Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kita pacaran yuk!/Menualah bersamaku!


"Jadi?" tanya Angga, senyumnya terkembang sempurna, betapa konyol pemikiran Rara, betapa simpel keinginan wanitanya yang sedari tadi uring-uringan itu.


"Hehe!" Rara hanya bisa nyengir kuda menanggapi pertanyaan Angga.


Flashback.


"Kamu kenapa sih?" tanya Angga lembut, sembari membelai rambut Rara, saat ini keduanya tengah duduk di taman kota.


Angga memesan dua mangkuk bakso urat langganan Rara, semacam sogokan lah kira-kira karena Angga tau Rara sangat menyukai itu.


"Nggak kenapa-kenapa?" jawab Rara, sedikit ketus, tapi tidak seketus tadi saat di Butik. Mungkin gadis itu tidak nyaman karena Angga memperlakukannya dengan sudah sangat baik.


"Yakin? Bener?" tanya Angga lagi.


"Ii iya!" jawab Rara, kali ini Angga mencoba melihat keraguan, dan ya! Rara meragu.


"Kenapa? Bilang sama aku, aku terima kalaupun aku salah aku minta maaf, please jangan kayak gini!" ucap Angga. Mata itu menatap lembut wajah gadisnya, menggenggam tangan Rara erat, memberikan kekuatan dan mencoba meyakinkan bahwa Rara adalah wanita satu-satunya.


Rara menunduk, perkataan Angga sungguh menyesakkan dadanya, masa iya dirinya harus menanyakan kejelasan hubungan mereka, tidak ada dalam kamus Rara, cewek mulai duluan.


Apa gue tembak aja yah? Gue udah sayang, kalau gini mulu nggak ada kejelasan kan.


"Ra...!"


"Ya!"


"Cerita!" titah Angga.


"Aku nggak bisa terusin hubungan kita..."


"Kenapa? Kok gitu! Maksud gue, kenapa gitu? Apa ada masalah? kamu mau putus? Gitu maksudnya, kenapa Ra?" potong Angga, dirinya bertanya atas ketidakpercayaannya mendengar pernyataan Rara baru saja.


"Putus? Memangnya kapan kita pacaran?" pekik Rara kesal. Nah iya, seenak jidat Angga nanyain apakah dirinya mau putus, memangnya kapan mereka pacaran?


"Eh!" bingung Angga. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang padahal tidak gatal.


"Aku nggak bisa nerusin hubungan kita, kalau kita masih gini-gini aja, kamu panggil aku 'calon pacar', kadang panggil 'Yang', tapi nyatanya apa, kita itu stuck di temenan doang, nggak lebih kan!" Rara mulai mengeluarkan uneg-unegnya. Dia lupa bagaimana jika Angga tidak memilihnya karena terlalu banyak bertingkah.


Padahal saat pertama dirinya dekat dengan Angga awalnya Rara tidak semaruk itu, dia sangat bersyukur karena bisa melihat pemuda yang ia cintai dekat dengannya, tidak perduli akan status mereka yang terpenting dirinya bisa berteman dengan Angga, namun semakin dekat rupanya Rara mulai serakah, dirinya ingin Angga jadi miliknya, maaf... kadang hanya itu yang bisa dirinya ucapkan saat mengingat betapa tidak tau malunya ia, namun mau bagaimana lagi dirinya sudah benar-benar jatuh cinta, perhatian Angga, kepedulian, panggilan sayang, dan bagai selalu memprioritaskannya, bagaimana mungkin hati Rara tidak luluh, bohong jika Rara sanggup menahan semua gejolak cintanya untuk Angga.


"Aku mau kayak orang yang bener-bener pacaran, diakuin, bukan lagi calon pacar yang levelnya nggak naik-naik, aku suka Ga sama kamu!"


Kata-kata itu mengalir begitu saja, tanpa paksaan dan tanpa persiapan, menumpahkan segala kekesalannya pada Angga, Rara bahkan tanpa sadar juga mengungkapkan isi hati yang sebenar-benarnya pada pemuda itu.


Angga terdiam, iya benar, selama ini dirinya lupa untuk memberikan kepastian.


Angga kira, Rara tidak akan mempermasalahkan hal kecil semacam itu, namun bagi Rara pengakuan adalah sebuah hal yang besar.


"Ra maafin aku yah!" ucap Angga pelan, spontan saja dirinya langsung memeluk Rara, kini Angga tau dirinya benar-benar menyukai Rara, semua yang ada pada diri Rara dirinya suka, bahkan saat gadis itu yang telah berani mengungkapkan isi hati demi sebuah hubungannya. Angga salut, ia saja belum tentu bisa seberani Rara.


Padahal tidak taukah Angga bahwa Rara mengatakan itu juga tanpa sengaja, jika direncanakan itu sama sekali bukan sifat Rara yang dengan gilanya nembak cowok duluan.


Angga menarik nafasnya pelan, "Aku sayang sama kamu Ra, kita pacaran yuk!" ucap Angga ditengah pelukannya.


Langsung saja Rara mengangguk teratur dengan masih di pelukan Angga. Ia menerima, sudah lama dirinya menantikan ini.


"Jadi!"


Flashback off.


"Kita pacaran?" tanya Angga memastikan.


Lagi-dan lagi Rara hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Di sebuah ruangan yang telah dihias dengan sedemikian rupa, sepasang anak manusia tengah menikmati makan malam mereka.


"Makasih ya sayang!" ucap Weni, dirinya terharu, Yudha begitu memanjakannya, betapa beruntungnya ia.


Yudha mengangguk dengan senyuman. Ah Weni, wanita itu selalu saja membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


Yudha bangkit dan tiba-tiba saja mengajak Weni, membawa wanitanya itu pada balkon, sehingga gemerlap kota Berlin saat malam hari bisa keduanya lihat, sungguh indah.


"Gweni Kirana, aku tau pertemuan kita begitu singkat, bahkan tidak ada kesan yang baik diawal kita bertemu, namun perlu kau tau, aku menyukaimu saat aku menyadari bahwa aku bisa berbicara banyak padamu, tidak bisa untuk tidak peduli padahal waktu itu kita belum menjadi siapa-siapa."


"Aku yakin kita dipertemukan bukan tanpa alasan, kau memang dihadiahkan Tuhan untukku, kau yang dipilihkan, dan aku beruntung memilikimu."


"Gweni Kirana, maaf jika selama ini aku bukan sosok yang baik untukmu, tapi aku akan terus belajar untuk menjadi lebih baik kedepannya."


"Wen... Gweni Kirana, will you marry me?"


Ucap Yudha, matanya memandang lekat wajah sang kekasih, sebenarnya dirinya sudah tau jawaban apa yang akan diberikan Weni, karena mereka bahkan sudah mengurus pernikahan, namun rasanya Yudha ingin memberikan kesan pada wanitanya, sebelum mereka menikah dan sah menjadi pasangan berlebel halal.


Weni terharu, Yudha selalu bisa membuatnya menangis bahagia, seseorang yang tidak pernah terpikirkan olehnya, saat dirinya terbelenggu akan cinta Athar yang bertepuk sebelah tangan, ada seseorang yang datang mendekatinya dengan cara yang tidak begitu baik, pemuda menyebalkan itu bahkan selalu membuatnya kesal di setiap awal-awal pertemuan mereka, namun karena seringnya bertengkar nyatanya membuat mereka saling dekat, tiba-tiba menjadi saling membutuhkan satu sama lainnya, dan lalu Weni untuk Yudha dan Yudha untuk Weni.


"Yes, I do!" Weni langsung saja menghambur ke pelukan Yudha, wanita itu menangis, inikah akhirnya, bahkan dirinya tidak percaya, namun inilah kenyataan.


Yudha pun sama, katakanlah dirinya cengeng, namun tetes air mata bahkan luruh mengenai pipinya, sebentar lagi ia akan menjadi seorang suami, bukan hanya gelar yang tersemat, namun sebuah tanggung jawab seorang ayah untuk sang anak perempuan yang tengah berada di pelukannya ini harus berpindah ke pundaknya nanti.


Harus selalu memastikan Weni tetap bahagia hidup bersamanya menjalani biduk rumah tangga, itu mudah sekali jika hanya diucapkan namun kita tidak tau aral seperti apa saja yang akan mereka hadapi mendera pernikahan mereka kedepannya.


"Bahagialah bersamaku Wen, menualah bersamaku sayang, hanya aku, hanya kita!" lirih Yudha dengan masih memeluk erat Weni.


Pada akhirnya, gemerlap kota Berlin malam hari menjadi saksi bisu sepasang anak manusia mengungkapkan cinta.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!


.