Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kejutan untuk Shakira.


"Aah Ilen, kita ketemu lagi. nggak nyangka yaaa, eh kamu sendiri saja, nggak bawa anakmu itu, duh padahal anakmu lucu sekali, ngangenin meski aku baru bertemu satu kali" ucap Erni, ia tidak menyangka akan bertemu Shirleen lagi di sini.


Semenjak ia melihat berita viralnya Jason Ares Adrian yang menikah dengan Shirleen, bagai ada sebuah bongkahan batu besar yang menghantam tepat di dadanya, bagaimana bisa, awalnya ia memang tidak percaya.


Shirleen Damla Julian, iya Shirleen yang biasanya ia panggil Ilen yang adalah teman satu angkatan masa SMAnya dulu, nasibnya begitu beruntung, ia bahkan tidak habis pikir.


Dan yang lebih parahnya lagi, ia pernah berdebat dengan Shirleen, dengan sombong menantang wanita itu, sedang ternyata ia tidak ada seujung kukupun dibandingkan Shirleen.


Ia harus berbaikan, harus menciptakan kesan bagus dipertemuan yang tak terduga kali ini, semoga saja Shirleen tidak mengadukan perbuatannya yang dulu-dulu pada si Jason Ares Adrian itu pikirnya.


Shirleen mengkerutkan keningnya, kenapa lagi dengan si Erni pikirnya.


"Eh kok diam aja, seneng ya bisa dapet berondong, abis kamu memang cantik sih siapa coba yang gak kepincut, kulit putih bersih, wajah macam artis Turki, aku aja kalau laki-laki pasti udah suka" ucap Erni, ia mengoceh apa saja, melambung-lambungkan Shirleen mencoba menjadi teman yang supel.


Shirleen hanya menanggapi ala kadarnya, ia juga bingung harus berbuat apa.


"Eh, minta nomor kamu boleh nggak, kali aja kamu tertarik ikut arisan" ucap Erni lagi mulai sok asik.


Shirleen makin bingung harus menjawab apa, menghadapi orang seperti Erni harus sangat berhati-hati, ia tidak mau berurusan dengan orang semacam Erni, namun pasti sangat salah jika ia tidak menanggapi.


"Gimana, dari tadi diem aja, sultan kayak kamu apa sih yang dipikirin" ucap asal Erni.


"Maaf aku nggak bisa ngasih nomor aku, suamiku tidak mengizinkannya." jawab shirleen beralasan pada akhirnya.


"Heemm," sebenarnya Erni kecewa, karena tidak bisa mendapatkan nomor Shirleen, tapi ya sudahlah ia cukup mengerti seorang Jason Ares Adrian tidak akan semudah itu membeberkan privasi keluarga mereka. "Tidak apa, aku mengerti, suamimu pasti sangat menyayangimu hingga ia memperketat penjagaanmu seperti ini."


Shirleen tersenyum ramah, beruntung sekali Erni tidak tersinggung pikirnya. Padahal yang sebenarnya Erni memang merasa tersinggung, ia merasa diabaikan, pun dengan sifatnya yang selalu iri dengan Shirleen sedari dulu.


Sri sedang membuatkan makan siang untuk keluarganya, mereka akan santap siang dengan mewah rencananya, karena hari ini adalah hari terakhir ia dan Dareen tinggal di rumah orang tua Dareen.


Dareen berencana untuk hidup mandiri bertiga dengan Sri dan Fahira, Dareen menambahkan sebuah bangunan kecil bersambung dengan toko kelontong milik keluarganya, awalnya sebenarnya memang sudah ada sebuah bangunan seperti kamar, yang biasanya di gunakan untuk ia ataupun siapa yang sedang berjaga toko istirahat melepas penat, namun jika ditinggali ia dan Sri ruangan sekecil itu tidaklah cukup baik untuk mereka.


Maka Dareen membuat sebuah dapur minimalis, satu kamar serta ruangan untuk mereka bersantai semacam ruang keluarga.


Pada aktivitas siang ia akan bekerja mengurus peternakan sementara Sri akan membantu prangnya menjaga toko, itupun kalau oekerjaan rumah sudah beres dan Fahira tidak cerewet, Sri sebenarnya tidak diwajibkan oleh Dareen.


"Wah makan besar ini, bikin tumpeng untuk apa sih Bu." tanya Dareen, seakan heboh sekali ibunya ini melepaskannya dan Sri pikirnya.


"Ya nggak papa, ibu lagi kepingin aja, nanti kalau kalian sudah tinggal disana jangan sering-sering bertengkar, hidup rukun, Sri kalau Dareen salah, kamu sebagai istri berhak menegurnya, dan kamu juga Dareen."


"Iya Bu."


"Oke Bu."


Keduanya menyahut bersamaan.


"Bapakmu mana Dareen ?" tanya bu Halima, makanan sudah siap tersaji di meja, namun suaminya itu tampak belum juga keluar dari kamar setelah tadi katanya mau sholat dzuhur terlebih dahulu.


"Biar Dareen panggilkan Bu" usul Dareen.


"Ya udah sana, keburu dingin ini" ucap Bu Halima.


Lalu Bu Halima dan Sri bercerita apa saja, seputar tentang Dareen yang lebih dominan mereka pilih menjadi topik pembicaraan mereka sedari tadi, kini masih juga mereka lanjutkan ternyata.


"Sri kamu yang sabar yaaa" ucap Bu Halima.


Sri tercengang, sabar untuk apa selama ini Daren sudah sangat baik memperlakukannya.


"Jangan menyerah !" lanjut Bu Halima lagi.


"Iya Bu." ucap Sri.


Ah aku tidak apa Bu, sungguh, diperlakukan sangat baik oleh Mas Dareen seperti sekarang ini saja aku sudah bahagia, nanti biarlah ia menerima semua ini saat ia sudah benar-benar yakin.


Sri bermonolog dalam hatinya, ah Mas Dareen, aku akan menunggu waktu itu tiba.


Shakira serasa tenggorokannya tercekat kala mendapati surat yang diberikan Roy padanya, surat dengan amplop coklat tua, seperti surat PHK, ia tidak tau bagaimana rasanya di PHK seumur hidup ia belum pernah bekerja di kantoran.


Namun ia juga yakin, suaminya itu tidak akan dipecat dengan mudah, ia bisa melihat bahwa Jason sangat bergantung pada suaminya. Roy andil dalam sebagian hidup bosnya itu.


Ia membuka pelan amplop yang sempat membuatnya uji nyali itu, tebal sekali jika diraba dari luaran, ia tidak ingin menebak maka dengan segera ia melihat apakah isinya.


Matanya membulat, apakah benar ini isinya.


Flashback.


"Seorang Roy tidak akan pernah bertanya sekalipun itu isinya sebuah pisau yang akan membunuhnya" angkuh Jason.


Dengan pelan Roy membuka amplop coklat tersebut, matanya membulat kala mendapati hasil temuannya.


"Kenapa ? Kau tidak suka ?" tanya Jason.


"Tuan Muda, bagaimana bisa" ucap Roy tak percaya.


"Kenapa ?"


"Apa Tuan Muda mengizinkan ?" tanya balik Roy.


"Kau tuntaskanlah pekerjaanmu, aku ingin sebelum waktunya tiba aku tidak lagi dibebankan banyaknya pekerjaan" ucap Jason seolah tidak perduli.


"Terimakasih Tuan Muda, saya akan menuntaskan segalanya, jika saya tidak bisa menuntaskan sampai pada waktunya tiba saya rela tidak menerima hadiah dari Tuan Muda ini" ucap Roy penuh keyakinan dan semangat.


"Hemmm" singkat Jason.


Roy masih menunggu kalimat selanjutnya, kesan kesan ataukah pengusiran yang akan ia dapatkan.


"Kau pergilah" ucap Jason.


Roy pun kemudian berlalu, dengan wajah sumringah ia keluar dari ruangan Tuan Mudanya itu, membuat Mery sekretaris Tuan Midanya itu nampak heran.


"Ngapain kamu Roy semyum-senyum ?" tanya Mery.


Roy pun memperlihatkan apa yang diberikan Tuan Mudanya pada amplop coklat tadi. membuat Mery ingin histeris saat itu juga. Sebuah tiket honeymoon ke lima negara, Thailand, Jepang, Korea, Paris dan Turki, siapa yang tidak menginginkannya. Cuti Roy kali ini memang akan sangat menyenangkan nampaknya.


Ia akan memberitahukan Shakira saat semua pekerjaannya sudah selesai dituntaskan nantinya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!