Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Mas Athar...


"Nah seperti yang kalian berdua lihat, plasentanya ada dua, ini dia, aku tidak salah lagi." ucap dokter Eri sembari matanya menatap takjub pada monitor, ia ikut bahagia.


Jason pun sama, calon Papa muda itu nampak bahagia.


"Mereka benar sepasang!" jelas Dokter Eri lagi.


Rasa syukur seolah tiada henti Jason panjatkan, berapa kali dirinya menutup wajah karena haru, air matanya menetes begitu saja.


Shirleen belum melahirkan, namun kebahagiaan sudah sangat menguasai hatinya.


"Kau adikku, tapi sudah kaya sekali, sementara aku satu aja belum!" ucap dokter Eri, pria dewasa yang masih juga single itu menepuk pundak Jason, ia kagum.


"Sabar, kau akan dipertemukan dengan orang yang tepat saat sudah waktunya, kau ini kan tidak terlalu buruk rupa, jadi jangan pesimis!" ucap Jason, entahlah perkataan itu hal yang menguatkan namun sayangnya lebih terdengar mengejek di telinga Dokter Eri.


"Dokter, apa saya bisa lahiran normal?" tanya Shirleen, hal itulah yang mengganjal dihatinya, melahirkan anak kembar sungguh ada ketakutan tersendiri baginya. Membayangkan ia yang melahirkan Misca sungguh sakit tiada tara membuatnya sedikit meringis nyeri.


Meskipun Shirleen sudah membentengi pikirannya karena setiap anak akan lahir dengan level sakit yang berbeda-beda, namun untuk kali ini Shirleen sering kali meragu untuk lahiran normal.


"Rasa takut itu wajar dialami ibu hamil, namun tetap semangat dan selalu memikirkan hal yang baik-baik, jangan mudah terpengaruh karena setiap kelahiran itu berbeda-beda rasa sakitnya." ucap Dokter Eri, pria itu melihat raut ketakutan pada Shirleen saat kehamilan kembar ini, bukan seperti saat wanita itu mengandung Jacob.


"Iya Dokter!" jawab Shirleen, dirinya juga selalu mencoba itu.


"Kalian mau mencoba metode water birth? Mungkin bisa meringankan!" tanya Dokter Eri.


Apapun akan dirinya lakukan supaya istri Jason itu tetap tenang.


"Ya aku pernah mendengar istilah itu, mungkin akan kami diskusikan dulu!" ucap Shirleen. Dirinya melihat Jason, suaminya itu mengangguk paham.


Membelai punggung istrinya, dirinya juga sama sebenarnya, ada sedikit ketakutan yang selalu membayanginya.


"Berserah pada Tuhan, apapun yang terjadi adalah kehendak-Nya, Dia yang memberikan rezeki ini dan Dia juga yang menentukan semuanya, Tuhan menitipkan mereka pada kalian pastilah bukan tanpa alasan, itu sebab kalian pasti mampu, kalian adalah orang yang terpilih!" nasihat dokter Eri pada pasangan suami istri itu.


"Yah kau benar! Terimakasih telah mengingatkan untuk selalu berserah diri." ucap Jason.


Setelah mengambil obat untuk Shirleen, keduanya berpamitan untuk benar-benar pulang ke rumah, Roy dan Shakira juga sudah pulang, semua masalah sudah terselesaikan, Jason bisa bernapas lega untuk saat ini.


"Setelah semua yang terjadi, aku yakin kota akan semakin kuat!" ucap Shirleen saat keduanya sudah berada di mobil.


"Ya, semoga, aku mencintaimu By!" ucap Jason dengan tatapan mesra.


"Bagaimana kalau kita ke rumah Mama, Mamamu!" ajak Shirleen.


Jason nampak berpikir, ah sudahlah dirinya sudah berjanji untuk menerima, untuk mencoba berdamai, jika dirinya terus saja menolak, bagaimana dirinya bisa mengembalikkan keadaan menjadi sebuah keluarga yang harmonis.


Jason mengangguk, mungkin ini sudah saatnya.


Athar mengetahui dari sebuah tayangan iklan di YouTube, dan beberapa blog pribadi bahwa cafe Jash adalah cafe milik Shirleen, mantan istrinya.


Mungkin itu adalah kesempatan untuk dirinya bisa bertemu Shirleen, meski tidak akan mengajak Shirleen berbincang, namun Athar sangat berharap bisa melihat wajah mantan istrinya itu. Sungguh, ia masih sering rindu pada Ibu dari anaknya itu.


Misca dan... Ah seketika bayi gembul itu juga mengganggu pikiran Athar, apa Shirleen berbohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Aku sebenarnya sungguh yakin itu anakku, tapi kadang aku bisa apa, aku tidak akan sanggup melawan Tuan Muda Jason, dia terlihat sangat menyayangi bayi itu." gumam Athar, hari ini dirinya sengaja menutup kedai, pria dewasa itu ingin mengunjungi cafe mantan istrinya.


"Nak, jika benar kau anakku, entah aku bisa memberitahumu atau tidak, namun batin kita pasti begitu dekat, Ayah harap suatu saat kau bisa mengetahui itu, entah Bundamu yang memberitahukan atau semuanya terungkap atas ketidak sengajaan, Ayah berharap untuk itu. Kita pasti bisa berpelukan, Ayah menantikan waktu itu tiba nak, kalian anak-anak Ayah."


Athar mengambil hadiah untuk Misca, kemarin dirinya sudah mengunjungi rumah megah Jason, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan, dan kali ini dirinya akan menitipkan hadiah itu di cafe Shirleen, biarpun nanti dirinya tidak bisa bertemu anaknya itu.


Kadang Athar berpikir Jason sangat keterlaluan, namun Athar kembali maklum, mungkin karena Jason masih muda sehingga sifat kekanakan masih melekat tak terhindarkan.


Jelas saja, seharunya meski tidak diberikan nomor Shirleen, setidaknya berikan saja nomor pemuda itu, sehingga Athar bisa menanyakan bagaimana tentang Misca, sudah Athar coba memberitahukan keinginannya bertemu dengan Misca lewat jalur pribadi di sosial media, namun tidak ada tanggapan, Athar kembali maklum mungkin seorang Jason Ares Adrian tidak sempat untuk mengurusi itu.


Nanti jika bertemu, Athar akan mencoba meminta nomor pengasuh Misca itu saja, supaya dirinya bisa lebih mudah menghubungi putrinya.


Tanpa terasa, Athar sudah masuk ke area parkiran di cafe Jash. Cafe itu tampak ramai, persis sekali seperti apa yang diberitakan.


Semenjak orang mengetahui cafe itu adalah cafe milik istrinya Jason Ares Adrian, banyak orang yang berkunjung ke sana, baik untuk sekedar makan, nongkrong, mengadakan pertemuan, ataupun ngonten seperti iklan yang beredar kemarin.


Athar duduk di salah satu kursi, rupanya cafe ini ada bagian tempat yang mejanya bersekat, sehingga jika ada yang mementingkan privasi bisa memilih tempat dibagian itu saja.


Dan Athar melakukannya, dirinya ingin menanyakan pada salah satu pelayan nantinya, apakah mantan istrinya itu ada di cafe saat ini.


Melihat-lihat buku menu, dilihatnya kofta adalah menu baru yang tampil sebagai menu andalan. Athar yakin sekali pasti itu adalah ide Shirleen, ia rindu masakan mantan istrinya itu, bagaimana caranya ia bisa merasakannya lagi.


Ini memang ide Shirleen, namun Athar yakin sekali pasti bukan Shirleen yang memasaknya jika di sini.


Ah, mengingat itu Athar jadi rindu kebersamaan mereka dulu, meratapi lagi kesalahannya yang telah beraninya bermain api, hingga Shirleen memilih pergi darinya.


"Selamat siang, silahkan di pesan!" sapa seorang pelayan, Athar masih menunduk, dan pelayan wanita itu masih menunggu.


"Ehm boleh aku tanya sesuatu?" tanya Athar, sembari matanya masih berfokus pada buku menu.


"Silahkan Pak!" sahut pelayan wanita.


"Apa, pemilik cafe ini ada di sini?" tanya Athar hati-hati, jangan sampai membuat orang lain curiga.


"Mohon maaf, pemilik cafe ini sedang tidak di tempat Pak!"


"Oohh, begitu, hemm baiklah, aku pesan ini satu!" ucap Athar, ia mendongakkan wajahnya menatap lawan bicaranya.


"Mas Athar..."


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote!!!