
Subuhnya pertengkaran sengit terjadi antara sepasang suami istri yang baru saja memadu kasih semalam, Shirleen terlihat marah karena Jason yang dinilainya lambat dalam mengerjakan sesuatu, sedang ia pikirannya terus tertuju pada Jacob yang ia tinggalkan dirumah.
Shirleen juga kesal karena Jason hanya bisa berucap sabar dan santai saja, sabar sabar kepalamu kau pikir enak nahan sabar, umpat Shirleen dalam hatinya.
Jason bahkan sudah melakukan panggilan vidio pada mamanya supaya Shirleen yakin bahwa bayinya baik-baik saja, namun cara itu tidak bertahan lama, sekitar setengah jam kemudian Shirleen kembali berucap cemas pada anak bayinya.
Sudahlah, ini termasuk salah satu resikonya, dengan terpaksa Jason harus check out pagi-pagi sekali.
Akibat pertengkarannya subuh ini, membuat Jason harus absen menayangkan peristiwa subuh, tampaknya yang telah ia jadwalkan tidak bisa sesuai rencana.
"Ngapain kamu, kesel ?" tanya Shirleen saat melihat Jason menekuk wajahnya.
"Tau ah" singkat Jason cuek. Ia kemudian memfokuskan dirinya pada gadget, ia akan mengecek beberapa laporan yang dikirim Roy semalam.
"Aku nggak bisa jauh dari Jacob By, ngerti lah" jelas Shirleen sekali lagi, berharap suaminya itu akan mengerti.
"Iya aku tau..." ucap Jason, masih dengan cueknya ia enggan mendengar alasan yang sama lagi dari mulut istrinya itu, padahal kan ia sudah menjamin kenyamanan Jacob yang diasuh kedua omanya, apa istrinya itu tidak percaya pada kedua mamanya.
"By..." Shirleen memegang lengan suaminya yang matanya masih saja terfokus pada pekerjaan di layar gadgetnya.
"Heehh" desah berat Jason "Aku nggak akan lagi ngajakin kamu wik wik selain dirumah, bulan madu aja keknya kita tunda dulu, aku nggak bisa bayangin kamu nggak berhenti nyerocos dari subuh tadi khawatirin Jacob, kan udah dibilang Jacob baik-baik aja" ucap Jason, tanpa peduli beberapa orang yang sedang menikmati sarapan di hotel tersebut menoleh kearahnya, bahkan ada yang tersedak karena mendengar tujuannya menginap di hotel ini.
Karena kesal Jason tidak memelankan suaranya, sebenarnya ia tidak juga keras mengatakan itu, namun sayangnya masih bisa didengar orang yang berada dekat dengannya saat itu.
Beruntung saat ini ia memakai atribut lengkapnya, topi, masker dan kacamata, sehingga orang lain akan menganggapnya orang biasa yang mungkin saja sedang berbulan madu.
Shirleen begitu malu, bagaimana bisa Jason berbicara tidak difilter semacam itu. Beberapa orang menatap heran padanya.
Sudahlah buibu kami pengantin baru, ngeliatinnya jangan kek gitu juga kali.
Shirleen berucap dalam hatinya, ia mulai sedikit risih.
"By, ayo pulang..." ucap Shirleen, kali ini ia tidak bisa menunggu lagi, selain karena Jacob,alasan lainnya ditambah lagi kali ini ia sungguh amat malu.
"Sebentar, tunggu supir Mama dulu jemput kamu, bentar lagi nyampe By, kamu nanti pulang sendiri, aku akan ke kantor karena harus rapat sebentar lagi" ucap Jason.
Shirleen hanya bisa menunggu, dan benar tidak lama supir keluarga Adrian sudah berada di depan, Shirleen lalu pulang sementara Jason menuju mobilnya untuk berangkat ke kantor.
Sesampainya di rumah, Shirleen langsung menemui Jacob, kelegaan terpancar di wajahnya kala sudah melihat wajah putranya itu.
Ia memeluk Jacob sayang, menciumi bayi itu bagai sudah lama tidak bertemu, entahlah naluri seorang ibu memang tidak bisa di ajak kompromi jika tentang anak.
"Kenapa buru-buru pulangnya sayang, Jacob gak rewel kok" ucap Mama Nena.
"Tidak Ma, Suamiku memang harus berangkat ke kantor pagi-pagi, jadi aku juga langsung pulang saja" ucap Shirleen sembari mulai menyusui Jacob.
Ia sengaja berkata demikian, supaya tidak menyakiti hati kedua mamanya, jangan sampai para oma ini berpikir ia tidak percaya meninggalkan Jacob pada mereka bedua.
"Ya sudah, kamu sudah makan ?" tanya Mama Nena.
Sri sedang menyiapkan pakaian sekolah untuk suaminya, ia tidak menyangka akan menikah muda dengan seorang anak SMA, meski umur mereka hanya terpaut satu tahun, namun tetap saja rasanya ia tidak menyangka.
Dareen keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk, ia melihat Sri yang sedang memberi susu pada Fahira, ia jiga tidak bisa percaya benarkah Fahira adalah anak sambungnya saat ini ?
Ia seakan tidak bisa menerima bahwa sudah menjadi suami orang dan bahkan sudah menjadi seorang ayah.
"Mas Dareen, itu seragamnya sudah saya siapkan" ucap Sri. Ia memberikan senyuman terbaiknya untuk menyambut sang suami di pagi hari, meski saat ini ia juga harus menahan segala rasa malunya karena melihat suaminya yang tengah bertelanjang dada sehabis mandi.
"Heh jangan sok perhatian lo, gak guna tau nggak" bentak Dareen. Entah mengapa rasa penasarannya terhadap Sri waktu itu bagai sudah tiada lagi, yang ada sekarang hanyalah rasa benci, benci karena dinikahkan secara paksa pada orang yang mungkin sangat tidak ia harapkan.
"Tapi Mas..."
"Heh Mas lagi, udah gue bilang gue bukan Mas lo, lo paham bahasa nggak sih" sanggah Dareen dengan bentakan kasarnya.
"Mas Dareen, tolong jangan bicara keras-keras kasihan Fahira" ucap Sri. Ia melihat Fahira yang seperti terkejut saat mendengar bentakan Darren.
"Peduli amat, anak anak lo" ucap Dareen dengan angkuhnya.
Dan Sri, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan Dareen itu, tenggorokannya tercekat, bibirnya kelu, ia bisa dihina ataupun di benci oleh Dareen, karena dia mengerti mungkin Dareen masih belum bisa menerima kehadirannya. Namun Fahira, disini Fahira tidak bersalah, anak sekecil Fahira tidak bisa di benci hanya karena pernikahan konyolnya dan Dareen.
"Mas..." Fahira tidak melanjutkan ucapannya, rasanya ia tidak sanggup untuk berbicara dengan Dareen lagi, bahkan ia seakan benci untuk memanggil Dareen Mas lagi seperti pegangan teguhnya saat mencoba menerima pernikahannya.
"Apa ?" tanya Dareen, ia melihat tatapan amarah pada wajah yang biasanya teduh itu.
Sri tidak lagi bicara, ia membawa Fahira keluar dari kamarnya, saat ini ia tidak mau berlama-lama berhadapan dengan Dareen karena itu bisa saja membuatnya hilang kendali. Ia tidak ingin menjadi istri durhaka dengan berbicara lebih tinggi dari sang suami, karena saat ini jujur saja ia sangat ingin marah dan mencaci suaminya itu, dan mengatakan jangan terlalu membencinya apa lagi sampai melibatkan Fahira.
Ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskan pelan, hal itulah yang ia lakukan berulang untuk meredam emosinya, berharap ia bisa selalu sabar atas perlakuan Dareen.
Kepalanya mulai dingin, ia memejamkan matanya, mengucap istigfar berkali-kali. Semua akan ia serahkan pada yang kuasa, termasuk pernikahannya ini.
Baginya Allah mungkin sudah menggariskan takdirnya, ia percaya rezeki, jodoh, maut itu semua sudah diatur oleh yang kuasa, ia hanya perlu menjalaninya dan bersabar serta tawakal atas segala ujian yang ia terima, juga selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
Dan juga Fahira, ia yakin pertemuannya dan Fahira juga sudah ditakdirkan oleh yang kuasa, sehingga ia bisa menjadi ibu untuk bayi yang saat ini tengah dalam dekapannya.
Sementara di kamar, Dareen sedang menyeringai. Ia akan membuat Sri tidak tahan dengan perlakuannya dan segera meminta cerai darinya.
Ia sudah merencanakan itu meski usia pernikahannya baru menginjak dua hari, ia membentengi hatinya untuk tidak akan pernah jatuh cinta pada Sri.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!