Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jangan mengumpat.


"By, sayang..." panggil Shirleen pada suaminya yang masih juga belum keluar dari kamar mandi, tidak ada suara gemercik air, Shirleen takut kejadian seperti hari ulang tahun Jason terulang, saat suaminya itu sudah terdiam duduk di kamar mandi, entahlah apa suaminya memang seperti itu saat sedang kesal namun tidak bisa melampiaskan.


"Bukain dong By, kamu lagi apa sih, Mas Athar udah pulang, kita juga harus balik kan!" ucap Shirleen.


Tidak ada jawaban, Shirleen hanya bisa menunggu pintu di buka.


"By..." panggil Shirleen lagi.


Ceklek, pintu dibuka, Jason nampak seperti habis menangis.


"Kau menangis By?" tanya Shirleen, ia meraba sisa-sia air mata yang masih membekas di pelupuk mata suaminya.


"Aku tidak bisa menahannya!" ucap Jason.


"Kau benar-benar mencintaiku, aku beruntung memilikimu." ucap Shirleen, spontan saja dirinya langsung memeluk sang suami, Jason menangis hanya karena mendengar masa lalunya, secinta itu kah suami berondongnya itu padanya.


"Aku tidak bisa menahannya By!" ucap Jason lagi.


"Iya, aku mengerti, terimakasih sudah mengasihiku, terimakasih sudah mencintai wanita tidak sempurna ini, terimakasih sudah mau menerimaku apa adanya, aku sangat mencintaimu By!" ucap Shirleen, ia mengelus sayang punggung suaminya.


"Mereka jahat sekali!" ucap Jason, ia sangat kesal, ia tidak terima atas segala yang di ceritakan Athar, namun kali ini dirinya tidak lagi bisa membalas semua perbuatan orang yang telah jahat pada istrinya, ia frustasi, jiwa bajingannya berkobar, namun sayangnya ia sudah berjanji.


"Ikhlas!" ujar Shirleen, "Saat kita ikhlas, Allah yang akan mengurus segalanya, tidak ada lagi balas dendam, mereka juga punya keluarga, tidak ada gunanya balas dendam By."


Bagai sudah tau apa yang tengah mengganjal di hati suaminya, Shirleen dengan tanpa ragu mengatakan itu.


"Susah sekali By, susah sekali rasanya!" ujar Jason.


"Kamu pasti bisa, ikhlas, kuncinya hanya ikhlas,


serahkan semuanya pada Allah, biarkan kita melihat rencana-Nya, Allah tidak pernah salah By, seperti aku yang dipertemukan denganmu, Allah juga tidak pernah salah mempertemukan kita." ujar Shirleen.


Jason melepaskan pelukan istrinya, "Bagaimana kau bisa mempunyai hati seperti malaikat By, aku yang setan ini sungguh tidak bisa menerima."


"Aku selalu diajarkan oleh orang tuaku supaya tidak terlalu membenci, kau tau saat aku memilih meninggalkan Mas Athar, memilih menceraikannya, hal yang selalu membuatku kuat ya hanya sabar dan ikhlas, aku mencoba ikhlas, jika aku tidak ikhlas, aku akan selalu protes tentang apa yang telah terjadi padaku saat itu." terang Shirleen.


"Aku mengikhlaskannya bahagia, meski nyatanya aku tidak bahagia dengan keadaan yang menimpaku, namun lihatlah, Allah menggantikan Mas Athar dengan seseorang yang lebih, Dia mengirimkanmu padaku, seseorang yang nyaris sempurna tidak ada cela." lanjut Shirleen.


"By, aku tidak setinggi itu, jangan berlebihan!" ujar Jason, ia yang merasa sangat buruk itu rasanya tidak bisa terima dengan pujian Shirleen.


"Hanya saja, kamu kurangnya pengetahuan tentang agama, hingga membuatmu kadang salah langkah, dan sekarang kamu sudah berjanji akan berubah kan By, jadi jangan membalas, biarkan kita serahkan semuanya pada Allah."


Jason mengangguk paham, meski berat ia akan mencoba.


"Yuk pulang, anak-anak sudah menunggu di rumah." ajak Shirleen.


"Ya sudah, aku mau ganti celana dulu." ujar Jason yang saat ini masih menggunakan handuk.


"Kau menggemaskan sekali By, bisa-bisanya menyambut tamu dengan pakaian seperti itu." ujar Shirleen.


"Lebih menggemaskan lagi saat melihat tempat tidur itu berantakan lagi kan!" ucap Jason sembari menaikturunkan alisnya.


"Ah iya, dasar, Mas Athar pasti berpikiran yang enggak-enggak tentang kita tadi."


"Emang aku maunya gitu!" aku Jason tanpa dosa dengan ekspresi wajahnya yang minta ditabok panci.


"Dasar ngeselin!" umpat Shirleen.


"Jangan mengumpat, karena semakin kau mengumpat kau juga akan semakin cinta." ucap Jason.


"Dih mana ada pernyataan begitu, konyol." protes Shirleen.


Shirleen nampak berpikir, ah iya juga, memang benar nampaknya, duh mengapa seperti itu kenyataannya, memalukan sekali kan.


"Kau senyum!" ucap Jason karena kini Shirleen terlihat menarik sedikit sudut bibirnya.


"Aku tidak percaya!" ucap Shirleen.


"Hahahaha, tidak percaya kalau memang benar begitu maksudmu?" tanya Jason diiringi gelak tawa, menggemaskan sekali istrinya ini pikirnya, "Sudah sudah, akui saja By!"


"Ini gila, sebenarnya kisah cinta apa yang telah terjadi pada kita By?" ujar Shirleen, bagaimana bisa semua yang di katakan Jason benar adanya, bahkan dirinya sudah tergila-gila dengan suaminya itu saat ini.


"Hahahaha!" Jason tertawa puas sembari mengambil celananya dari dalam lemari dan langsung melepas handuk untuk mengganti dengan celana.


Sementara itu,


Angga sedang termenung saat ini, dari mulai semalam pikirannya sedikit banyak pasti selalu tertuju pada cewek bernama Rara.


Entah apa yang membuat Rara kelihatan seperti marah besar padanya, ia mencoba menganalisa apa kesalahannya.


"Apa karena gue tanya dia kerja apa, biasanya kan cewek suka minder kalau ditanya kerja, mungkin kerjanya gak bagus-bagus amat!" gumam Angga.


"Heemm, tapi kok marahnya gitu, nyeremin banget." lanjutnya lagi.


Angga mencoba mengingat-ingat tentang Rara, cewek itu awalnya terlihat sangat menyukainya, namun tiba-tiba...


Aahhhh, Angga mulai mengingat sesuatu, mungkinkah dirinya benar-benar pernah berkenalan dengan Rara, hanya saja dirinya sedang dalam keadaan tidak tanggap, tapi dimana?


"Rara Rara Rara." gumamnya berulang.


"Astagah, Rara kan..." pekiknya, ia mulai sadar kalau ada seorang cewek yang ngajakin dirinya kenalan saat di acara pertunangan Yudha, mungkinkah cewek itu Rara, dan lagi lagi ia terkejut kala mendapati Rara juga yang pernah ia temui di Butik Angel's W alias Butik Weni.


"Ya pantes aja tuh cewek marah sama gue, gue udah ketauan bohong."


Jam dinding menunjukkan pukul 10:33, tanpa pikir panjang lagi Angga mengambil kunci motornya untuk mendatangi Butik Weni, ia akan menemui Rara di sana dan meminta maaf, kalau bisa sepaket dengan ngajakin kencan jika saja ia berhasil membujuk Rara.


"Mau kemana lo?" tanya Kak Diran karena melihat sang adik nampak buru-buru.


"Ada urusan bentar." dalih Angga.


"Eetttt, nggak bisa, lo nggak inget pesan nyokap?" tahan Diran, Mamanya memang menyuruh Angga untuk bersiap-siap karena Angga akan menjadi supir untuk sang Mama satu hari mencarikan seserahan untuk di bawa ke rumah calon istrinya.


Sebentar lagi Diran kakaknya Angga akan menikah, dan sudah biasa Angga yang menemani mengantar kesana kemari apa yang Mamanya butuhkan. Dibanding dirinya, sang adik lebih dekat dengan Mama mereka.


"Gue ada urusan ege, lo aja kan bisa, lagian Mama kan belanja untuk bini lo." ucap Angga.


"Lo lupa pesen nyokap?" ancam Diran.


Kakak kamu itu usahain selain ke kantor jangan lagi kemana-mana, ini udah mau masuk lima belas hari, kamu aja yah yang anterin Mama.


"Kan belum lima belas hari!" dalih Angga.


"Ya lo protes aja sono telpon Mama." tantang Diran lagi.


"Aaarrgghh, Diran sialan, yang mau kawin elo, kenapa gue yang repot sih!" teriak Angga, ia sungguh kesal.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...