Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Penyesalan Roy II


"Maafkan kami Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda!"


Duarrrr, Roy melotot tidak percaya. Bayi?


Kenapa begitu? Apa saat ini Shakira sedang hamil?


Begitupun Jason yang juga tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.


"Maksud Dokter?" tanya Roy.


"Istri anda mengalami keguguran, usia janinnya delapan minggu."


"Maaf, kami sudah berusaha namun Tuhan mungkin berkehendak lain, tetap sabar."


Roy tidak bisa menahan bobot tubuhnya, langsung saja Jason menggenggam tangannya dan menahan tubuh Roy, Jason membawa Roy duduk di kursi.


"Nona Shakira akan dipindahkan ke ruang rawat, setelahnya nanti baru bisa di jenguk." ucap Dokter itu tadi pada Jason dan Roy.


Jason mengangguk mengisyaratkan lakukan saja.


Air mata Roy menetes, Jason teriris... Roy baru saja kehilangan bayinya, dan semua itu dilakukan Shakira untuk menyelamatkan Shirleen dan bayi mereka, tidak! Mengapa dirinya seceroboh itu? Apapun alasannya, seharusnya dirinya tidak membawa Shirleen, dirinya tidak melibatkan Shirleen.


"Maafkan aku!" lirih Jason.


Roy diam saja, bayangan manja Shakira berputar-putar di kepalanya.


Sayang, kau ingin punya anak perempuan atau laki-laki? Tuan Muda Jason serakah yah masa diberikan keduanya dalam sekaligus.


Terserah Tuhan memberikannya apa sayang, yang terpenting dia sehat, memangnya kamu sudah isi?


Hehe, belum sih yang! Aku baru saja selesai haid, ini sedang menghitung masa subur, nanti kita bikin yah!


Apa yang kau beli sayang?


Oh, ini susu program sayang, siapa tau aja kalau minum yang ginian aku bisa cepat hamil.


Aku tidak memaksa jika kamu belum isi, kita akan nikmati waktu pacaran bersama, tapi kalau kamu memang begitu menginginkannya aku juga akan dukung, tapi jangan terlalu dipaksakan yaaa.


"Hiks hiks, Shakira sangat mengharapkannya, aku harus bilang apa padanya, hiks hiks!"


Air mata Roy tidak lagi bisa dibendung, bagaimana bisa...


Shakira, maafkan aku sayang, maaf...


Roy menatap langit-langit di rumah sakit itu, putaran percakapannya dengan Shakira sekitar dua bulan yang lalu masih terngiang jelas, sebenarnya dirinya tidak memaksa Shakira harus sesegera mungkin hamil, namun melihat kenyataan bahwa istrinya sudah hamil namun sayangnya secepat itu bayi mereka diambil, Roy seakan tidak bisa terima.


"Dia sangat menginginkannya Tuan Muda!" lirih Roy, hanya Jason yang bisa dirinya ajak bicara, entah Tuan Mudanya itu mau mendengar atau tidak namun yang pasti dirinya ingin berbagi, mencurahkan isi hati supaya rasa sesak di dada bisa berkurang. Sakit sungguh sakit mendengar kenyataannya.


"Bolehkah kita beranggapan ini sebuah cobaan, kau pernah bilang padaku seperti itu untuk menguatkanku." ungkap Jason.


"Tidak ada yang berdosa tanpa adanya suatu ujian, begitu kan!"


"Maafkan aku Roy, aku seharusnya tidak membawa Shirleen sehingga Shakira juga tidak perlu ikut." lirih Jason, dirinya juga pernah merasakan ada di posisi Roy, hanya saja mungkin Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan istri dan anak-anaknya yang bahkan sudah diambang kematian waktu itu.


Namun Roy tidak seberuntung dirinya, Roy harus kehilangan anak yang bahkan belum pria itu ketahui, Roy belum bisa merasakan bagaimana bahagianya saat tau sang istri mengandung.


Iya Roy mengerti, dirinya bahkan sangat mengerti, tidak ada yang berdosa tanpa adanya suatu ujian, namun mengapa saat dirinya yang mengalami pun dirinya rapuh jua? Mengapa sulit untuk menerima?


"Tidak Tuan Muda, jangan salahkan diri anda, benar ini sudah takdir, ini ujian dari-Nya." Roy mencoba berpikir jernih, tidak menyalahkan siapa-siapa atas keteledoran mereka semua, dan jika ada yang harus disalahkan baginya Tuan Gilbert lah yang seharusnya bersalah, pria tua bangka itu jelas-jelas ingin mencelakai Nona Muda mereka dan sayangnya harus beralih ke Shakira istrinya.


"Aku sudah menerima, tapi entahlah Shakira, dia sangat menginginkannya!" dengan bergetar Roy mengatakan itu, mulutnya bisa saja berucap menerima, namun entahlah dengan hati, mengatakannya saja begitu berat.


Roy bangkit dibawa Jason mengikuti Shakira yang tengah dibawa oleh para medis menuju ruang perawatan, dilihatnya wajah sang istri yang begitu teduh, terbayang lagi bagaimana dirinya menjelaskan tentang janin mereka jika Shakira bangun nanti.


"Ayo kita masuk!" ajak Jason, Roy tampak lemas, saat ini Shakira belum juga sadarkan diri.


"Tuan Muda, bolehkah kita merahasiakan ini?" tanya Roy sebelum mereka masuk ke ruang perawatan.


"Maksudmu?"


"Biarlah Shakira tidak pernah tau akan kehamilannya, aku tidak sanggup menjelaskannya!" jelas Roy.


"Haaahh," Jason menghembuskan nafasnya pelan, "Itu akan lebih menyakitinya saat dirinya mengetahui." ucap Jason.


"Tapi tidak ada yang akan memberitahunya, kejadian ini terjadi begitu cepat, hanya Tuan dan Nona Muda yang mengetahuinya selain dariku."


"Tidak, aku tidak mau, itu akan lebih menyakitinya, naluri seorang ibu lebih peka jangan kau anggap Shakira tidak akan tau meski kita merahasiakan ini sekalipun."


"Dan juga, apa kau yakin Shakira benar-benar tidak mengetahui kehamilannya?"


Roy tertunduk, dirinya tidak memikirkan itu, tapi ia yakin bahwa Shakira belum mengetahui ada kehidupan di rahimnya, ah entah bagaimana nantinya.


"Saat Shakira bangun lalu dia menanyakan apa yang terjadi padanya, kau mau jawab apa?"


"Lagi pula jika memang benar kejadiannya seperti yang dijelaskan Ilen, seharusnya Shakira tau apa yang telah terjadi padanya."


"Ya Tuan Muda, aku akan mencoba menjelaskannya nanti."


"Tidak perlu menyinggung kejadian tadi, saat Shakira menanyakannya barulah kau jelaskan, hati-hati menjelaskannya." ucap Jason.


"Iya Tuan Muda!"


Lalu Jason dan Roy pun membuka pintu ruang rawat Shakira.


Tuan Gilbert menanyakan kepada resepsionis dimana tempat istrinya Jason di rawat, namun resepsionis itu menjawab bahwa Nona Shirleen tidak boleh di jenguk untuk saat ini.


"Katakan pada Jason, aku Tuan Gilbert, ayo telpon dia!" titah Tuan Gilbert pada resepsionis tersebut.


"Maaf Tuan, tapi ini perintah langsung dari Tuan Muda Jason, saya tidak bisa membantahnya, sudah dijelaskan kalau tidak siapapun yang boleh menjenguk Nona Muda."


"Kalau begitu bagaimana keadaannya? Apa kau tau?"


"Maaf Tuan saya tidak mengetahui."


Sial, bagaimana aku bisa tau keadaan Shirleen.


Tuan Gilbert memutuskan untuk menyerah menanyakan dimana ruang rawat Shirleen pada petugas rumah sakit, dia melangkah menuju ruang IGD, karena dilihat dari apa yang dialami Shirleen tadi, Tuan Gilbert yakin Shirleen akan berada cukup lama di IGD.


Sesampainya di sana, sayang sekali tidak ada apa-apa di IGD, ada juga pasien yang sedang ditangani para medis, namun sayangnya bukan Shirleen. Dia menggerutu kesal, bagaimana mungkin dirinya bisa kehilangan jejak.


Tuan Gilbert memutuskan untuk menyusuri ruang rawat kelas VIP yang biasanya para pejabat atau pengusaha kaya raya pesan jika sakit di rumah sakit ini. Namun nihil, Shirleen tidak jua ia temukan.


"Arrgghh, sial!" Tuan Gilbert menggeram.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!