Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Menurutmu aku harus bagaimana ?


Pemberitaan media yang menayangkan isu pembajakan yang dilakukan perusahaannya hilang tenggelam sudah. Jason sudah mengetahui perihal ini, itu semua pasti karena kekuasaan papanya, bisa ia pastikan Papanya pasti sedang kecewa saat ini karena misinya telah gagal.


Seketika Jason berubah menjadi anak pembangkang, inilah yang ia inginkan, melakukan semuanya sesuai isi hatinya. Kini ia begitu semangat mengepakkan sayapnya, pelan tapi pasti ia akan menjadi rajanya.


Bayang-bayang Shirleen masih terus menghantuinya, meski ia sudah menyibukkan diri dengan berbagai hal, ia tidak bisa jika tidak melihat wanitanya itu, ini terasa sangat menyiksa baginya.


"Roy, keruanganku sekarang..."


Ia memilih memanggil Roy lagi, ia tidak bisa terus begini.


Selang beberapa menit Roy pun datang menemuinya.


"Ya Tuan Muda"


"Apa sudah ada titik terang keberadaan Shirleen ?"


"Belum Tuan Muda, di kediaman keluarga Julian keberadaan Nona Shirleen juga tidak terlihat ada disana"


"Hemmm"


"Tidak ada penerbangan atas nama Nona Shirleen Tuan, saya sudah mengecek penerbangan beberapa hari ini, baik domestik maupun internasional"


"Di berbagai kota sekitar juga sudah saya tempatkan mata-mata untuk menyelidiki Nona Shirleen, namun belum juga ada kabar terbaru terkait keberadaan Nona Shirleen"


"Hah" Jason mendesah berat, kemana pergi pujaan hatinya itu. Kemana lagi ia harus mencari.


"Satu lagi, awasi gerak gerik Mamaku, Mama adalah orang terakhir yang berhubungan dengan Shirleen, aku ingin kau mengerahkan pengawalan ketat untuk Mamaku, kalau perlu sadap ponselnya"


"Baik Tuan Muda"


"Heemmm"


Saat dalam kesendirian, Jason sebenarnya mulai menemukan titik terang, ia tiba-tiba ingat surat dari Shirleen, mengapa bisa berada di tangan Mamanya, apakah Shirleen menemui Mamanya terlebih dahulu sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.


Dan jika benar, kemungkinan besar Mamanya mengetahui sesuatu.


Haruskah ia menculik mamanya untuk menanyai perihal ini supaya mamanya mau mengatakan sesuatu, tidak tidak hati nuraninya mengatakan jangan, bagaimanapun Mamanya adalah seorang ibu, yang tidak pantas untuk disakiti. Surga jaminannya.


Hilih, bicara surga, apa kabar banyak nyawa yang sudah game over.


Ia juga merasa bersalah telah membanting nampan berisi makanan saat itu, sungguh waktu itu ia hanya ingin sendiri, betapa kecewanya ia yang rapuh ini.


"Apa ada lagi Tuan Muda ?" Roy belum juga beranjak karena melihat raut wajah Tuan Mudanya yang tampak berpikir.


"Ya, menurutmu aku harus bagaimana ?"


"Maksud Tuan Muda ?"


"Roy, kau sudah menemaniku di beberapa tahun ini bahkan perusahaan ini kau juga yang paling mengerti, menurutmu aku harus apa ?"


"Eehh, maksud Tuan Muda ? Saya belum mengerti Tuan Muda" Roy nampak serius menyimak, kalau-kalau memang ia yang kurang fokus hingga ia sulit mengartikan maksud tuan mudanya.


"Heehh" Jason mendesah pelan, haruskah ia menanyakan ini pada Roy.


"Maksudku, kau yang sangat mengetahui bagaimana aku selama ini, dunia ku, pekerjaan kotorku, jika aku meninggalkannya, menurutmu bagaimana ?"


Sebenarnya jika boleh jujur Roy sangat senang akan pertanyaan Tuan Mudanya itu karena sejujurnya ia juga mengharapkan Tuan Mudanya hengkang dari dunia hitam yang sudah menjarah disebagian hidupnya, namun apa yang harus ia katakan, apa ini benar sebuah pertanyaan atau hanya basa-basi saja, bukankah jika ia bilang "Memang lebih baik berhenti" apa Tuan Mudanya itu akan setuju, atau jangan malah tersinggung dengan ucapannya mengingat betapa tempramenya bos sialan dihadapannya ini.


"Roy, kau dengar tidak ?" sebuah pena meluncur tepat mengenai keningnya. Ia yang nampak serius berpikir tidak sempat menghindar.


"Ii iya Tuan Muda"


"Maafkan saya Tuan Muda" Hanya bisa tertunduk, setidaknya itu lebih baik.


"Sudahlah, aku mau pergi, kau handel semua pekerjaanku, aku akan menemui seseorang"


"Baik Tuan Muda" Tidak ingin mendapat serangan lagi, membuat Roy lebih baik menurut saja.


Kemudian Jason mengambil jasnya, dan berlalu pergi meninggalkan perusahaannya.


Hari ini Riska ingin menemui Ibunya, ia sudah menerima semua takdir dalam kisah rumah tangganya, jika ia sudah bisa berlapang dada untuk memaafkan ibunya, namun tidak untuk suaminya, baginya jika setia tidak akan pernah tergoda ****** sekalipun suaminya ditempatkan hanya berdua dengan Riana.


Ia begitu membenci wanita yang sudah terkubur didalam tanah itu.


Keputusan meninggalkan Mas Rendi baginya sudah tepat.


"Riska..." Rendi yang hampir setiap hari memantau rumah sakit elit tempat mertuanya dirawat pun hari ini berhasil menemukan keberadaan istrinya hari ini.


Riska terdiam, ingin segera pergi namun kakinya bagai kaku untuk melangkah.


Tanpa memperdulikan orang sekitar, Rendi langsung memeluk mesra istrinya itu. Ia benar benar merindukan Riska dan juga Tiara.


"Mana Tiara ?" tanya Rendi saat sudah melonggarkan pelukannya, walau terlihat sekali tatapan jijik dilayangkan istrinya namun Rendi seolah tidak perduli.


"Untuk apa kamu nyariin dia ?" ketus Riska.


"Riska, Mas mohon maafin Mas, kita mulai dari awal lagi, kasihan Tiara jika kita harus berpisah, lagi pula Riana juga sudah tidak ada lagi didunia ini, Mas janji akan selalu setia" ucap Rendi penuh permohonan.


"Heh, akhirnya kamu ngakuin juga kan, bilangnya nggak pernah selingkuh, dan semua itu hanya tuduhanku, dasar munafik" Riska menatap nyalang laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


Bagai sebuah boomerang, Rendi tanpa sadar telah mengakui perbuatannya.


"Riska Mas minta maaf" sesal Rendi.


"Maaf Mas ?"


"Iya Riska, Mas benar-benar minta maaf, mas menyesal, kita bisa mulai semuanya dari awal,Mas janji kita akan hidup bahagia selamanya, hanya ada kamu, Mas, dan Tiara"


"Heh, sayangnya tidak mudah Mas, penghianat tetaplah penghianat" Riska mencoba berlalu pergi, namun tangannya langsung saja dicekal suaminya.


"Riska, please... Mas janji, beri Mas kesempatan kedua, sekali ini saja" Rendi membuang seluruh rasa malunya, harga dirinya sudah kepalang tanggung terinjak, kini ia sudah berlutut di kaki Riska, ia bahkan sudah terisak, ia tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang menatapnya, yang paling penting baginya rumah tangganya harus ia selamatkan. Ia begitu mencintai keluarganya terlepas dari kesalahan yang pernah ia perbuat.


Riska menatap tidak percaya dengan tindakan suaminya kali ini, apa benar Mas Rendi sudah menyesal, hatinya sakit mengalami ini semua.


Mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian saat ini, bahkan ada yang memvidiokan aksi Rendi yang seperti sangat tulus dari hati meminta maaf.


"Maafin Mas Riska, Mas menyesal, pulang sayang, pulang kita sama-sama lagi, kalian adalah tempat Mas pulang, jangan tinggalin Mas, Mas gak sanggup kehilangan kalian berdua" Rendi masih terisak sambil terus berlutut dikaki istrinya.


"Pulang sayang... Pulanglah istriku"


Riska tidak tega melihat suaminya berlaku demikian, perlahan tangannya terulur memegang pundak suaminya, mengisyaratkan untuk bangkit dari aksi berlututnya.


"Riska Mas minta maaf. maafin Mas" ucap Rendi seakan penuh penyesalan.


Entah apa yang dirasakan Riska saat ini, suara-suara itu masih saja memekakan telinganya, namun karena terapi yang ia rutinkan melalui Clara, serta permen penenang yang siap sedia menemaninya, perlahan suara laknat itu bisa diabaikannya walau masih terus berdengung.


Kini haruskah ia memaafkan laki-laki yang telah menghianatinya ini.


Bersambung...


Like, koment, gift, dan vote.