Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Bukan kehendak Mama Nak...


"Sayang..." Yudha memeluk Weni dari belakang, setelah sekian lama akhirnya ia bisa sampai di tahap ini.


Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, meski lelah namun Yudha juga penasaran dan ingin melaksanakan tugas di hari pertama mereka menikah, tidak apa meski harus lembur, Yudha ikhlas.


Weni merasakan gugup, wanita itu memejamkan matanya berharap semuanya akan baik-baik saja.


Dan juga sekilas bayang Mama Wina kerap kali melintas di pikirannya, dibebankan oleh sebuah janji, yang sebenarnya Weni sangat tidak menyetujui itu.


Apa ia harus diam saja sedang seseorang yang terkasih tengah menderita saat ini, sementara dirinya harus berpura-pura tidak perduli, bagaimana bisa?


"Yud..." panggil Weni, dengan masih memejamkan mata.


"Heemmm, kenapa sayang?" tanya Yudha parau, bisakah ia memulainya.


"Aku tidak bisa melakukannya!" ucap Weni pelan.


Yudha tersentak, "Kenapa?" tanya pemuda itu.


Weni membalikkan wajahnya menatap Yudha, pelan air mata itu menetes, maafkan aku Ma, aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa memegang janji yang kau gantungkan padaku, batin Weni.


"Bisa kita bicara?" tanya Weni hati-hati.


Meski sedikit kesal karena Weni seakan tidak membalas perlakuannya, namun Yudha tidak mau menampakkan itu, ia menurut saja.


"Ada apa?"


Weni menarik nafas pelan sebelum memulai menjelaskan.


Yah dirinya akan menjelaskan, apa yang telah terjadi, yang dirinya ketahui namun Yudha tidak mengetahui.


"Ini tentang Mama!" ucap Weni. .


"Mama! Kenapa?" tanya heran Yudha.


"Mama kamu sedang sakit Yud..." ucap Weni pelan.


"Hah?" Yudha menatap Weni butuh penjelasan, bagaimana bisa Weni bilang begitu, sedang tadi Mamanya nampak terlihat baik-baik saja.


"Maafkan aku, aku sudah merahasiakan ini darimu!" ucap lirih Weni. "Maafkan aku Yudha!"


Sesal dan juga takut Weni rasakan, wanita itu takut Yudha akan marah padanya.


"Jangan bohong Weni."


Nyatanya Yudha tidak akan mudah percaya, meski ia juga yakin Weni tidak mungkin main-main.


"Aku tidak bohong sayang, Mama Wina terkena kanker rahim stadium akhir." ucap Weni, dirinya mengambil sesuatu dari tas yang ia simpan di atas nakas.


Memberikan sebuah amplop pada Yudha, dadanya sesak, dan batinnya terus berucap maaf.


Tangan Yudha gemetar mengambil amplop dari tangan Weni, semoga saja apa yang ia takutkan tidak benar, jika Weni berbohong pun ia akan memaafkan, semoga tidak terjadi apapun pada orang tuanya yang tinggal satu-satunya itu.


Pelan dirinya buka, mata Yudha memanas, badannya ambruk di tempat kalau saja tidak ditahan oleh Weni, mengapa? Mengapa setelah kepergian Papanya, dirinya juga harus menelan pil pahit semacam itu lagi? Kehilangan orang-orang terkasih, mengapa keberuntungan seolah tidak berpihak padanya?


Yudha dan Weni sedang berada di hotel tempat mereka melangsungkan resepsi tadi, Yudha yang tadinya begitu bersemangat menginginkan malam pertama kini bagai sudah mati rasa, pikirannya sudah kalut dan hanya memikirkan Mamanya.


"Kamu udah tau, tapi kenapa nggak bilang sama aku?" Yudha menatap Weni penuh selidik.


"Aku terpaksa Yudha, Mama nggak ngizinin aku bilang sama kamu!" ucap Weni beralasan.


"Jadi kalau misal sampai terjadi apa-apa sama Mama, baru kamu mau bilang?" tanya Yudha.


"Bukan begitu Yud!" Weni tercekat, dirinya tau kalau tindakannya yang merahasiakan itu dari Yudha bukanlah suatu yang baik, namun mau bagaimana lagi, Weni berada dalam dilema saat itu, dan saat ini pernikahannya sudah terlaksana seperti apa yang diinginkan Mama Wina, Weni merasa sudah saatnya dirinya jujur tentang keadaan.


"Apa jangan-jangan ini juga sebabnya kamu sampai rela nyusul aku ke Jerman dan setuju buat nikah, apa iya?" tanya Yudha lagi, rasa kesal seketika menyeruak. Tidak, bagai ada sebuah batu besar yang menghantam tepat di ulu hatinya, jika benar begitu kenyataannya Yudha sungguh merasa dibohongi.


"Yudha, aku cinta sama kamu, bukan hanya karena Mama kamu, aku benar-benar udah merubah cara pikir aku, aku memutuskan untuk menikah sama kamu itu murni karena cinta..." Weni memegang erat tangan pemuda yang tadi pagi resmi menjadi suaminya, memeluk tubuh itu dengan penuh cinta. Mencoba meyakinkan melalui perlakuan.


"Udah Yud, aku nggak maksud gitu, sumpah demi Allah, aku nggak ada niatan nikah sama kamu karena orang tua kamu, bukan Yud, ini murni keputusan aku."


"Mama di mana yang, apa Mama di rumah sakit?" tanya Yudha.


"Di rumah! Yud maafin aku juga karena belum bisa buat kamu bahagia di malam pengantin kita, aku nggak bisa nyimpan rahasia ini terlalu lama, seenggaknya acara kita udah selesai dan bagi aku kamu berhak tau." papar Weni.


Yudha mengangguk paham, Weni melakukan itu pasti juga bukan murni kehendaknya, istrinya itu dipaksa keadaan.


"Kita pulang yang, aku mau sama Mama, mau temenin Mama!" rengek Yudha.


"Iya, kita pulang." Weni mengangguk setuju.


Keduanya berkemas, dengan terpaksa malam pertama yang sangat mereka nantikan harus ditunda, karena baik Yudha maupun Weni sudah tidak berniat melanjutkan, memikirkan tentang Mama Wina begitu berat rasanya.


Sekitar setengah jam berlalu, akhirnya pasangan pengantin baru itu sampai juga di rumah, rumah orang tua Yudha.


Tampak sepi, karena malam sudah sangat larut, pelan Yudha mengetuk pintu.


Ceklek,


"Den Yudha!" kaget pembantu di rumah Yudha, jelas saja bukannya pasangan pengantin baru itu seharusnya menikmati malam pengantin mereka di kamar hotel yang telah disediakan, lalu kenapa pulang ke rumah?


"Mama ada Bi?" tanya Yudha.


"Ada, Ibu di kamar!"


"Sayang, kamu taruh ini di kamar kita, aku ke kamar Mama dulu." titah Yudha.


"Iya Mas!" jawab Weni.


Yudha tersentak, hatinya menghangat kala Weni memanggilnya dengan sebutan 'Mas', sesenang itu mendengar perubahan kecil antara dirinya dan Weni.


Tersenyum manis pada sang istri, Weni pun juga membalas senyuman itu.


Yudha menuju kamar Mamanya, biasanya kamar Mamanya tidak pernah dikunci. Dan benar saja, Yudha bisa masuk kamar itu tanpa mengetuk pintu.


Pelan dirinya masuk, melihat Mamanya sedang tertidur, damai sekali wajah itu, seperti tidak menunjukkan kesakitan.


Namun mata Yudha memanas kala melihat kepala Mamanya yang hampir botak, ternyata kabar itu tidak bohong, ternyata istrinya tidak membohonginya, padahal Yudha sangat berharap pernyataan Weni tadi tidaklah benar.


"Mama..." panggilnya pelan, Yudha mengecup lama kening orang tua satu-satunya itu.


Mama Wina yang merasakan sentuhan lembut di keningnya pun menggeliat, sedikit kesal karena dirinya yang begitu sulit untuk tidur, dan saat ini tidurnya malah terganggu.


"Ugghh..." Mata Mama Wina membulat, kala dirinya mengerjapkan mata untuk bangun dari ketidaksadarannya, malah melihat wajah putranya yang menatapnya dengan penuh iba.


"Sayang..." serunya tidak percaya.


"Mama..."


Spontan saja Yudha langsung memeluk erat Mamanya. "Mama jangan tinggalin aku, Mama pasti sembuh, Mama nggak boleh pergi ninggalin aku, hiks hiks..." Yudha tidak kuasa membendung air matanya, luruh sudah pertahanannya.


Mama Wina juga, wanita paruh baya itu juga tidak mau meninggalkan putra satu-satunya itu.


Bukan kehendak Mama Nak, Bukan kemauan Mama... Mama sama sepertimu, hanya bisa berharap sebuah keajaiban akan datang...


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!