
Shirleen masih terus saja memikirkan perkataan Mama Mila, apakah sekarang ia menjadi durhaka kepada orang tuannya, setelah melawan orang tuanya namun sekarang malah menyiksa mereka dengan kerinduan.
*Haruskah aku pulang ?
Haruskah aku pulang ?
Pulanglah, sudah lama sekali kan.
Tidak ada orang tua yang tidak sakit menahan kerinduan
Bapak bertemu dengan papamu Shirleen, mereka merindukanmu, pulanglah nak temui mereka*.
Percayalah, ini tidak sesulit yang kamu bayangkan.
Aku mencintai Mas Athar Pa, aku ingin bersama orang yang aku cintai
Tidak nak, kau tidak akan menemukan kebahagiaan, keluarga mereka bukanlah orang baik.
Aku bukan lagi anak kecil Ma, aku bisa menjaga diriku sendiri.
Ilen sayang mengertilah.
Ilen sayang jangan pergi.
Ilen sayang jangan pergi.
Kau akan menyesal Ilen...
Kau akan menyesal Ilen...
Kau akan menyesal Ilen...
"Tidaaaakk" Shirleen tidak sanggup lagi, kata-kata Mama Mila, Pak Hendra, dan ucapan orang tuanya enam tahun lalu bagai kaset kusut yang terus mengulang di kepalanya.
"Aku rindu, maafin Ilen Ma, Pa, Ilen sudah menyesal" Shirleen kini makin terisak.
"Ilen rindu..."
Shirleen sangat merasa bersalah, ia bahkan tidak sanggup untuk menunjukkan mukanya di depan orang tuanya, tapi rindunya kini mangkin membesar, ia tidak kuat.
Ia menyerah !!!
Jason hari ini ada meeting dikantornya, ia tidak sempat mengunjungi Shirleen di apartemen sepulang dari sekolah, ia harus profesional dalam bekerja.
"Roy, apa yang telah kau lakukan untuk memberi pelajaran wanita ular itu ?" Jason bertanya sambil melonggarkan dasinya, kini ia baru saja selesai meeting.
"Aku hanya memberinya zat untuk membuatnya sakit Tuan Muda, semacam lumpuh" jawab Roy.
Roy nampak ragu, karena biasanya orang yang bermasalah dengan tuan mudanya akan dibawa ke ruang bawah tanah untuk diberikan pelajaran. Namun ia mengecualikan Riana mengingat kondisi Riana yang sedang hamil, sungguh Roy masih mempunyai belas kasih.
"Bodoh, kenapa tidak langsung kau matikan saja ?" Jason nampak tidak setuju dengan tindakan Roy.
"Heemm, ya baiklah, tapi kalau dia dan suaminya berani berbuat macam-macam lagi dengan Shirleenku, maka jangan lagi kasihan padanya" ucap Jason
"Baik Tuan Muda"
Kini Roy bisa bernafas lega, ia sudah lolos dari introgasi yang mencekatkan tenggorokannya.
Ibunya Athar, masih saja banyak berdiam diri, kebenciannya terhadap Shirleen kini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bahkan untuk memikirkannya saja ia sudah takut setengah mati.
Ia menjadi pemurung, apalagi ia begitu kecewa dengan sikap menantu barunya, yang gak ada akhlak itu.
Ia telah salah mengenalkan Riana pada anaknya.
"Bu, tadi Athar telpon, bisa tidak ibu kerumahnya untuk mengurus Riana, ia harus kerja sementara katanya saat ini Riana sedang sakit." ucap Riska salah satu kakak Athar yang saat ini sedang berkunjung kerumah ibunya.
"Ibu ditelpon-telpon dari Athar tapi nggak pernah diangkat, ibu kemana aja sih, jadi Athar telpon aku untuk nyampein ke ibu" Lanjut Riska lagi.
Ibunya Athar masih terus diam tak bergeming, ia mendengarkan kalau ternyata Riana sedang sakit saat ini, namun ia malas untuk menanggapi. Ia sudah kecewa.
Biarkan saja menantunya itu sakit, kalau bisa sekalian saja mati, maka ia tidak perlu repot untuk menyingkirkan menantu tak tahu diri itu.
"Bu..." Riska mengguncang lengan Ibunya.
"Ibu kenapa sih diam saja dari tadi ?" tanyanya lagi.
"Ibu tidak mau mengurus Riana, bikin susah saja" jawab Ibunya Athar.
"Yah sudah, nanti ibu telpon saja Athar bilang sama dia kalau ibu tidak bersedia." saran Riska.
"Iya" jawab singkat Ibu Athar.
"Aku pulang dulu Bu, jangan lupa merawat diri ibu, ibu nampak pucat sekarang" Riska berlalu meninggalkan rumah ibunya.
Ibunya Athar masih melanjutkan lamunannya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, setiap langkah dan pikirannya diawasi oleh Jason, ia begitu takut akan mati jika saja ia berani mencobanya.
Namun kebencian terhadap Shirleen belum juga mereda, walaupun ia hanya bisa menelan bulat-bulat segala umpatan yang akan dilayangkan pada Shirleen.
Sungguh, Ibunya Athar masih jauh dari kata menyesal atas perbuatannya.
Bersambung...
*
*
*
***Hai readers, jangan lupa kike, koment, dan vote cerita ini yaaa.
Happy reading*** !!!