
Jason tengah menikmati wajah kekasihnya itu, ia merasa beruntung sebentar lagi ia akan menikahi Shirleen, bayi dikandungan Shirleen akan lahir dua bulan lagi menurut prediksi, ia akan mempersiapkan segalanya untuk menjadikan wanita disampingnya itu miliknya.
Ia mengecup singkat punggung tangan Shirleen, seolah berucap ia benar benar mencintai wanitanya.
Namun sebuah bundalan kertas mendarat dipangkuannya, ia menoleh mencari si pelempar, namun ia tidak menemukan siapapun yang mencurigakan.
Dibukanya kertas itu pelan-pelan, ia menggeram membaca tulisan yang memang ditujukan padanya.
Dasar mesum, ini bioskop woy bukan tempat mojok.
Ia kembali mengedarkan pandangannya dengan lebih teliti. Dan ketemu.
Ketiga sahabatnya tampak menggigil menahan tawa dari kejauhan.
Namun bukannya malah terganggu dengan aksi menguntit sahabatnya, Jason malah makin gencar bermesraan dengan Shirleen.
Udah tau jomblo, biar gila lo pada sekalian.
Yah benar saja, dari pada mendatangi mereka kemudian marah-marah, akan lebih baik menguji iman cetek mereka bertiga saja, bagi Jason itu pasti sudah sangat memberatkan para sahabatnya. Jason menyeringai.
Dasar nggak tau malu, usia aja mentah kelakuan bejat.
Ya Tuhan mata suci gue, dasar Jason minim akhlak.
Gue malah nggak yakin tuh anak Tuan Muda keluarga Adrian, bisa-bisanya si kampret mojok di Bioskop.
Jangan salahkan Mama Mila mengandung, tolong jangan.
Ketiga sahabat Jason yang mempunyai tujuan awal untuk mengganggu kencan si Jason nampak meneguk salivanya kasar, diluar dugaan Jason malah mengajak mereka nobar kiss scenenya secara live.
Membuat jiwa jomblo ketiganya meronta-ronta,
Dasar Jason sialan.
Disisi lain, Athar masih termenung dikamarnya, pikirannya benar-benar buntu, sekarang apa yang akan ia putuskan.
Bagai makan buah simalakama, ia begitu dilema dihadapkan dengan kenyataan yang terjadi pada hidupnya.
Uang, uang dan uang, hanya itu yang ia butuhkan sekarang, tabungannya sudah terkuras habis, uang hasil pinjaman dari kantornya pun sudah tidak sampai setengah, namun uang itu tidak boleh gegabah digunakan, mengingat kondisi Riana belum juga menunjukkan perubahan membaik.
Tapi disana Ibunya juga membutuhkan benda mati yang sangat dipuja-puja manusia itu. Ibunya harus segera diobati, ketiga kakaknya benar ialah yang harus bertanggung jawab.
Dreetttt dreettt dreeettt...
Ponselnya berbunyi, dilihatnya tertera nama Pak Ferdy atasannya di kantor. Ia segera mengangkat panggilan itu.
^^^Kau sudah kembali Athar ?^^^
Ya Pak, kemarin. Ada apa Pak, maaf saya tidak masuk, saya pikir saya masih cuti hari ini.
Kalau Bapak bisa mempercayai saya, saya akan berusaha menggantikan bapak untuk sementara.
^^^Ah sudahlah, buat apa saya tidak percaya sama kamu, kamu memang bisa diandalkan Athar.^^^
Terima kasih Pak, jadi hari ini saya harus masuk kantor kah ?
^^^Ah tidak usah, besok saja, kebetulan saya juga besok sore baru berangkat, jadi kita masih bisa bertemu pagi harinya.^^^
Ah iya, terimakasih Pak.
Athar menghela nafasnya berat, rasanya ia ingin istirahat saja, tidur panjang dan melupakan segalanya, masalah yang ia hadapi begitu sulit, kali ini ia benar-benar menemui jalan buntu.
Namun mengingat hutang yang menggunung pada kantor, membuat ia tidak bisa bermalas-malasan, ia tidak menyangka di seumur hidupnya ia akan mempunyai hutang sebanyak itu.
Ia bangkit dan memilih untuk membasuh mukanya yang nampak kusut, ia harus segera menyadarkan diri bahwa inilah kenyataannya, beban pikiran yang melanda kepalanya akhir-akhir ini membuat Athar benar-benar tak terurus.
Namun belum sampai langkahnya ke kamar mandi, ponselnya kembali berdering.
Suminem menelpon, ada apa lagi ini batinnya.
Athar tidak bisa membiarkan panggilan itu, diraihnya benda persegi yang mempersatu semua umat tersebut.
^^^Maaf Tuan, Nyonya Riana, eemmm borok di kakinya sudah menyebar hingga ke paha atas, kalau bisa kata dokter nyonya Riana harus segera di amputasi, supaya boroknya tidak menyebar ke bagian lain. Dokter minta persetujuan Tuan.^^^
Tapi saya tidak bisa kesana, bagaimana ?
^^^Kata Dokter, silahkan dirundingkan dulu dengan keluarga, tapi dalam waktu dekat ini Nyonya Riana harus segera diamputasi.^^^
Eemmm, ya baiklah Nem, kamu tolong jaga Riana yah, nanti saya akan pikirkan solusinya.
^^^Iya Tuan.^^^
Athar kembali menghela nafasnya berat, Tuhan seakan tidak berhenti mengujinya.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, dan vote yaaa
Happy reading*** !!!