orang tuanya berpisah, tidak satupun begitu juga dengannya.
"Anak gak tau diri, kerjaan segitu gampangnya aja nggak bisa, mau jadi apa kamu hah ?" bentak Riska, sembari menjambak rambut Tiara yang basah.
"Ampun Ma, ampun" mohon Tiara.
"Aku nggak mau tau, kamu beresin nanti seisi rumah ini, kalau nggak jangan harap kamu dapat makan siang" ancam Riska lalu meninggalkan Tiara di kamar mandi.
Wajah Tiara yang sangat mirip dengan Rendi, membuatnya selalu hilang kendali, sebenarnya ia sering menangis saat Tiara tengah tertidur, ia juga kadang menyesal telah memperlakukan Tiara dengan buruk beberapa hari ini, namun saat Tiara melakukan kesalahan sedikit saja ia malah tidak bisa menahan diri untuk tidak mencaci bahkan menyiksa anaknya yang sekilas duplikatan suaminya itu.
Sambil menangis Tiara berjalan menuju kamarnya, mengganti bajunya yang basah dengan baju bersih.
Papa, Mama berubah Pa...
Baru hari ke tiga ia tinggal dengan Mamanya lagi, namun setiap hari ia mendapatkan tugas yang sebenarnya harus di kerjakan mamanya yaitu mengurus rumah, dan saat ia melakukan sedikit saja kesalahan, mamanya pasti akan menghukumnya lagi dan lagi dengan lebih berat.
Athar yang hendak mengambil sesuatu dari kamarnya langkahnya terhenti kala melihat keponakannya itu melakukan pekerjaan rumah, sementara sebelum ia masuk kerumah tadi ia juga sudah melihat kakak sulungnya itu sedang bersantai memainkan ponsel di teras rumah.
Ia merasa ganjal, lalu ia mendekati Tiara.
"Ara sayang, kamu kenapa ngepel ? Rumah ini tampak bersih, ayo main aja dengan teman-temanmu, tumben kamu nggak main kerumah Dila, biasanya kan kalau kerumah nenek kamu selalu main sama si Dila Dila itu kan" ujar Athar, ia merasa aneh, karena tadi pagi ia juga menanyakan mengapa Tiara tidak berangkat ke sekolah pada kakaknya, namun kata kakaknya Tiara sedang tidak enak badan, lalu kenapa Tiara mengepel rumah jika ia demam.
"Eemmm nggak papa om, Ara lagi bosen aja gak tau mau ngapain, tadi Ara lihat bagian sini kotor makannya Ara bersihin, ini sebentar lagi selesai kok om" ujar Tiara berbohong.
"Ya udah, tapi jangan capek-capek yaaa, kamu kan katanya nggak enak badan makanya tadi pagi nggak bisa sekolah, jadi jangan kerja berat-berat, biar mama kamu aja yang ngerjain semuanya"
"Iya om"
Athar berlalu ke kamarnya, ia tetap merasa ganjal, setengah jam lagi rencananya ia akan masuk kerumah lagi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, jika Ara masih juga mengerjakan pekerjaan rumah berarti fix ini adalah kerjaan kakak sulungnya.
Sementara di sebuah mansion mewah dan megah.
"By, kok bisa yaaa, aku dan kamu itu bertemu saat kamu masih kecil, terus kamu nyariin aku selama bertahun-tahun dan gak disangka kamu malah jatuh cinta sama aku pas kita ketemu lagi saat kamu remaja, padahal kamu gak tau kalau sebenarnya aku adalah orang yang kamu cari" ujar Shirleen saat ini mereka sedang bercerita masa dulu saat pertama kali Jason kecil ditolong oleh Shirleen remaja yang ternyata semenjak kejadian itu Jason menamainya kakak cantik.
"Kamu tuh kayaknya emang udah genit dari kecil deh By" ucap Shirleen lagi.
"Sok tau kamu" bantah Jason.
"Lah iya, mana ada anak TK dicium pipi sama seorang gadis malah deg deg ser"
Shirleen merasa lucu saat mendengar pengakuan Jason yang mengatakan sudah jatuh cinta padanya sejak Jason masih kecil.
"Aneh-aneh, iya sih termasuk aneh aja, anak sekecil itu biasanya cuma tau dimanja mama papa, udah deh gak bakalan pusing mikirin jatuh cinta kayak yang kamu bilang tadi" ucap Shirleen.
"Mungkin belum bisa dikatakan jatuh cinta seperti yang orang dewasa pikirkan By, mungkin saat itu lebih tepatnya aku merasa kagum, merasa kamu seorang hero karena telah berani menyelamatkanku, di tambah lagi kamu emang cantik sih waktu itu" ungkap Jason, selama ini itulah yang ada dipikirannya saat bertahun-tahun mencari keberadaan kakak cantiknya.
Pasalnya ia juga tidak bisa mengerti bagaimana perasaannya dulu saat masih kecil ketika berhadapan dengan Shirleen.
"Dan lagi pun aku merasa perlu berterima kasih makanya aku mencarimu, hal itu kulakukan sampai aku masuk SMP, entahlah semuanya berjalan begitu saja aku juga tidak mengerti bagaimana jalan pikiranku dulu"
"heemmm, ya juga sih" Shirleen mengangguk membenarkan, mungkin juga seperti itu batinnya.
"Tapi Tuhan ternyata baik sekali, aku menemukanmu secara tidak sengaja, bagai orang yang berbeda padahal ternyata orang yang sama, aku juga sudah lupa bagaimana rupamu dulu saat masih remaja By" ucap Jason.
"Saat itu umurmu berapa tahun ?" tanyanya kemudian.
"Eeemm seingatku tujuh belas tahun" jawab Shirleen.
"Itu sudah lama sekali, aku bahkan tidak percaya bisa menemukanmu lagi dengan cara pendekatan yang lumayan gila"
"Dih udah nyadar Pak kalau waktu itu situ gila" ejek Shirleen.
"Iya Bu, gimana nggak gila kalau ibu sendiri yang udah buat saya tergila-gila"
"Hahaha, ya udah semoga kita memang berjodoh karena banyaknya yang telah kita lalui" ucap Shirleen membenarkan.
Jason mengaminkan, ia juga berharapnya seperti itu.
"Ah iya By, sebentar lagi aku akan ujian, setelah aku lulus nanti kau sudah siap jika dikenal publik ?" tanya Jason.
"Yaaah jika memang harus aku siap saja, tapi kurasa banyak yang akan patah hati dan membulyku, maklum saja kadang juga aku sering merasa tidak pantas untukmu By" ucap Shirleen.
"Jangan pernah pedulikan kata orang, kita tidak hidup dari omongan mereka" Jason cuek saja, kalaupun nanti Shirleen dibuly ia pasti bisa membungkam mulut semua orang, karena baginya apapun yang telah menjadi keputusannya tidak akan bisa ditentang siapapun.
"Kau tidak malu By ?" tanya Shirleen, sudah lama ia hendak mengatakan itu, namun lidahnya seakan kelu setiap kali akan berucap demikian, dan kali ini entahlah kekuatan dari mana hingga kata itu akhirnya terlontar juga.
"Malu ? Kenapa bertanya begitu ?" tanya balik Jason.
"Jika aku dibuly, jika mereka tidak bisa menerimaku, pasti akan banyak berita tentang kita nanti, termasuk masalah umurku ini, apa kau yakin bisa menahannya untuk tidak peduli ?"
Bagi Shirleen yang ia takutkan adalah Jason, karena baginya selama Jason tetap mencintainya ia bisa saja tidak perduli walau anggap saja ia seperti wanita tua yang tidak tau malu menyukai berondong, namun ia takut pola pikir Jason berubah karena terpengaruh cemoohan orang tentang mereka. Sungguh yang sebenarnya ialah ia takut kehilangan Jason.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!