
Tiga hari berlalu, Shirleen bisa dikatakan sudah pulih dari sakitnya, namun masih dianjurkan untuk tetap di rawat inap, Shirleen menurut saja, yang penting dirinya kembali sehat.
"Kau bosan By?" tanya Jason pada Shirleen.
"Sedikit, anak-anak berarti sudah bisa di bawa kesini kan?" tanya Shirleen.
"Iya, nanti akan aku suruh Ipah dan para Oma buat bawa mereka kesini, beberapa hari ini Kakak sama Abang katanya nginep dirumah Oma Nena.
"Oh gitu!"
"By liat deh, ini aku udah pegang apa?" tanya Jason tiba-tiba, Shirleen juga merasakan pergerakannya, para janin di dalam sana tampak bergerak beradu satu sama lainnya, Shirleen tersenyum melihat salah satu kebahagiaannya itu.
"Harus diabadikan ini!" lanjut Jason, kemudian ia memang benar memvidiokan gerakan para bayinya, tersenyum bangga, air mata Jason sedikit menetes kala teringat akan malam itu, malam dimana bayi-bayinya terancam tidak bisa diselamatkan, bahkan istrinya juga.
Namun lihatlah, siapa yang menyangka, semuanya kembali normal, semuanya berjalan sesuai harapannya, bagai sebuah keajaiban.
Kuasa Allah memang nyata, Jason sudah membuktikannya, sang pemberi kehidupan, Dialah yang menentukan akan bagaimana nasib kita pun untuk satu detik kemudian.
Tiga hari ini juga Jason tidak pernah lalai mengerjakan sholat lima waktunya, meski dirinya baru di tahap belajar namun ia akan berusaha semampunya, ia juga sudah menyuruh Roy untuk membawakannya buku tentang islam, dan baru juga ia sadari begitu banyak kesalahan yang selama ini ia perbuat, dirinya bahkan penuh dosa namun Allah selalu saja memakluminya.
Rencananya setelah Shirleen keluar dari rumah sakit ini, ia akan pergi mengunjungi Dareen, ia akan belajar banyak tentang islam dengan Pak Safar, tidak ada kata terlambat untuk memulai, yang terpenting adalah niat yang hanya karena Allah.
"Kamu kenapa nangis By?" tanya Shirleen.
Jason menghapus air matanya yang menetes, ah iya ternyata dirinya memang menangis, ia tersenyum lagi pada Shirleen, begitu damai dan melegakan.
"Yee ditanya senyum-senyum aja!" lanjut Shirleen lagi.
"Aku bahagia By!" ucap Jason.
"Iya deh yang lagi seneng."
"Malam itu kamu tau yang sebenarnya terjadi?" Jason akan menceritakan tentang malam itu pada Shirleen, karena memang Shirleen hanya diberikan penjelasan intinya saja tidak keseluruhan, Shirleen hanya tau dirinya pernah sekarat.
"Bukannya sudah kamu jelaskan!" jawab Shirleen.
"Malam itu bahkan para medis sudah berhenti bekerja karena tidak adanya lagi harapan untuk kamu hidup," Jason menarik nafasnya dalam, ia sungguh berterimakasih pada Allah yang telah memberikan keajaiban ini untuknya, "Aku menanyakan mengapa mereka berhenti menanganimu, namun mereka hanya menggeleng, semuanya, bahkan aku sudah akan putus harapan, aku tidak bisa menerima itu, aku tidak mau kau pergi karena kesalahanku, dan aku juga tidak mau kau pergi, karena ada Misca, Jacob, dan aku, kami membutuhkanmu, bahkan malam itu aku sudah iklhas jika aku akan kehilangan mereka asalkan aku tidak kehilanganmu." jelas Jason, Shirleen terdiam separah itukah kondisinya malam itu.
"Namun Allah rupanya berbaik hati pada aku yang penuh dosa ini, dia memberikan kehidupan untukmu, bahkan untuk mereka, aku tidak menyangka akan sebahagia ini bisa melewati ujian-Nya."
Shirleen tersenyum, ia mengerti, suaminya kini sedang bersyukur tiada henti.
"Kita sudah melewatinya, kau yang terhebat, kau terbaik, teruslah mengingat-Nya, Dia ada di sini," ucap Shirleen sembari menunjuk dada Jason, "Dia di hati kita, selalu mengawasi apapun yang kita lakukan, aku hanya minta setelah dirimu mengingat-Nya seperti ini, kamu tidak akan pura-pura melupakan-Nya apa lagi sampai melupakan-Nya."
"Iya By, terimakasih sudah mengajarkanku banyak hal, aku bersyukur memilikimu dan semuanya."
"Aku lebih lebih By, aku sangat beruntung memilikimu." ucap Shirleen.
Keduanya berpelukan, Shirleen sungguh terharu.
Tok tok tok, pintu lagi-lagi di ketuk membuyarkan keharuan keduanya.
Jason melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.
Ternyata para Oma membawa kedua anak Shirleen, Misca langsung saja berlari menghampiri Bundanya, betapa rindu dirinya.
"Bundaaaa..." pekiknya girang.
"Bunda sudah sembuh kan?" tanya si sulung Misca.
"Sudah, bentar lagi Bunda pulang, Kakak nggak nakal kan selama nggak ada Bunda?" tanya Shirleen.
"Eemm, enggak dong, Kakak sudah janji sama Papa gak boleh bikin susah Oma sama Bi Ipah soalnya Bunda lagi sakit, Kakak juga gak milih-milih makanan, Kakak selalu nurut apa kata Bi Ipah." terang Misca untuk kegiatannya di beberapa hari ini.
"Oh, syukurlah kalau begitu, eemm pasti berat badannya nambah ini, kan katanya gak lagi milih-milih makanan." ujar Shirleen, ia mengelus sayang pipi putrinya itu.
"Kakak kan anak hebat, Abang juga hebat, abang gak rewel sama sekali." ucap Misca menerangkan Jacob.
Mama Nena dan Mama Mila tampak tersenyum puas karena ocehan Misca, anak itu selalu saja menggemaskan.
"Papa bilang Bunda sakit bukan karena adik bayi, jadi Kakak nggak akan musuhan sama adek bayi." ucap Misca lagi.
Eh, Shirleen tampak berpikir karena Misca pernah mengatakan itu saat dirinya hamil Jacob, putrinya itu sekarang nampaknya sudah bisa di beri pengertian, diumur yang baru mau memasuki enam tahun, menurutnya anak gadisnya itu sungguh pandai.
"Kakak kan anak pintar, anak baik, adik bayi kan adiknya Kakak, masa iya adik-adiknya di musuhin." ujar Jason, mengelus sayang puncak kepala anak sambungnya itu.
"Tapi Papa, kalau ada adik bayi yang baru lagi nanti, Papa tetep akan sayang sama Kakak sama Abang kan?" tanya Misca tiba-tiba.
Jason langsung saja menggendong putrinya itu, ia ingin memberi pengertian bahwa dirinya tetap akan menyayangi Misca apapun keadaannya, meski tidak bisa berjanji tapi setidaknya ia akan tanamkan itu dalam hatinya.
"Princessnya Papa, kenapa coba nanya gitu?" tanya Jason.
"Enggak papa sih Pa, Kakak cuma mau Papa sayang sama Kakak juga." ujar Misca.
"Apapun yang terjadi, Papa akan selalu jadi Papanya Kakak, siapapun gak ada yang akan berbagi Papa, Kakak sama Abang, sama adik bayi di perut Bunda itu sama, punya Papa yang sama," Jason menunjuk dirinya sendiri, "Ini adalah Papa kalian semua, Kakak ngerti?"
"Ngerti Papa!"
"Jadi meski ada adik bayi pun, Papa tetep akan sayang sama kakak, always !"
"Promise!" ujar Misca, ia mengacungkan jari kelingkingnya.
"Promise!" sambut Jason.
Aku tidak mau ingkar, jadi ku mohon teguhkanlah selalu hatiku untuk tidak berpaling dari mereka, anak-anak sambungku, aku akan menjaga mereka apapun yang terjadi, jangan buat aku buta mata buta hati, jika aku nanti berada di jalan yang salah tolong arahkan pada kebenaran.
"I love you Papa!" ujar Misca.
"I love you too Princess."
"Jadi Papa aja nih yang di sayang gitu, Bunda sama Oma nggak yaaa!" sindir Shirleen.
"Eh iya, I love you Bunda, I love you Oma Nena, Oma Ila." ucap Misca.
"I love you more Princess!" sahut semuanya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...