
"Cari dia sampai ketemu, aku tidak perduli!" perintah Jason pada orang-orangnya.
"Dan kau, masih tidak mau mengatakannya?"
Jo merasakan dilema luar biasa, saat dihadapannya kini berdirilah seorang anak dari Tuannya, menanyakan di mana keberadaan Tuannya, namun di sisi lain Tuannya sudah memberinya amanah untuk merahasiakan keberadaannya.
"Jo, kumohon, jangan membuat keadaan semakin rumit, tolong beri tahu kami dimana suamiku?" Mama Mila juga hadir di sana, menyidang Jo yang tampak lebih memilih diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Aku..."
Tenggorokan Jo terasa tercekat, pria itu menatap Mama Mila dengan kasihan, haruskah dirinya mengingkari janji yang baru beberapa jam dirinya ucapkan pada Tuannya, seumur hidup jika dia mengatakan semuanya maka berarti itu kali pertamanya mengingkari janji.
"Maafkan aku Nyonya, Tuan melarangku memberitahu kalian." jujur Jo, karena itulah kenyataan yang sebenarnya.
"Tidak apa Jo, kau yang paling setia, sungguh kau rela melakukan ini demi suamiku, tapi kali ini biarkan kami bahagia, anak kami telah kembali." ujar Mama Mila.
Ditatapnya Jason, yang sudah terduduk lemas ditenangkan Shirleen, saat mendengar penuturan Mamanya tadi, dirinya sadar, semua terjadi bukan semata karena keegoisan Papanya.
Ada dendam lain yang kemudian menciptakan dendamnya, dan mungkin saja para penghianat itu sudah lama menantikan kehancuran mereka sebagai ayah dan anak.
Mereka mungkin saja saat ini sedang tertawa riang, melihat ayah dan anak saling bersaing, melihat ayah dan anak saling menyerang, tanpa Jason sadari para penghianat itu sebenarnya sudah berada satu langkah di depannya.
"Nak, Mama mohon, lakukan apa saja, lakukan kemampuanmu, temukan ayahmu." Mama Mila rasanya mau pingsan saja, karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa suaminya benar-benar pergi.
"Ma..." lirih Shirleen, sebagai orang yang paling waras antara suami dan ibu mertuanya, dirinya juga tertekan sebenarnya.
Jason kembali bangkit, dirinya melihat ke arah jendela, memandang jauh ke depan, memikirkan bagaimana caranya menemukan orang yang semula dirinya anggap musuh itu.
"Nak..." Mama Mila kembali bersuara, dirinya juga bingung harus melakukan apa.
"Ma, biarkan Jason berpikir, biarkan Jason menenangkan diri, ini tidak mudah baginya Ma." ucap Shirleen.
"Ya kau benar sayang, tapi Mama tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tolong siapapun, tolong lakukan sesuatu, Jo tolong kasih tau di mana keberadaan suamiku."
Jo menghela nafasnya berat, Maafkan aku Tuan, sepertinya benar, kali ini aku harus mengingkari janjiku, semoga kau tidak marah, ini demi kebaikan keluargamu...
Jo membatin dalam hatinya, dirinya juga diliputi kecemasan akan bagaimana Tuannya itu menjalani hidup.
"Tuan Muda..." panggil Jo pada Jason.
"Ya!" refleks Jason, baginya Jo adalah secercah harapan, begitu Jo memanggilnya seolah jalan akan terbuka.
"Mari saya antar!" ajak Jo.
Langsung saja, hari itu Mama Mila dan Jason berangkat diantar Jo menemui Pak Adrian.
Sementara Shirleen, Jason menyuruh istrinya itu untuk pulang ke rumah, sudah sejak kemarin anak-anak ditinggalkan.
"Semoga Papa baik-baik saja." ucap Mama Mila saat keduanya tengah berada di dalam mobil, mengikuti kemana arah mobil Jo.
Jason diam saja, sampai saat ini pun dirinya masih sulit menerima kenyataan bahwa Adrian tidak sepenuhnya bersalah dalam hidup menyedihkannya, Adrian juga korban yang seakan harus melakukan itu karena ketidak berdayaan.
Memang benar, memang benar apa yang pernah dikatakan Jason, bahwa dalam keadaan apapun dirinya tidak akan pernah mengorbankan anak-anaknya nanti saat dirinya menjadi orang tua, namun semuanya sudah terjadi pada hidup masa kecilnya, mungkin Papanya memang bersalah namun dibalik salah itu pasti adanya suatu alasan, dan Jason sedang mencoba menerima alasan tersebut.
Shirleen kembali ke rumah, dirinya mengisyaratkan pada Ipah untuk menginap malam ini, dirinya belum bisa memastikan apa yang akan terjadi pada suami dan mertuanya.
Pikiran buruk pikiran baik, terus saja melintas di kepalanya, entahlah sudah seharian di dera masalah suaminya membuatnya sedikit pusing, sungguh dirinya butuh istirahat.
Shirleen mulai mandi, dirinya memilih berendam di bathup dengan meneteskan beberapa tetes aroma terapi, seluruh badannya terasa penat, berjalan ke sana kemari, dari tadi menguras emosi, membuatnya yang saat ini sedang membawa dua nyawa di perutnya membutuhkan energi ekstra untuk kekuatan fisiknya.
Dan juga tak memungkiri batinnya juga lelah.
"Aneh sekali, aku pun rasanya tidak akan sampai untuk memikirkan bagaimana rumitnya permasalahan keluarga Adrian, yang ini membunuh ini, yang ini dendam pada ini, tragis sekali kan." gumam Shirleen sembari matanya terpejam.
"Semoga para orang jahat itu diberi hidayah, aahh aku tidak bisa membayangkan, betapa kejamnya."
Shirleen masih terus saja memikirkan tentang kematian Opanya Jason, yang diceritakan tadi sungguh bukanlah kematian yang wajar, dirinya memang tau dalam bisnis biasa terjadi sebuah persaingan, untuk itulah Papanya tidak pernah memaksa dirinya untuk belajar menjadi penerus perusahaan Papanya, ternyata ranah bisnis sangat kejam.
"Semoga suamiku baik-baik saja, selalu dalam lindungan-Nya, mengingat cerita tadi rasanya aku tidak akan sanggup jika sampai sesuatu terjadi pada Jason."
Lama bergumam berkutat dengan pemikirannya, Shirleen kemudian bangkit dan membilas badannya di pancuran shower, mandi yang bersih supaya ada kesegaran pada otak dan tubuhnya.
sudah dua jam setengah berlalu, namun tidak ada tanda-tanda bahwa mobil Jo di depan sana akan berhenti, Jason sudah berada di luar kota, ia tidak bisa menebak ke mana pergi Papanya.
"Jauh sekali." gumam Mama Mila.
Jason masih terus diam, dirinya fokus mengemudi, kali ini apa lagi, mobilnya bahkan memasuki kawasan hutan dengan jalan tanah merah yang berbatu.
Terpencil sekali, awas saja jika Jo berbohong tentang keberadaan Papanya, batin Jason.
"Entah kemana Papamu pergi, semoga dirinya baik-baik saja." gumam Mama Mila lagi, berharap Jason akan menanggapi kekhawatirannya, namun nyatanya tidak, sulit sekali merebut hati anaknya itu.
Ciiittt, mobil Jo berdecit karena berhenti mendadak, sontak Jason menghentikan cepat mobilnya.
Jason tidak keluar, dia menunggu pergerakan yang akan di lakukan Jo.
Sementara Mama Mila, dirinya semakin merasakan cemas.
Lalu dengan penglihatan tajamnya, Jason melihat alasan mengapa mobil Jo berhenti secara tiba-tiba.
Ternyata, jauh di depan sana ada rombongan babi hutan yang menyebrang jalan, entah tempat seperti apa ini pikir Jason.
Setelah rombongan babi hutan itu berlalu, benar saja Jo kembali melajukan mobilnya, dan Jason kembali mengikuti.
"Kenapa dia berhenti?" tanya Mama Mila yang tidak tahu menahu apa yang terjadi.
Jason juga diam saja, dirinya enggan menjawab, untuk saat ini dirinya sulit sekali untuk banyak bicara, peristiwa demi peristiwa yang terjadi dimulai kemarin juga nampaknya sedikit membuat dirinya lelah.
*
*
*
Like, koment, and Vote !!!