Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jason lembur.


"Sri." panggil Dareen, hari sudah sangat sore saat ia sampai di rumahnya.


Toko terlihat ramai saat ia datang, dilihatnya Sri juga ikut melayani pembeli.


"Udah lo mandi sana, udah sholat ashar belum lo ?" ucap Dareen, ia melihat Sri tampak lelah, ia langsung saja mengambil Fahira dalam gendongan istrinya itu.


"Sebenarnya belum Mas." jujur Sri.


"Astagfirullahaladzim Sri, kan udah gue bilang lo itu nggak perlu terlalu sibuk di toko, kalau gak ada kerjaan aja baru bantuin, ini sampe ninggalin sholat." ucap Dareen, pemuda itu meski bicaranya agak kasar namun Dareen termasuk pemuda yang taat akan agamanya, ia tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya.


"Iya maaf Mas." sesal Sri.


" Udah udah, kalau masih keburu buruan sholat, kalau nggak nunggu magrib aja." ucapnya.


Sri pun menurut, ia meninggalkan toko dan langsung saja melaksanakan sholat ashar, masih ada sedikit waktu.


"Dedek udah mandi ?" tanyanya pada Fahira, bayi itu mulai aktif, semalam saja ia melihat Fahira sudah berhasil merangkak satu dua sampai tiga langkah, cepat sekali perkembangannya.


"Masih acem baunya, Ibu gak sempet mandiin yaaa," ucapnya lagi. "Nis, nanti tutup aja tokonya, kalian boleh pulang, mulai hari ini toko ini nggak akan buka kalau malem." ucapnya pada salah satu pegawai toko.


"Iya Mas Dareen."


Dareen kemudian membawa Fahira ke dapur, mereka hanya mempunyai satu kamar mandi di dekat dapur, Dareen dan Sri benar-benar hidup secara sederhana saat ini.


"Mandi dulu ya si cantik." ucapnya memanjakan Fahira, Dareen lalu membuka pakaian Fahira untuk kemudian memandikan bayinya itu.


Sri sudah selesai sholat, ia mengambil alih Fahira yang sudah selesai dimandikan Dareen, membawa bayinya itu ke kamar untuk dipakaikan pakaian.


Dareen sudah mandi di rumah orang tuanya tadi, sebelum pulang kerumah ia menyempatkan diri mampir sebentar ke rumah orang tuanya karena ada yang ingin ia ambil, ia.lalu mengikuti Sri dan Fahira ke kamar.


"Sri..." panggilnya.


"Iya Mas." jawab Sri sembari terus mengurus Fahira.


"Ini buat lo." Dareen memberikan sebuah amplop pada istrinya.


"Apa ini Mas ?" tanya Sri.


"Itu jatah lo bulan ini, pergunakan sebaik-baiknya, kalau lo mau beli kebutuhan pribadi lo atau apa lah, lo pake aja tuh duit." ucap Dareen.


"Oh, iya Mas, terimakasih yaaa." ucap Sri.


"Nanti lo siap-siap, ntar malem kita mau belanja kebutuhan rumah, duit itu tadi lo simpen nanti belanjanya biar pake duit gue."


"Iya Mas."


Jason baru saja sampai di kantornya setelah tadi ia baru saja selesai mengecek rumah produksi yang berada di Desa Y.


"Kamu pulang saja." ucap Jason pada sekretarisnya Mery.


"Baik Tuan Muda."


Jason sengaja pulang ke kantor bukannya langsung pulang kerumah, ia berencana untuk lembur karena lusanya ia akan menghabiskan waktu bersama ketiga sahabatnya.


Ia mulai mengerjakan berkas yang biasanya dikerjakan oleh Roy, ia tidak melibatkan Mery sama sekali, yang sebenarnya adalah ia tidak ingin berlama-lama berdekatan dengan wanita.


Ia sudah mengabari Shirleen bahwa dirinya akan lembur, Shirleen juga sudah membalas pesannya bahwa istrinya itu sedang berada di rumah Weni saat ini.


Sungguh bekerja sendiri tanpa bantuan Roy benar sangat melelahkan, Roy sudah bagai nyawa baginya.


Bahkan Jason berapa kali harus merentangkan jari-jarinya yang mulai penat, dengan begitu kenyataannya ia bahkan berpikir harus menambahkan bonus lagi untuk Roy dimulai dari bulan ini sebagai bentuk terimakasihnya.


Shirleen sedang seru-serunya membahas apa saja dengan Weni.


"Wen, lo tau nggak, Athar masuk rumah sakit." ucap Shirleen.


"Hah, Athar ?" ulang Weni memastikan, mereka tadi sedang asik tertawa karena Shirleen habis bercerita tentang Erni teman masa sekolah mereka dulu, lalu tiba-tiba topik sudah berganti saja dengan Athar, apa-apaan bawa-bawa rumah sakit, Weni terkaget, ia belum bisa mencerna dengan baik.


"Iya Athar, aku aja baru tau dari Jason, hemm katanya sih ni ya Athar menjadi korban penusukan, aku ingin tanya kenapa bisa gitu tapi aku nggak berani sama tuan penguasa." terang Shirleen lagi.


"Hah kok bisa sih." Weni tidak percaya, Athar, korban penusukan ?


"Aku juga nggak tau Athar di rawat di rumah sakit mana Wen, eh kasihan banget tau, ternyata istrinya itu udah meninggal, dia dipecat dari kantornya, dan sekarang malah tinggal dirumah orang tuanya." Shirleen mulai bergosip.


"Hah, kok bisa gitu, beberapa bulan yang lalu sebenarnya Athar pernah ke Butik aku sih nanyain kamu, waktu itu kalau nggak salah kamu belum nikah sama Jason, dia nyari-nyari kamu, dan karena waktu itu aku juga nggak tau kamu dimana aku bilang aja aku nggak tau, waktu itu aku benci banget tau sama dia, dia itu udah buat kamu menderita, aku jijik banget tau dia selingkuh sama jal*ng kayak gitu, ih kadang nih ya aku suka berdoa semoga si Athar dapat ganjarannya, semoga dia juga menderita, tapi denger cerita kamu kali ini, iya kok aku malah jadi kasihan." ucap Weni, jujur saja rasa itu masih ada, mendengar kenyataan yang dialami Athar ia mulai tersentuh, kasihan sekali pikirnya.


"Ya makanya, aku juga kasihan, tapi aku nggak berani peduli terlalu lebih, aku males bikin masalah si tuan penguasa tau sendiri lah." keluh Shirleen.


"Cemburuan ?" tebak Weni.


"Heemm, biasalah bocah." angguk Shirleen, malam itu ia sudah berdebat dengan Jason, meski sudah ia beri pengertian dan Jason nampak luluh, namun bukan berarti ia bisa seenaknya menanyakan Athar pada suaminya, ada hati yang harus ia jaga, terlebih jiwa muda Jason kadang membuat emosinya menjadi tidak stabil.


"Ngatain suami bocah, nah Ibu kenapa mau kewong sama bocah ?" ejek Weni.


"Ya gimana ya Bu, bocahnya ganteng gitu." bangga Shirleen.


"Iye dah, ganteng, makan tuh ganteng."


"Eitss, kamu jangan gitu dong, kamu juga calon dinikahi bocah ini." Shirleen balik menggoda Weni.


"Hah, maksudnya apaan ?"


"Hilih jangan ngeles kamu, Yudha udah lernah ngajakin kamu nikah kan ?" tuding Shirleen.


"Emm..., emm."


"Udah lah Wen ngaku aja, aku udah tau sejauh mana hubungan kalian meski kamu bilang nggak ada apa-apa." ucap Shirleen.


"Ya iya sih, itu bocil dimaklumin aja suka nggak tau diri soalnya." jawab Weni, bagaimana pun ia tidak bisa berbohong jika dengan Shirleen.


"Nah ngaku kan," ucap Shirleen lagi. "Terus ?" lanjutnya.


"Apanya ?" tanya Weni.


"Ya tanggapan kamu gimana ?"


"Ya nggak gimana-gimana, kamu pikir aku mau nikah sama bocil."


"Kayaknya si Yudha beneran serius deh sama kamu Wen." ujar Shirleen, otaknya berpikir sepertinya lucu juga jika Yudha beneran menikah dengan Weni.


"Korban berondong mah yakin aja." sindir Weni.


"Bukan gitu Wen, ya udah ya udah kembali ke rencana awal." ucap Shirleen lagi pada akhirnya.


"Haahhh." Weni menghembuskan nafasnya pelan.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!