
"By... " Shirleen terkejut kala sebuahbtangan kekar sudah menindih tubuhnya, ia sedang berbaring menyusui Jacob saat Jason tiba-tiba langsung memeluknya.
Rupanya Shirleen sempat tertidur sebentar sehingga ia tidak mengetahui kapan Jason datang.
"Tidurnya nyenyak banget sampe nggak sadar aku datang" imbuh Jason.
"Iya nih, hujannya awet"
"By, udah selesai belum ?" tanya Jason sembari mengedipkan matanya genit, saat hujan begini apa lagi coba yang bisa dilakukan suami istri.
Hasrat itu datang lagi, apa lagi hujan seakan menghipnotisnya untuk segera memulai.
"Masih ngeflek By, sabar yaaa, bentar lagi" ucap Shirleen. Ia tau suaminya itu pasti sedang menahan sesuatu.
Jason mengangguk patuh, bagaimana bisa ia melawan kehendak Tuhan, itu sudah kodratnya wanita.
"By temenin aku makan yuk" ajak Jason.
"Ya udah ayok"
Keduanya lalu menuju dapur, Shirleen memanaskan makanan untuk suaminya itu terlebih dahulu, beruntung tadi ia masak sup untuk menu makan malamnya, jadi cukup membantu untuk menghangatkan tubuh suaminya yang pastinya tadi menerjang badai supaya bisa pulang kerumah.
"By, Mamaku tadi bilang mau bikin acara satu bulannya Jacob, kata aku sih setuju ajah, sekalian kikahan, kira-kira tanggal berapa ya bagusnya, kamu kan kalo nggak salah juga bentar lagi ujian" tanya Shirleen.
"Jacob kapan sampai satu bulannya ? keknya udah lewat deh" ucap Jason, seingatnya umur anaknya itu sudah lebih satu bulan.
"Baru lewat lima hari sih, awalnya aku juga mikirnya nanti aja sekalian resepsi kita, soalnya kata mama juga setelah kamu lulus bakalan ngadain resepsi kan, biar bisa ngundang semua keluarga sama rekan-rekan bisnis" jawab Shirleen.
"Ya nggak papa, gak usah nunggu acara kita, bikin aja acaranya buat Jacob, aku minggu ini free kok"
"Minggu ini, cepet banget !" kaget Shirleen.
"Lah maunya hari apa ?"
"Yaaa terserah sih, tapi jangan minggu ini gila mepet banget itu" sanggah Shirleen.
"Nggak mepet-mepet amat kali By, masih ada waktu nanti biar aku suruh Roy yang urus semuanya" ujar Jason.
"Heemm, nanti deh dipikir dulu, ini aja cuaca lagi nggak bersahabat, nih makan dulu, supnya mau ditemenin pake apa ?" ucap Shirleen yang kini sudah selesai menyiapkan makan malam untuk sang suami.
"Apapun yang kamu kasih" jawab Jason sambil menunjukkan pesonanya, senyum dengan manis yang kelewatan.
Jason memulai makan malamnya, semenjak mengenal Shirleen ia jadi sering makan makanan rumahan, padahal dulu paling hanya saat sarapan ia makan dirumah, setelahnya ia makan dikantin atau biasanya sembarang bisa di cafe atau tempat lainnya menyesuaikan dimana ia mengadakan janji temu dengan koleganya, karena dulu Jason hampir tiap malam pulang larut karena tuntutan pekerjaan.
"Athar beli token dong" pinta Riska, semenjak Athar kembali kerumah orang tuanya, Riska tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membiayai kebutuhan rumah, ia menyerahkan tanggung jawab penuh pada adik bungsunya itu.
"Kak, hari ini jualan aku sepi karena hujan lebat seharian, kemarin kan aku udah kasih tiga ratus ribu buat kebutuhan rumah, masa nggak cukup, kakak juga aku lihat nggak masak dari kemarin, nah pake aja duit yak aku kasih itu buat beli token" keluh Athar.
Ia sangat tidak terurus berada dirumah ibunya itu, Riska bagai hanya memanfaatkannya saja, andai saja Athar mempunyai tempat lain untuk jualan mungkin ia akan lebih memilih membangun kedainya ditempat lain dan akan tinggal sendirian dikedai kecilnya itu dari pada harus tinggal dengan kakak sulungnya.
Baru kemarin ia memberikan uang yang katanya untuk kebutuhan rumah, dan hari ini kakak sulungnya itu kembali minta uang lagi untuk beli token listrik, padahal sebelum hari kemarin ia juga selalu memberikan uang pada kakaknya, entah kemana dan dipakai apa uang pemberiannya itu, bohong jika untuk kebutuhan rumah tangga karena bahkan masak saja Riska tidak pernah.
"Aku sih nggak masalah yaaa kalau listriknya padam, paling kamu besok nggak bisa jualan, paling juga ibu bakalan kumat lagi karena gelap-gelapan" ujar Riska dengan santainya.
"Heehh" Athar menghela nafasnya berat, malas berdebat dengan terpaksa ia membeli token listrik lewat salah satu aplikasi diponselnya
Riska tersenyum puas karena adik bungsunya itu selalu menurut padanya. Ia membenci Athar karena Riana, padahal tanpa ia sadari Athar bisa dikatakan termasuk korban juga dalam hal itu.
"Athar, besok ibu harus check up" ucap Riska lagi seakan tidak cukup membuat susah Athar.
"Kak, bisa nggak sekali-kali tuh kalian yang nanggung biaya berobat Ibu, nggak berat kok kalau patungan, kak Riska, kak Delia, Kak Mutia, Kak Citra, udah empat orang sumbangin dikit-dikit aja kan bisa" keluh Athar lagi, selama ini dari ia yang dulu berkecukupan sampai harus menderita begini masih saja ia yang harus menanggung semuanya, dulu saat ia masih jaya ibunya bahkan tidak pernah meminta uang pada kakak kakaknya, selalu saja meminta padanya, ia tidak pernah mempermasalahkan karena baginya menyenangkan istri juga harus sama seperti menyenangkan ibunya tidak boleh berat sebelah.
"Nggak bisa kamu kan tau aku sama mas Rendi udah mau pisah, dia udah nggak nafkahin aku lagi sekarang, kalau yang lain nggak tau deh belum ada juga yang transfer, aduuhh udah deh ini udah mepet banget jadi pake duit kamu aja besok, nanti aku bilangin sama yang lain buat patungan ganti duit kamu buat biaya check up Ibu" Jelas Riska.
Padahal yang sebenarnya Citra dan yang lainnya sudah mentransfer sejumlah uang untuk biaya ibu mereka, memang tidak seberapa tapi cukuplah jika keseluruhannya digabung.
"Kak, kalau aku yang nanggung seorang aku nggak bisa kak, bulan ini aja aku udah ngeluarin delapan juta, buat biaya kebutuhan rumah, bikin kedai buat modal jualan, kebutuhan ibu, belum lagi nanti akhir bulan harus bayar Perawat yang ngerawat ibu" protes Athar tidak terima, ekonominya sedang sulit saat ini, siapapun kalau dihadapkan dengan kondisi sepertinya bohong jika tidak mengeluh.
"Oohh jadi kamu ngeluh, kamu pikir ibu sampe sakit kek gitu gara-gara siapa ? Mikir dong, siapa yang buat ibu jadi kek gitu hah ?" ucap Riska, ia tidak mau tau baginya Athar harus bertanggung jawab.
"Kak aku benar-benar nggak punya uang" pilu, sangat pilu rasanya Athar harus mengalah lagi. Ia hanya bisa tertunduk saat kembali diingatkan tentang awal sakit ibunya.
"Kamu kan ada uang modal, pake itu aja dulu, nanti secepatnya aku suruh yang lain gantiin" usul Riska lagi.
"Kak uang modal buat aku jualan nanti gimana bisa dipake, aku baru mulai usaha lho" ucap Athar tidak setuju.
"Ya terserah, kamu pikirin aja deh sampe besok pagi, pokoknya kalau sampe terjadi apa-apa sama ibu, semua itu salah kamu" gertak Riska, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan adik bungsunya itu.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!