
Masih dengan kekecewaan yang luar biasa, Jason enggan untuk melakukan apapun, entahlah masalah yang dialami perusahaannya akan dibawa kemana, terakhir ia menanyai Roy yang menjadikan awal mula konflik percintaannya.
Afik sudah berapa kali menghubungi nomornya, menanyakan mengapa ia tidak masuk sekolah hari ini, walau terkenal rajin membolos, namun Jason tidak pernah mangkir jika urusan sekolah, ia hanya membolos diwaktu jam kosong saja, dan tidak masuk jika sudah benar-benar berhalangan.
Jason mengabaikan semua panggilan di ponselnya, ia hanya ingin sendiri.
Tok Tok Tok, Roy mengetuk pintu kamar Tuan Mudanya.
Walau berat, masalah yang menyeret namanya ini harus segera dituntaskan.
Tidak ada jawaban, Jason masih enggan bertemu orang lain sekalipun itu mamanya.
"Tuan Muda, ini saya... Saya sudah menemukan titik terang masalah perusahaan" ucap Roy dari balik pintu.
Dengan malas Jason membukakan pintu dan menyuruh Roy masuk, walau tidak berselera dalam menjalani hari tapi ia juga masih ingin mengetahui apa alasan Roy bertindak demikian terlebih yang Roy katakan tadi ia sudah menemukan titik terang, sebagai pemimpin di sebuah perusahaan ia harus bijak dan professional meski kondisi hati sedang tidak sinkron sekalipun.
Roy masih memiliki ketakutan luar biasa, namun ia berada disini juga demi namanya, ia akan membuktikan bahwa segala tuduhan yang mengarah padanya itu tidaklah benar, ia sama sekali tidak pernah berkhianat.
"Katakan" ucap Jason dingin, Roy bisa membaca air muka yang tidak bersahabat pada Tuan Mudanya itu.
"Tuan Muda, maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk mengatakan ini, namun nama baik saya juga harus dibersihkan, saya harap Tuan Muda tidak..."
"Langsung saja" Jason tidak ingin berlama-lama, ia hanya ingin mengetahui duduk permasalahannya.
Sementara Roy sedang dilanda ketakutan dan dilema hebat, pasalnya mungkin yang akan ia suguhkan bisa saja membuat Tuan Mudanya naik pitam, mengingat tempramen yang memburuk serta sifat Tuan Mudanya yang tidak akan memaafkan semua orang yang bermasalah dengannya dengan mudah.
"Tuan Muda, maafkan saya, perusahaan fiktif itu adalah ulah Tuan Besar"
Jason mendongak menatap Roy tidak suka, seolah mengatakan Apa lagi, apa kau bercanda ?
"Maaf Tuan Muda, saya harus mengatakannya, tapi itu memang benar"
Memudian Roy menjelaskan secara detil apa yang ia coba pahami, apa yang ia pelajari, dan dari sudut mana ia bisa menyimpulkan bahwa kesalahan terletak pada Pak Adrian, untuk alasan mengapa Papanya melakukan itu Roy mengatakan tidak mengetahui, karena Roy pun tidak menyangka, pantas saja semua berjalan dengan rapi, ternyata orang dalamnya adalah sang raja perusahaan.
Yang Roy herankan hanya satu, mengapa ia yang dijadikan kambing hitam, tidak kencing dicelana atau yang lebih parahnya mati sia-sia saja kemarin sudah sangat beruntung, ia yang tidak bersalah sama sekali telah mengalami kekerasan fisik dan mental karena tindakan tuan mudanya, eh ternyata itu ulah orang tua tuan mudanya sendiri, apa sebegitu tidak berharganya nyawa manusia bagi orang-orang kaya pikirnya.
Ia mulai mencerna dengan baik, itulah Jason karena kejeniusannya ia bisa menyelesaikan semua masalah jika ada satu saja petunjuk yang bisa dijadikan titik untuk menelusuri. Walau jauh dari ruang permasalahannya ia masih bisa menjadikan hasilnya tepat sasaran.
"Kurasa aku tau" ucapnya kemudian setelah sekian lama terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Ya Tuan Muda"
"Papaku ingin aku berpisah dari Shirleen, ia mengetahui aku telah masuk kedalam dunia hitam, ia mengetahui tindakanku dalam melumpuhkan lawan, ia hanya ingin aku keluar dari dunia kotor itu, dan untuk kau, kau hanya dijadikan umpan supaya Shirleen melihat siapa aku sebenarnya, Papa sengaja menjadikan kau sebagai umpan karena mungkin menurutnya aku tidak akan membunuhmu, karena jika saja itu orang lain kau pun pasti tau akan seperti apa jadinya" ucap Jason menjelaskan.
Roy mengangguk paham, walau ia rasanya sulit menerima apa yang terjadi pada dirinya kemarin.
Cih, dasar orang kaya, kalau aku mati nyawaku entah berapa harganya bagi mereka, mungkin juga tidak berharga, seenaknya saja menjadikanku umpan.
"Kenapa ? Kau memikirkan apa ?" tanya Jason saat melihat Roy nampak seperti mengumpat didalam hati.
"Aah tidak tidak Tuan Muda, lalu apa yang harus kita lakukan Tuan Muda ?" jawab Roy.
"Begini... Tarik saham pada perusahaan utama dan anak-anak perusahaan ADRIAN Group lainnya, setelahnya kita akan berpisah dari Adrian Group" ucap Jason berapi, ia betul-betul tidak suka atas tindakan yang dilakukan Papanya.
"Maaf Tuan Muda, apa Tuan Muda sudah memikirkan secara masak keputusan Tuan Muda ?" Roy berkata demikian karena saham yang ditanamkan perusahaan ARAD Group tidak lebih dari 40%, cukup berpengaruh namun tidak akan bisa membuat bangkrut ADRIAN Group. Bukankah keputusan Tuan Mudanya untuk lepas dari ADRIAN Group tidak akan merubah apapun.
"Bodoh, dasar bodoh" Hardik Jason.
"Maaf Tuan Muda, akan saya lakukan segera !" Kalau sudah begini walau ia tidak mengerti namun Roy tetap akan menurut. Ia tidak ingin mati hari ini.
"Dengar, sama seperti yang dia lakukan, aku tidak menyerang perusahaannya, tapi aku menyerang mentalnya" ucap Jason menyeringai.
Adrian Cakrawala, kau akan menyesal...
Bersambung...
Like, koment, gift, vote.