Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Takut ganggu kan ?


"Kenapa?" tanya Shakira. Wanita itu melihat gurat khawatir di wajah suaminya.


"Aku seperti mempunyai firasat buruk!" ungkap Roy.


"Firasat apa? pada siapa?"


"Tuan Muda, aku merasa Tuan Muda sedang di incar."


"Sudah sayang, tidak ada yang perlu kau takutkan, Tuan Muda adalah orang yang sangat tangguh, dirinya bukan hanya sekali berhadapan dengan musuh, namun dirinya tetap berada di atas juga kan." Shakira yang begitu yakin akan kemampuan Bosnya itu menganggap apa yang Roy ucapkan itu tidak benar.


Lagi pula siapa yang berani melawannya.


"Dia bukanlah orang yang mudah untuk dikalahkan." yakin Shakira.


"Tapi..."


"Sudahlah, kau juga belajar banyak darinya kan, bagaimana dirinya bisa menumbangkan lawan, kau yang paling mengetahui itu."


"Kau benar, seharusnya aku tidak meragukannya." ucap Roy kemudian.


"Nah sekarang kita sarapan!" ajak Shakira.


"Masak apa istriku hari ini?" tanya Roy.


"Tidak ada, hanya sandwich!" jawab Shakira sembari meletakkan dua buah piring berisikan sandwich untuknya dan Roy.


"Ini juga enak!" ucap Roy.


"Kalau mau protes bilang saya sayang, aku tidak akan marah, aku ini memang bukan istri yang baik."


"Tidak juga, siapa bilang?"


"Tiap hari bahkan aku hanya bisa memberimu makan yang itu-itu saja, telur kukus, sandwich, nasi goreng, goreng-gorengan, rasanya aku tidak berguna." keluh Shakira pada dirinya sendiri.


"Sedang suamiku tidak mau kalau makanannya beli, dia lebih memilih makan makanan gosong yang aku buatkan dari pada beli, yah aku harus bagaimana, begitu cintanya dirinya padaku!"


"Bukannya tidak mau sayang, tapi aku menghargaimu sebagai istriku, kau telah berusaha semampuku, selama bisa di makan kenapa tidak?" ucap Roy.


"Aku merasa kau semakin suka menggombal semenjak menjadi suami!" sindir Shakira.


"Aku juga!"


"Apa?" tanya Shakira.


"Merasa dirimu semakin cerewet semenjak menjadi istri!" aku Roy sembari tersenyum.


"Dasar Royand...!" pekik Shakira.


"Eett, apa aku bilang?" ucap Roy.


"Ih, kamu gitu mulu!" kesal Shakira.


"Panggil Abang, atau suamiku, tidak boleh panggil nama, pake kamu kamu seperti itu tadi juga nggak sopan lho!" Roy memperingatkan lagi.


Shakira cemberut, namun dalam hatinya bagai ada bunga-bunga yang bermekaran, inilah yang selalu ia harapkan saat bersama Roy, dan dirinya sudah berhasil.


"Nona, apa sebaiknya saya saja yang mewakili pembagian rapor Non Misca?" tanya Ipah, diiringan ikut prihatin pada kondisi Nona Mudanya, Shirleen hanya di saja sedari tadi, Ipah tau Nona Mudanya itu pasti sedang memikirkan Tuan Muda.


"Tidak apa, biar aku saja Pah, kan kamu juga ikut nanti." jawab Shirleen.


"Ya sudah, saya akan siap-siap dulu Nona!" izin Ipah.


"Iya!" sahut Shirleen.


Kini tibalah mereka pada sekolah Misca, orang-orang yang mengenal Shirleen karena pernikahannya dengan pewaris keluarga Adrian tersebut langsung tercengang mendapati Misca adalah anak dari Shirleen, yang secara tidak langsung bisa mereka simpulkan bahwa Misca Amalia Dharma adalah anak sambung dari Jason Ares Adrian.


Bisik-bisik mulai terdengar, ada yang memfoto ada juga yang kagum akan paras yang dimiliki Shirleen yang bisa menaklukan pemuda tampan kegilaan para netizen tersebut, dan tak sedikit pula yang menyayangkan, sebanyak yang Shirleen dengar ucapan protes tersebut dikarenakan umur Shirleen yang tidak muda lagi.


"Nona, apa boleh saya membereskan itu semua?" tanya Ipah yang sudah panas kuping mendengar ocehan orang-orang sekitar.


"Biarkan saja Ipah, tidak ada gunanya meladeni mereka." jawab Shirleen.


"Tapi Tuan Muda tidak akan senang jika tau begini."


"Biarkan saja Pah!"


"Baik Nona!"


Pidato penyambutan dari kepala sekolah sudah selesai, kini tibalah pengumuman siapa juara kelas pada semester ini, Shirleen tiba-tiba ingat dengan permintaan Misca.


"Pah, apa kamu tau apa permintaan Kakak kalau dia juara?" tanya Shirleen pada Maidnya yang sedang menjaga Jacob pada kereta bayi.


"Tidak Nona, pernah waktu itu saya tanyakan, namun Non Misca tidak mau bilang!" jawab Ipah.


"Oh begitu ya!"


Shirleen dan Ipah melirik Misca yang bergaul dengan teman-teman sekelasnya.


Semoga saja setelah banyaknya orang yang mengetahui status Misca, baik Ipah maupun Shirleen berharap gadis kecil itu tidak menjadi incaran netizen.


"Misca Amalia Dharma!" ucap kelapa sekolah setengah berteriak, Shirleen tidak tau apa yang baru saja dirinya dengar selain kepala sekolah yang menyebutkan nama putrinya, dirinya terlalu berfokus pada Misca hingga dirinya tidak tau kenapa alasan nama putrinya disebut.


"Kepada wali dari Misca Amalia Dharma kami persilahkan naik ke pentas, untuk menerima hadiahnya." suara Kepala Sekolah terdengar lagi, Shirleen tau mungkin saja putrinya itu mendapat juara meski entah juara ke berapa.


"Bunda, ayo maju, ambil hadiah Kakak!" suruh Misca yang entah sejak kapan sudah berada di dekat Shirleen.


"Eeh iya kak, duh juara yaaa..." ucap Shirleen memuji Misca.


"Kakak di sini dulu ya, bantuin Bi Ipah jagain Abang." lanjut Shirleen lagi, kemudian dirinya berlalu pergi naik ke pentas.


Setelah mengambil hadiah dan menyalami kepala sekolah, Shirleen baru menyadari bahwa putrinya mendapatkan juara satu di semester ini, Shireen kagum dengan putrinya, bangga sekali rasanya meski hanya ukuran untuk anak TK.


Sebentar lagi putrinya itu masuk sekolah dasar, semoga prestasi ini membawa dampak baik untuk Misca terus giat semangat belajar, batin Shirleen.


"Anak Bunda hebat!" pekik Shirleen girang, dirinya memberikan ciuman di seluruh wajah Misca.


"Kakak kan memang selalu hebat!" narsis Misca.


"Iya deehh, Bunda akuin!"


Acara sudah selesai, kini mereka semua memutuskan untuk pulang kerumah.


Shirleen sudah menanyakan keinginan seperti apakah yang akan dikatakan Misca, namun putri sulungnya itu bersikeras tidak mau mengatakannya sebelum mereka berkumpul semua.


"Kakak mau bilang kalau udah ada Papa juga bareng kita!" ucap Misca.


"Sebenarnya apa sih yang kakak mau? Bunda sama Bi Ipah kan jadi penasaran, ayo dong kasih tau!" rayu Shirleen.


Namun tetap saja, Misca pada pendiriannya, dirinya akan mengatakan kalau formasi keluarga mereka sudah lengkap.


"Heemm, ya udah deh kalau mau nunggu Papa." ucap Shirleen pada akhirnya.


"Bunda, Papa kemana sih? Kakak juga sebenarnya nggak sabar mau ngasih tau permintaan kakak, tapi Papa malah nggak ada, Papa nggak bakalan lama kan perginya?" tanya Misca.


Shirleen bingung harus mengatakan apa, dirinya melirik Ipah untuk mencoba berdiskusi.


Ipah hanya menunjukkan senyum dengan deret giginya, Maidnya itu juga tidak tau harus menjawab apa.


"Papa lagi di luar kota sayang, dan kalau nggak ada halangan besok juga pulang." jawab Shirleen yang menurutnya sudah membohongi putrinya itu.


"Oohh, pantes Kakak sama Bi Ipah di suruh tidur di kamar Bunda semalam!" ujar Misca.


"Apa? Kok gitu?" tanya Shirleen heran.


"Iya lah, kalau Papa ada di rumah kan Bunda nggak bakalan ngajak Kakak sama Bi Ipah tidur bareng, takut ganggu kan?" jelas Misca.


"Pffttt!" Ipah yang sedang mengemudi nampak menahan tawanya, karena dirinya yang pernah mengatakan saat Misca ingin pergi ke kamar Nona Mudanya itu waktu malam-malam.


Flashback.


"Jangan dong Kak, ini kan udah malem, kita balik tidur lagi yuk!" ucap Ipah mencoba membujuk Misca.


"Tapi Kakak mau tidur sama Bunda!" pinta Misca lagi.


"Kakak kan udah besar, katanya anak pintar, tidur sendiri kan udah biasa, sama Bibi aja yuk..." ajak Ipah.


"Iya kan sekali-sekali nggak papa kalau Kakak tidur sama Bunda?"


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Misca terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba rewel mau ikut tidur dengan Bundanya.


Ipah akan merasa sangat tidak nyaman jika dirinya tiba-tiba mengetuk pintu, meski Misca adalah anak Shirleen namun baginya kalau masih bisa dibujuk, itu lebih baik dari pada harus membangunkan orang tua dari anak yang sedang diasuhnya itu.


Ada singa di dalam kamar itu, batin Ipah.


"Jangan Kak, Bunda sama Papa lagi nggak bisa di ganggu kalau malam-malam begini, nah kalau Kakak mau tidur sama Bunda, besok harus bilang dulu dari siangnya, gak boleh mendadak kayak gini yah." jelas Ipah.


Misca nampak mengangguk mengerti, ah syukurlah batin Ipah.


Flashback off.


Dan ternyata kata-katanya itu menjadi boomerang untuk Ipah sendiri.


*


*


*


Like, koment, dan Vote.