Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Sebuah rekaman.


Jason terbangun kala mendapatkan panggilan telepon dari Darwin, begitupun Shirleen.


"Siapa sih By? Udah malam gini, nggak tau apa ini udah jadwal istirahat!" tanya Shirleen menggerutu.


"Ehm, aku angkat dulu ya!" izin Jason.


Tidak ada sahutan lagi dari Shirleen, ternyata istrinya itu kembali memejamkan mata tertidur.


Jason bangkit kemudian menuju ruang kerjanya, dirinya juga penasaran ada apa Darwin menghubunginya dini hari begini? Apakah tawanan mereka lepas? Tapi tidak mungkin kan! siapapun tawanan yang masuk ke situ tidak akan bisa lolos dengan mudah.


"Ya!"


^^^"Maaf Bos, jika saya mengganggu, namun saya hanya ingin menyampaikan berita penting. Saya sudah mengirim e-mail, Bos bisa mengeceknya, ada sesuatu di sana!"^^^


"Hemmm!"


^^^"Saya sudah menyelidiki tentang mereka!"^^^


"Kerja bagus! Ya sudah aku mau lanjut tidur, kau juga tidurlah jangan mengacau!"


^^^"Baik Tuan Muda!"^^^


Jason duduk di kursi kerjanya, dia mengecek e-mail yang dikirimkan Darwin, sebuah rekaman!


Weni tidak bisa tidur membayangkan apa yang tengah mengganjal di hatinya, sore tadi calon mertuanya itu menemuinya di Butik, membawakan sebuah kotak hadiah yang juga tengah dirinya pandangi saat ini.


Flashback.


Mama Wina tidak begitu banyak bicara hari ini, bukan seperti biasanya saat mereka bertemu, seperti ada kekhawatiran tersirat di wajahnya, Weni bisa menerka itu.


Saat ditanya, Mama Wina juga hanya menjawab seadanya, namun tetap mencoba menjadi seseorang yang menyenangkan dihadapan Weni.


"Selamat ulang tahun sayang, Mama mewakili anak bujang Mama mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, wanita yang sangat dicintai oleh Yudha kami." ucap Mama Wina, mengecup pipi kiri dan kanan Weni bergantian, membelai lembut rambut Weni dengan sayang.


Weni pikir Yudha lupa hari ulang tahunnya, namun ternyata tidak, karena ternyata tunangannya itu sudah menyiapkan segalanya.


"Mama..." rengek Weni seperti anak kecil saja, dirinya terharu.


"Ini dari Yudha!" ucap Mama Wina memberikan sebuah kotak berbentuk hati yang berwarna merah hati juga pada Weni.


"Apa ini Ma?" tanya Weni, dirinya menerima dan memandangi hadiah dari tunangannya itu.


"Pesan Yudha, isinya harus dibaca saat kamu sudah berada di rumah, Mama juga nggak tau apa isinya, Mama nggak berani buka, dia sudah nyiapin ini dari jauh hari sebelum dia balik ke Jerman waktu itu!" jelas Mama Wina.


Weni mengangguk, yah baiklah, dirinya akan membuka kejutan itu di rumah nantinya.


"Hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Mama Wina tiba-tiba.


Weni terdiam, pikirannya melayang jauh pada pertengkaran mereka lewat telpon tempo hari, meski sudah berbaikan seperti tiada masalah, namun masalah jarak dan waktu serta perbedaan pendapat selalu saja menghiasi drama hubungan mereka.


"Iya Ma, ada apa?" tanya Weni.


"Apa kamu benar tidak mau pernikahan kalian dipercepat?" tanya Mama Wina.


"Kenapa tiba-tiba Mama nanya begitu?" tanya balik Weni.


"Tidak apa, Mama hanya bertanya!"


"Weni, jika nanti..." ucapan Mama Wina terhenti, dirinya juga masih ragu untuk mengatakan itu pada Weni.


"Jika apa Ma?" tanya Weni lagi.


"Ehm, tidak apa! Ya sudah, Mama juga punya sesuatu untukmu!"


Mama Wina mengeluarkan sebuah kotak kecil bening, sehingga Weni bisa melihat bahwa isi dari kotak itu adalah sebuah cincin.


"Kau menyukainya?" tanya Mama Wina, matanya menunjuk pada cincin dengan hiasan batu permata berwarna merah itu, nampak elegan namun design cincin itu sepertinya sedikit khas, antik dan tentunya jika ditelisik bisa dibayangkan bahwa harganya tentu mahal, Weni bisa menjamin itu karena bentuk dan rupa perhiasan itu sungguh berkelas.


Weni mengangguk, dirinya tidak mau sampai salah bicara mengenai cincin itu.


"Mama menghadiahkan ini untukmu!" ucap Mama Wina.


"Ah tidak Ma!" Weni malah keceplosan menolak karena saking terkejutnya.


"Mengapa?"


"Em maksudku, mengapa untukku? harga cincin ini pasti sangat mahal, dilihat dari bentuknya sepertinya cincin ini bukan cincin biasa!" ucap Weni.


"Yah kau benar, cincin ini bukanlah cincin biasa, tapi Mama ingin menghadiahkan ini untukmu, sebagai calon istri Yudha." ucap Mama Wina.


Apa maksudnya? Apa Mamanya Yudha berniat ingin lebih erat mengikatku dengan cincin mahal dan antik ini? Bagaimana ini? Aku saja masih ada ragu di hati.


"Kenapa sayang?"


"Tidak apa Ma, tapi bukan maksudku menolak, Aku hanya bertanya, cincin semahal ini..."


"Ini adalah cincin Ibu mertuaku, Almarhumah Neneknya Yudha." ucap Mama Wina, wajahnya sudah berubah menjadi datar. Weni bisa merasakan aura tidak nyaman berada di dekat calon mertuanya.


"Bukan maksudku ingin mengikatmu, tapi jika dirimu masih ragu, tolong tinggalkan Yudha, meski kalian sudah bertunangan tidak apa, setidaknya itu lebih baik kalau kamu memang tidak menginginkan pernikahan." ucap Mama Wina.


"Maksud Mama apa?" tanya Weni.


Bagai dihempas bongkahan batu besar, mengapa tiba-tiba calon mertuanya mengatakan itu, Weni bukannya tidak mau atau tidak menginginkan pernikahan, dirinya mau, bahkan sangat mau, namun untuk saat ini dirinya merasa kondisi dan situasi tidak memungkinkan untuknya dan Yudha menikah.


"Mama sudah tau semuanya Weni!" tegas Mama Wina.


Weni terdiam, sudah tau, sudah mengetahui apa?


"Kau takut dikecewakan sementara kau sendiri secara tidak sadar bahkan sudah mengecewakan!" tegas Mama Wina lagi.


Ya Tuhan ada apa lagi ini, apakah Yudha mengadu ke Mamanya kalau aku tidak mau menikah saat ini, mengapa orang tua harus ikut campur masalah anak-anak sih, apa lagi aku dan anaknya belum menikah sudah seenaknya saja datang lalu marah-marah begini.


"Ma, bukan seperti itu!" Weni hendak menjelaskan, namun dirinya juga bingung harus menjelaskan bagaimana, sebenarnya apa yang sudah membuat Mama Wina mengatakan kalau dirinya mengecewakan, mengecewakan yang seperti apa dan bagaimana saja Weni tidak tau.


"Lalu seperti apa? Kau mementingkan kariermu, kau masih memikirkan diri sendiri, belum bisa memikirkan orang lain!" sanggah Mama Wina.


Weni baru saja mau membicarakan masalah kariernya pada Yudha, mencari jalan dan solusi tentang bagaimana baiknya, akan dibawa kemana, adakah jalan untuknya menikah lalu kalau bisa dirinya menginginkan kariernya tetap berjalan.


Namun apa ini? Bahkan Mama Wina sudah melabraknya. Apa benar Yudha yang mengadu? Kali saja kan!


"Ma, maafkan aku!" ucap Weni.


"Sudahlah Weni, Mama sebenarnya tidak menyukai ini, Mama tidak bisa marah padamu, Nak... Bukan maksud Mama ikut campur tentang hubungan kalian, namun Yudha sangat mencintai kamu, dan Mama juga berharap kalian bisa bersama!" ucap Mama Wina.


"Ma, Weni rencananya memang akan membicarakan ini dengan Yudha, aku juga mencintai Yudha, dan aku sebenarnya juga mau menikah dengan Yudha, namun kemarin hati aku memang terbagi antara cinta dan karier, hingga rasanya begitu sulit untuk membuat keputusan!" ungkap Weni, dirinya berterus terang saja, dirinya memang begitu sulit berada diantara dua pilihan.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!