
Entah di dorong kekuatan dari mana Sri bisa berbuat senekat itu, walau sakit namun Sri mencoba untuk tidak peduli dengan apapun yang Dareen katakan padanya.
"Heh, buruan" bentak Dareen.
"Mas Dareen, bisa nggak ngomongnya itu baik-baik aku jelek-jelek begini istrimu lho" ucap Sri.
"Istri ? Jangan ngaco lo, kita itu nikah karena sebuah kesalahpahaman jadi jangan nganggep lebih dari itu" angkuh Dareen.
"Aku juga tidak peduli padamu Mas, aku hanya peduli pada surgaku, aku masih ada disini dan tetap bertahan karena aku masih menghargai surgaku bukan dirimu Mas" ucap Sri, ia mulai melawan meski dengan bahasa yang sangat lembut.
"Surga ? Maksud lo ?" heran Dareen, ia cukup mengerti tentang agama, apa yang dimaksud Sri itu dirinya, namun apa bedanya meraih surga dengan meraih dirinya, pernyataan yang aneh pikirnya.
Apalagi dengan keadaan seperti itu, Dareen benar-benar tidak bisa berpikir dengan benar.
"Karena aku ingin menikah hanya satu kali seumur hidup, jika bisa dipertahankan kenapa harus merelakan, Mas... Aku tidak tau dengan alasan apa Mas tidak menyukaiku, tapi jika bisa belajarlah mencintaiku, aku juga sedang belajar mencintaimu, kita sudah halal tidak ada salahnya kan" jelas Sri. Kalau hanya seorang pacar pantang bagi Sri untuk memohon seperti itu, namun baginya Dareen adalah suaminya dan seorang istri berhak untuk mempertahankan sebuah rumah tangga.
"Heh cinta, lo pikir deh dulu sendiri, emangnya kenapa gua harus cinta sama lo ? Kita ini dinikahkan lo pikir gue seneng hore hore gitu dapet istri janda kek lo" ucap Dareen.
Duaarrrrr...
Kini Sri tau, Sri tau kenapa ia tidak bisa dicintai Dareen, itulah alasannya.
Shirleen hari ini mulai bebas, Jason sudah memperbolehkannya bepergian, namun tetap harus hati-hati.
Misca setelah pulang sekolah nanti langsung pergi kerumah oma Nena, dan Ipah siap menemani lalu akan pulang sore nanti.
Shirleen akan pergi ke cafe Jash hari ini, inilah yang ia inginkan dari dulu, memiliki usaha dan mengelola sendiri usahanya.
Semua pegawai tunduk dan ramah padanya, kesan pertama yang sangat bagus, semoga ia betah berlama-lama disini.
Diruangannya sudah tersedia khusus tempat untuknya beristirahat seperti kamar, Jason memang mengerti apa yang ia butuhkan.
Juga ada box bayi di dekat meja kerjanya, lalu ia meletakkan Jacob disitu dan mulai bekerja.
Ia mengecek semua laporan penjualan bulan ini, semuanya baik nampaknya Jason memang tarampil dalam usaha apapun.
"Bu, ada yang mau bertemu dengan Ibu" ucap salah satu pegawainya.
"Siapa ?" tanya Shirleen heran, ini adalah hari pertamanya meninjau cafe, tapi sudah ada orang yang mencarinya.
"Saya tidak tau Bu"
"Ya baiklah, kau tunggui bayiku dulu" ucap Shirleen kemudian ia berjalan menuju seseorang yang akan ditemuinya.
"Iya Bu"
Setelah sampai ia ditunjukkan oleh pegawainya mana orang yang akan ia temui.
Ternyata seorang pria paruh baya, tubuhnya tidak terlalu kurus namun berisi, dari uban yang Shirleen lihat di kepalanya mungkin umurnya lebih tua dari papanya, namun wajahnya awet muda, penampilan yang nampak elegan mungkin juga memberikan nilai plus pada dirinya. Dan Shirleen merasa sepertinya pria paruh baya itu memang orang penting, karena di sisi kiri dan kanannya siap berdiri tegak dua orang yang bisa diartikan adalah pengawalnya.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu" sapa Shirleen, siapa tau pria paruh baya ini ingin komplain dengan menu di cafenya.
"Selamat siang, Shirleen Damla Julian" jawabnya kemudian.
Shirleen tercengang, bagaimana bisa pria ini mengetahui namanya, nama lengkapnya pula.
"Iya, ada apa Pak ?"
Mencoba tenang, bagaimana pun sebuah kenyataan yang ia dengar tadi masih cukup sopan, meski ia juga bertanya-tanya dari mana orang ini mengetahui namanya.
"Aku ingin bicara padamu, duduklah"
Shirleen menurut, dari cara orang itu bicara sepertinya dia orang baik, entahlah kadang sifat manusia tidak bisa ditebak hanya dengan mulutnya saja.
"Ada apa yaaa Pak ?" tanya Shirleen tidak sabaran.
"Perkenalkan namaku Fredy Nickholas"
"Iya..."
"Tuan Fred, orang biasanya memanggiku begitu"
"Aahhh iya Tuan Fred"
"Ini menyangkut suamimu"
"Suamiku ?"
"Iya Jason Ares Adrian"
Shirleen mengangguk, entah ada masalah apa pria paruh baya ini menemuinya dan mempermasalahkan suaminya, apa tentang cafe ini pikirnya.
"Langsung saja" Tuan Fred kemudian menjentikkan jarinya, mengisyaratkan pada pengawalnya.
Salah satu pengawal itu memberikan Shirleen amplop coklat besar, entah kenapa perasaan Shirleen tiba-tiba berubah menjadi tidak nyaman.
"Bukalah, maafkan aku, karena aku harus memberitahukannya padamu" ujar Tuan Fred.
Pelan Shirleen membuka amplop coklat tersebut, disana terpampang bukti transaksi dari berbagai rekening ke rekening lainnya, Shirleen tidak mengerti apa maksudnya, karena rekening itu sama sekali bukan rekening suaminya, atau mungkin memang rekening suaminya hanya saja ia tidak tau, tapi dari nama pemiliknnya akun bank itu bukan atas nama Jason. Benar sama sekali tidak ada nama suaminya itu.
Ia mencoba melihat lebih banyak lagi, tidak ada yang bisa ia simpulkan meski dalam hatinya bertanya-tanya ada hubungan apa suaminya dengan semua kertas ini.
Dan sebuah rasa percaya membuatnya terus saja berpikiran baik tentang suaminya, baginya Jason sudah berjanji, dia tidak akan ingkar.
Mencoba terus saja berpikiran baik, ia lega saat tidak ada satupun nama Jason di rekening tersebut.
Hanya ada Darwin Kuntara, Ben Arian, dan Shakira Mayoum.
Satu nama yang membuatnya terfokus, akun dan rekening atas nama Shakira Mayoum, apa itu nama panjang dari Shakira pikirnya.
Shirleen tercengang melihat nilai satu kali transaksinya, haruskah ia sesak nafas saat ini.
Bukan jumlah yang sedikit, ia mengingat lagi saat ia menanyakan pekerjaan Shakira waktu itu, dan Shakira menjawab pekerjaannya sangat rahasia. Apa ini sebuah rahasia Shakira.
"Hidup kami yang bekerja dengan tuan muda terlalu banyak rahasia nona, saya tidak bisa sembarangan mengenalkan teman satu rekan kerja saya pada orang lain, karena diluar saja kami harus seperti tidak mengenal, mungkin nona bisa menebak apa pekerjaan saya sebelumnya"
"Shakira, dia anak buahku, bisa dibilang dia seorang mafia bisa juga tidak, dia tidak pernah terlibat dalam bisnis ilegal kami"
"Dia perampok"
"Berjanjilah, kau akan tetap disampingku By"
Berbagai ingatan tentang Jason dan Shakira tiba-tiba memenuhi kepalanya.
Mungkin yah, meski tidak secara gamblang semua kertas ini memang ada hubungannya dengan Jason.
Ia membuyarkan lamunannya, dilihatnya lagi ada sebuah amplop lagi disana, Shirleen tidak mengerti, bayangan Jason yang pernah berada di dunia hitam mengulang lagi.
"Apa ini ?" tanyanya sembari menunjuk amplop hitam sedang yang sudah ia pegang ditangannya.
"Bukalah"
Shirleen kemudian membuka amplop tersebut.
Dan betapa terkejutnya ia, matanya membulat disana ia melihat foto suaminya dan Shakira, yah benar suaminya dan Shakira.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!