Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Menjauhi Jason III


Begitulah malam-malam mereka lalui, Jacob baru bisa tidur nyenyak saat tengah malam disuguhkan baju kotor papanya yang sempat Shirleen bawa, beruntung saja baju itu sangat berguna karena bau wangi khas Jason masih menyeruak di baju kotor itu.


Seolah mempunyai ikatan batin, hubungan tak sedarah itu kini seperti tidak berlaku bagi Jacob dan Jason.


Ah Jason ia jadi semakin rindu. Kalau saja Jason tidak mengenal dunia hitam, sungguh laki-laki itu benar-benar sempurna.


Mama Mila tidak pernah sekalipun menghubunginya selama seminggu ini, katanya komunikasi akan mereka lakukan lewat ponsel Pak Ramli, namun sejauh ini kabar dari sana tidak kunjung ia dapatkan, entah apa yang terjadi disana, ia tidak mengetahui.


Shirleen tidak menggunakan ponsel, itu semata-mata ia lakukan untuk benar-benar menghilangkan jejak.


Hari demi hari ia lalui, Misca juga sudah ia didaftarkan sekolah di PAUD Pedesaan, setelah sebelumnya lewat Pak Ramli ia membeli sebuah sepeda motor dari kota, supaya Ipah bisa mengantar jemput Misca dengan leluasa, disini kalau hanya beraktivitas biasa seperti itu penduduknya jarang sekali menggunakan transportasi seperti mobil, sebenarnya walau jauh dari kota namun penduduk disini tampak berkecukupan, terbukti dari hampir setiap rumah memiliki sepeda motor setidaknya sampai dua atau tiga biji.


Tidak bisa dipungkiri, Shirleen betah hidup di daerah terpencil ini, tidak apa jauh dari kota namun bahan makanan serba ada disini, hari ketiga di Desa ia baru menyadari kalau ternyata Desa tersebut sangat dekat dengan laut, bahkan sektor pariwisata berkembang baik disini, pantai dengan pasir putih yang indah menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, kata Pak Ramli jika akhir pekan tiba desa ini lumayan ramai karena orang kota atau warga kampung lain akan berdatangan untuk sekedar berlibur menikmati indahnya suasana pantai khas desa ini.


Para penduduk desa sebagian besar berprofesi sebagai nelayan karenanya ikan segar disini melimpah ruah, dengan harga yang relatif murah jika dibandingkan harga ibu kota. Sehat sudah tentu jadi jaminan tinggal disini.


Ada juga yang bertani, sayur-sayuran segar juga tidak sulit mendapatkannya disini, desa yang subur makmur kaya akan sumber daya alam.


Pertambangan timah ternyata ada dipulau ini, karena Pak Ramli adalah salah satu warga desa yang pekerjaannya sebagai penambang. Namun katanya lokasi tambang agak jau dari desa ini. Setidaknya Pak Ramli harus mengendarai sepeda motor sekitar satu jam lamanya.


Udara yang sejuk sangat menyehatkan, jauh dari keramaian suara jangkring masih bisa ia dengar bersahutan saat malam tiba. Penduduknya juga ramah, tidak membedakan status sosial, sejauh yang ia lihat kehadirannya sangat diterima di desa ini.


Aahhh lain kali jika Jason sudah berubah dan kembali padanya, ia akan mengajak Jason kesini, bahkan kalau Jason mau ia akan meminta untuk tinggal disini walau sepertinya itu tidak mungkin.


Lagi-lagi Jason, bocah tengil itu sungguh berhasil memenuhi otaknya.


Flashback off.


"Iya, hati-hati jangan sampai terbangun"


Ipah lalu memindahkan Misca, Ia melihat Nona mudanya kembali termenung, sedikit banyak ia tau masalah yang menimpa tuan dan nona mudanya, mau bagaimana lagi tidak mungkin kan ia pura-pura buta dan tuli.


"Tuan Muda pasti baik-baik saja Nona"


"Aahh, apa kentara sekali ?" Shirleen tersenyum samar, benarkah raut wajahnya ini begitu terlihat ia mencemaskan Jason.


"Iya Nona, Nona tidak bisa berbohong Nona pasti sedang memikirkan tuan muda"


"Menurutmu bagaimana, apa Jason akan berubah, dia itu sangat keras kepala, aku jadi tidak yakin" Shirleen kembali larut dalam pikirannya.


"Kalau nona sudah bertanya saya akan menjawab, menurut saya semuanya butuh waktu" jawab Ipah. Ia tidak berani untuk mengurusi masalah majikannya, namun melihat Shirleen yang acap kali termenung membuatnya iba.


"Yah kau benar, bagaimanapun tidak mudah baginya, aku hanya bisa berharap ia kembali ke jalan yang benar, aku sudah memutuskan untuk meninggalkannya jika rasanya aku harus berpisah lebih dari ini, ahh semoga saja tidak, semoga semuanya segera membaik"


"Iya nona, saya harap juga begitu, semoga Nona dan Tuan Muda memang berjodoh"


"Amiinn" ucap Shirleen, bolehkah ia egois setelah meninggalkan Jason begitu saja malah bisa-bisanya berharap masih dicintai, tapi itulah kenyataannya. Hatinya sudah terpaut oleh satu nama Jason Ares Adrian.


Bersambung...


Like, koment, gift, dan vote.