Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Saya permisi Tuan.


"Silahkan pilih, mengundurkan diri atau dipecat secara tidak hormat dari sini?" tanya Shirleen pada Ririn.


Ririn nampak menudukkan wajahnya malu, bagaimana bisa semua rencananya diketahui oleh Bosnya.


"Kamu tidak terlalu pintar untuk bermain-main, jujur saja saya kecewa padahal kamu adalah salah satu pegawai yang rajin semenjak cafe ini dibuka!"


"Apa tidak ada lagi kesempatan untuk saya Bu?" tanya lirih Ririn.


"Dari pada kamu menanyakan itu, lebih baik kamu berpikir apa yang telah kamu perbuat!" jawab Shrileen.


"Baiklah Bu! Saya akan mengundurkan diri."


"Silahkan keluar!" titah Shirleen sembari tangannya menunjuk pintu keluar ruangannya.


Hari ini, dirinya memecat satu karyawan yang sudah dirinya percaya, namun bagi Shirleen untuk bekerja di cafenya yang terpenting bukanlah keahlian, karena jika hanya menjadi waiters atau koki sekalipun itu bisa dipelajari jika adanya kemauan, namun sifat, itu adalah hukum alam, kadang meski sudah berubahpun seseorang bisa saja melakukan hal yang sama untuk kedua ataupun ketiga kalinya.


Lagipula Shirleen tidak menyukai orang yang merasa dirinya tinggi dari pada yang lainnya, Seharusnya meski Ririn merasa dirinya dominan sekalipun diantara yang lain, bukankah lebih baik selalu rendah hati, ilmu yang lebih akan ada gunanya jika bisa dibagi-bagi, kalau sombong dengan kelebihan untuk apa? Ingin orang memuji? pujian tidak didapat malah dongkol yang dirasakan orang lain.


Padahal hanya sebagai pegawai cafe biasa, kadang juga merangkap koki dan kasir kalau sedang ada rolling pekerja, namun sudah sombong luar biasa, bagaimana jika sudah sukses nanti? Tapi Shirleen juga tidak yakin kalau orang seperti itu akan sukses kedepannya.


Jason memijit kepala Shirleen pelan, "Capek ya?" tanyanya.


"Lumayan, kok bisa ya?" tanya Shirleen seolah tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi.


"Maksudnya?"


"Iya, dia nyuruh orang buat nyingkirin Lisa dari cafe ini, apa maksudnya coba, cuma pegawai cafe biasa, gaji juga hampir sama malahan masih gedean dia karena Lisa pegawai baru, alasannya saat aku tanya cuma karena tidak suka Lisa bekerja di sini? Memangnya siapa yang berhak menentukan orang seperti apa yang bekerja di cafeku? Seenaknya saja bilang tidak suka!" jelas Shrileen panjang lebar.


Merasakan kenyamanan saat kepalanya dipijat oleh Jason, ternyata suaminya itu ada bakat juga.


"By, kamu tau soal vidio asusila yang dimaksud Ririn tadi?" tanya Shirleen pada Jason, seharusnya Jason mendengar kan apa yang dikatakan Ririn saat ditanyai tadi, karena Jason yang berada di ruangannya juga.


"Uhukkk uhukkk!" Jason tiba-tiba tersedak, vidio itu, kenapa juga harus dibahas lagi?


"Ada apa By?" tanya Shirleen, segera dirinya mengambilkan Jason air minum.


"Tidak apa?" jawab Jason saat dirinya sudah menenggak habis satu gelas air minum.


"Ririn bilang katanya dia tidak menyukai Lisa karena Lisa bukan perempuan baik-baik, sebab sempat viral vidio asusila atas nama Lisa, aku kurang update soal berita yang beginian, apa bener ya?" tanya Shrileen lagi.


"Aku nggak tau By!" bohong Jason. "Aku mana sempat ngurusin yang begituan!"


"Iya juga sih!"


Athar masih duduk di taman, setelah sebelumnya ia meminta izin pada Jason dan Shirleen untuk menemui Misca.


"Ayah, apa ayah udah nggak sibuk karena udah bisa ngunjungin kakak?" tanya Misca.


"Iya, Ayah punya banyak waktu hari ini, apa Misca mau jalan-jalan sama ayah?" tanya Athar.


Matanya melirik Jacob yang berada di kereta bayi, Ipah selalu mengawasi gerak-geriknya, bagaimana bisa ia mengambil rambut bayi itu?


"Emm, apa saya bisa minta nomor ponsel kamu, jadi jika saya ingin menanyakan perihal Misca, saya bisa langsung menghubungimu?" tanya Athar.


Ipah mengangguk, dan memberikan nomor ponselnya, segera Athar menyalin nomor itu.


"Terimakasih!"


"Iya Tuan!"


Bagaimana caranya aku bisa mengalihkan perhatian pengasuh ini?


"Ayah..."


"Ayah..."


"Ah iya sayang, kenapa?" tanya Athar, ia baru saja melamun karena terlalu memikirkan bagaimana caranya bisa mengambil sampel rambut Jacob untuk ia melakukan tes DNA.


"Ayah dipanggil nggak nyahut-nyahut, nggak denger apa gimana sih?" tanya Misca cemberut.


"Iya Papa cuma lagi kepikiran sesuatu!" ucap Athar beralasan.


"Pasti mikirin kerjaan, Ayah jangan sibuk-sibuk terus dong!" protes Misca.


"Iya, ini buktinya Ayah nggak sibuk lagi."


"Tapi kan cuma hari ini aja."


"Memangnya Misca mau apa?" tanya Athar.


Misca diam, sebenarnya dirinya juga bingung mau apa.


"Misca mau nginep di rumah Ayah nggak malam ini? Mumpung lagi libur sekolah kan!" tanya Athar karena melihat Misca hanya diam.


"Memangnya Ayah nggak sibuk, Kakak kalau main ke rumah Ayah nggak bakalan ganggu?" tanya balik Misca.


"Ya enggak dong sayang, Ayah malah senang kalau Misca nginep di rumah Ayah, coba izin dulu sama Bunda sama Papa, kalau boleh nanti Misca langsung pulang kerumah Ayah."


"Coba kamu tanyakan sama Tuan Jason, bisa tidak Misca nginep di rumah saya?" suruh Athar pada Ipah.


Ipah mengangguk paham, dirinya mendorong Jacob untuk di bawa ke ruangan Shirleen, menanyakan apa yang baru saja Athar perintahkan.


"Eehh, mau ke mana?" tanya Athar.


"Mau nanyain yang tadi." jawab Ipah.


"Biar Jacob di sini saja sama saya, kamu tanya aja, saya bisa kok mengasuh bayi itu." ini adalah kesempatan bagi Athar karena jika Ipah pergi dirinya bisa leluasa mengambil sampel rambut Jacob.


"Tidak Tuan, saya tidak bisa menyerahkan Abang dengan orang lain, ini sudah menjadi tugas saya!"


Orang lain, bagaimana jika aku Ayahnya, heh bagaimana bisa aku disebut orang lain.


"Tidak perlu sungkan, saya kan Ayahnya Misca..."


"Sekali lagi maaf Tuan, saya tidak bisa." potong Ipah, tidak ada tawaran kedua baginya meski harus melakukan adu mulut ataupun adu kekuatan dirinya tidak akan menyerahkan Jacob pada sembarangan orang, terlebih itu adalah Athar.


Yang Ipah sudah ketahui bahwa bayi gembul yang tengah diasuhnya itu memang benar anaknya Athar, ia mengetahui itu dari Shirleen saat Nona Mudanya itu curhat bagaimana dirinya bisa hamil.


Ipah adalah salah satu orang yang mengetahui rahasia Shirleen sedikit banyaknya.


Katakanlah ia jahat, menyembunyikan identitas asli seorang Jacob Aslan Adrian, namun mau bagaimana lagi, pengabdiannya pada Tuan Muda Jason tidak mudah teralihkan oleh apapun, Ia tau dan bisa mengerti bahwa Tuan Mudanya melakukan ini demi kebaikan Jacob, kalaupun ada yang harus mengungkap rahasia Jacob nantinya, mungkin itu hanya akan keluar dari mulut Tuan Muda dan Nona Mudanya saja.


Untuk dirinya, jangankan membeberkan fakta mencengangkan itu, memberi celah Athar untuk mengetahui itu saja tidak akan pernah ia lakukan.


Seperti kali ini, dengan Athar yang menatap bayi gembul itu secara intens tadi, Ipah sudah bisa menebak apa rencana dari Athar tentang bayi itu. Maka dia sangat jeli mengawasi gerak gerik Athar. Tidak akan ada kesempatan barang sekecil apapun.


"Saya permisi Tuan!" pamit Ipah.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!