Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kau pasti akan datang.


Seminggu telah berlalu, Shirleen dan Jason sedang sibuk-sibuknya menjadi orang tua baru, Jason benar-benar menepati janjinya untuk selalu disisi Shirleen, membuat Shirleen begitu bahagia.


Pagi Jason sekolah seperti biasa, sepulang sekolah ia akan mampir sebentar melihat bayinya, setelah itu ia menuju kantor untuk bekerja, malamnya ia selalu berusaha untuk tidak pulang larut, ia akan bergantian mengasuh bayi bersama sang kekasih.


Sebenarnya ada Ipah juga yang masih bekerja, namun seperti biasa ia akan datang pagi sekali dan pulang saat Tuan Mudanya sudah datang.


Shirleen sedang menidurkan bayinya saat tiba-tiba Ipah mengetuk pintu kamarnya.


"Nona, ada Tuan Besar ingin bertemu nona" ucap Ipah dari seberang pintu.


"Iya sebentar..." Shirleen membukakan pintu, lalu ia memerintahkan Ipah untuk menidurkan bayinya, ia akan menemui calon mertuanya dulu "Apa Mama Mila juga kesini" tanyanya.


"Maaf Nona, tidak, Tuan Besar hanya datang sendiri" jawab Ipah.


Shirleen mengkerutkan keningnya, ada apa Pak Ardian ingin menemuinya hanya sendiri, apa mencari Jason, tapikan beliau tau anaknya masih di sekolah saat jam segini.


Ia melangkahkan kakinya ke ruang tamu, benar saja Pak Adrian sedang duduk sendiri sembari memainkan ponselnya.


"Pagi menjelang siang Pa..." ucap Shirleen hati-hati karena ini adalah pertemuan yang tidak biasa. Sebisa mungkin juga ia terlihat biasa saja.


"Pagi Shirleen" Jawab Pak Adrian, tampak keraguan menyelimuti wajahnya saat ini.


"Tumben Papa kesini, ada apa yaaa"


"Sebenarnya Papa kesini ada yang ingin papa sampaikan, berdua... hanya kamu dan Papa"


"Maksud Papa ?"


Di tempat lain...


Di sebuah rumah mewah yang berapa bulan sempat ia tinggalkan, seorang gadis sedang menatap sebuah ruangan yang dipenuhi foto seseorang.


Setelah melewati pemikiran yang panjang, hari ini ia memutuskan sesuatu dalam hidupnya.


Tiga buah dus ukuran besar sudah berada didekatnya, ia mulai mengambil semua foto diruangan itu lalu ia masukkan ke dalam dus besar, tidak ada penyortiran baginya semua foto ini memang pantas ia buang.


Ia tidak ingin larut dalam kesedihan, ia bergerak cepat, tidak mau lagi sekedar melihat ulang foto yang beberapa tahun terakhir ini ia koleksi.


Baginya menatap kenangan hanya akan memperdalam sakit dihatinya.


Tok tok tok.


Suara ketukan dipintu ruangan itu menghentikan aktifitasnya. ia mengumpat dalam hatinya, siapa yang dengan beraninya bertamu, bukankah tadi ia sudah menyuruh pembantunya untuk mengatakan kalau ia tidak ada dirumah, siapapun orangnya ia sedang tidak ingin menerima tamu saat ini jadi jangan pernah mengganggunya.


Ceklek...


"Ada apa sih Bi, kalau ada tamu kan tinggal bilang aku tidak ada dirumah" ucapnya tanpa melihat pelaku yang mengetuk pintunya tadi.


"Oh ya, sepertinya nona saat ini tidak ingin diganggu yaaa"


Deegg, suara itu... suara itu ia sangat mengenalinya. Bahkan setiap malam ia memimpikan suara itu menemaninya.


Sepertinya ini gila, bahkan satpam penjaga saja rasanya mirip dia.


Ternyata ia mengira laki-laki dihadapannya ini adalah Pak Maman satpam penjaga yang bekerja dirumahnya.


Shakira mengucek matanya, barang kali obsesinya terhadap Roy begitu membara hingga semua tentang Roy begitu melekat padanya. Termasuk pandangannya yang mulai berhayal lagi, berhayal Roy lah yang sedang berada dihadapannya kini.


"Apa kau akan terus berdiri di depan pintu seperti ini ?"


Kau, dia memanggilku kau, berani sekali dia padaku, atau jangan-jangan memang manusia tidak tau diri itu yang ada disini.


Shakira kembali mengucek matanya, benar saja wajah ganteng nan rupawan serta bermata sipit yang selalu dipuja-puja olehnya memang benar berada dihadapannya kini.


Dengan mengumpulkan keberanian, Shakira menoel-noelkan telunjuknya di dada Roy. rupanya ia masih belum yakin, ia hanya ingin memastikan pria dihadapannya ini nyata atau tidak, bisa saja kan setelah beberapa bulan rumah ini tidak ia tinggali, hantu yang tunawisma merasa punya kesempatan menghuni rumah kosongnya.


Dan barangkali hantu itu menyamar jadi pria tidak tau diri ini.


"Eeehhmmm, sudah puas menjamahku ?"


Shakira terlonjak kaget, apa apaan ini, ternyata dia sungguhan...


Duh mati aku, dasar bodoh kenapa menyentuhnya seperti itu...


"Untuk apa kau kemari ?" tanya Shakira ketus, sebisa mungkin ia menghilangkan kecanggungannya.


"Aku ingin memberikan ini" jawab Roy, lalu ia menyodorkan sebuah kartu undangan yang dibalut dengan kertas berwarna merah, terlihat sederhana namun elegan dan tidak mengurangi kesan mewah.


"Apa ini..." rasanya seperti sebuah batu besar dijatuhkan menghantam keras dadanya, jangan bilang Roy akan menikah dan mengundangnya, tidak tolong jangan.


"Ini undangan, apa kau bodoh kertas semacam itu pastilah kartu undangan"


"Cih, kau tau aku menyukaimu dan kau malah dengan tanpa bersalah mengundangku, hei manusia tidak tau diri apa kau sangat merasa cukup tampan sedunia hingga kau tega mengundangku, astagaaahh ya Tuhan, kenapa juga aku bisa menyukaimu" Shakira sudah kepalang tanggung, ia sudah tidak perduli membeberkan kalau ia menyukai Roy, amarahnya hampir berada dipuncak, sedikit lagi pasti Roy akan pulang dalam keadaan mengenaskan dicabik olehnya.


"Terserah, aku hanya merasa harus mengundangmu, kau suka atau tidak terserah padamu" ucap Roy, ia paham pasti sakit rasanya yang dialami gadis dihadapannya ini. Namun bagaimanapun sebentar lagi ia akan menuju bahagia walau harus mengorbankan perasaan Shakira.


"Brengsekk, bajingan, pergi kau dari sini, dasar tidak tau diri..." maki Shakira, matanya mulai berkaca-kaca.


"Yaaa, santai saja, aku pasti akan pergi..." Roy berlalu meninggalkan Shakira yang tampak masih dalam mode terkejutnya.


Namun langkah kakinya terhenti, saat ia menyadari perlu mengatakan suatu hal. "Oh iya karena aku takut kau membuang undangannya, lebih baik aku mengundangmu secara lisan saja, Minggu depan di hotel ARAD jam tujuh malam, aku bisa pastikan kau akan datang" ucap Roy menyeringai.


"Cuihh, mimpi saja sana, untuk apa aku datang kalau hanya akan membuatku sakit, kau pikir aku bodoh" ucapnya lalu menutup dengan membanting kasar pintu ruangan itu.


Kau pasti akan datang, lihat saja nanti...


Bersambung...


Like, koment, gift, dan vote


Happy reading gaesss...