
"Shesa...adalah istri pak Vano!, bagaimana mungkin" seru Mita yang hampir tidak percaya.
"jadi selama ini Shesa nyembunyiin rahasia bahwa dia telah menikah dengan pak Vano" ucap Nabila yang baru menyadari.
kedua gadis itu benar- benar sudah sangat salah menuduh Shesa yang bukan-bukan, sehingga seluruh siswa yang berada disekitar mereka justru menyuruh mereka untuk meminta maaf kepada Shesa yang telah mereka lukai perasaannya.
"eh...ternyata kalian berdua ya yang bikin berita bohong itu, kalian berdua ini teman macam apa sih, cepat minta maaf sana, sebelum kalian menyesal selamanya" ucap salah seorang siswa.
Mita dan Nabila hanya tertunduk malu saat keduanya mendapati kenyataan bahwa Shesa memang hamil sungguhan, Shesa mengandung anak seorang CEO muda yang juga merupakan suami sahabatnya itu.
seperti di lempari kotoran ke wajah mereka, rasa malu akibat kelakuan mereka tak sebanding dengan sakitnya perasaan Shesa yang telah dituduh macam-macam oleh sahabatnya sendiri.
sedangkan di dalam ruangan kepala sekolah, Siska benar-benar mati kutu, tujuannya untuk mempermalukan Shesa justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri, kepala sekolah dan sejumlah dewan guru yang semula percaya dengan perkataannya, kini tak seorangpun yang mau menghiraukannya.
Vano mengambil alih kursi kepala sekolah dan berbalik mempersidangkan perkara tuduhan fitnah terhadap istrinya, Vano memberikan Shesa kepada Vera agar tetap tenang bersamanya ,sementara dirinya duduk di kursi kepala sekolah dan siap menghakimi siapa saja yang telah memberi tuduhan palsu terhadap Shesa.
Vano melihat beberapa siswa membawa Mita dan Nabila masuk ke ruangan kepala sekolah.
"pak Vano mereka berdualah yang sudah mempengaruhi kami untuk membenci Shesa" ucap salah seorang siswa, kemudian siswa itu pergi dengan meninggalkan Mita dan Nabila di dalam ruangan.
"kalian bertiga sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, lihat istriku, apa dia pernah menyakiti kalian semua? dan kau Siska, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Vano dengan tatapan yang tajam, prediket singa yang siap menerkam mangsanya kini sangat telihat jelas di mata Vano yang penuh kemarahan.
Siska dengan tubuh yang gemetar mengungkapkan bahwa ia sangat membenci Shesa, ia tidak suka Vano memperhatikan Shesa, karena Siska menyimpan perasaan kepada Vano sejak mereka kuliah bersama di LA beberapa tahun yang lalu.
"gadis ini sudah merebutmu dariku, apa kau tidak mengerti Vano, aku menaruh perasaan padamu sejak dulu, aku berharap kita bisa bersama lagi seperti saat-saat kuliah dulu, namun gadis ini sudah mengambil perhatianmu dariku, itulah kenapa aku sangat membencinya" ucap Siska dengan berapi-api.
"sayangnya aku tidak pernah tertarik untuk mendekatimu, sama sekali aku tidak pernah berkeinginan untuk bersamamu" ucap Vano jelas sehingga membuat Siska semakin mencoreng mukanya sendiri, semua dewan guru sangat malu atas ulah Siska.
tiba-tiba Siska mulai berpikir untuk pergi dari ruangan itu, ia merasa sudah sangat dipermalukan oleh Vano, maka dari itu ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu segera. Namun kepergiaannya justru membuat Vano semakin geram.
"tunggu dulu Siska" seru Vano yang menghentikan langkah Siska.
"cepat kemasi semua barang-barangmu, mulai saat ini kau resmi keluar dari sekolah ini, aku tidak mau kehamilan istriku menjadi terganggu karena guru toxic sepertimu" ucap Vano serius.
tanpa berkata apa-apa Siska langsung keluar dari ruangan kepala sekolah, wajahnya dipenuhi rasa kebencian yang teramat pada Shesa dan Vano.
"awas saja kalian, aku akan mengingat penghinaan ini" seru Siska kesal sembari berlalu meninggalkan sekolah Harapan Bangsa untuk yang terakhir kalinya.
"huuuuuuuuuu"
sorak seluruh siswa yang melihat Siska keluar dari ruangan kepsek dan telah menyaksikan kejadian Siska dipecat dari Sekolah.
"mampus tuh guru killer"
"sok kecentilan sih "
"nggak nyangka ternyata bu Siska naksir pak Vano, eh pak Vanonya nggak suka sama dia"
Shesa menatap Vano yang begitu tenang tapi menghanyutkan saat dirinya mengadili Siska, dan Vanopun melempar senyum pada Shesa yang tengah memandanginya.
"entah kenapa disaat aku memandangmu, ada kekuatan yang membuatku mampu bertahan dari kelemahan hatiku, aku akan selalu menjaga buah cinta kita yang masih berada dalam rahim ini, karena bayi ini adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada kita berdua, suamiku" ungkapan hati Shesa sembari menatap wajah suaminya yang membuatnya begitu tenang.
"jika kau terluka akupun ikut terluka, pada hakikatnya kau adalah separuh jiwaku, apapun yang kau rasakan akupun ikut merasakan, tetaplah bersamaku dan selalu menjadi penyemangatku, Shesa istriku" tatapan mereka saling beradu, sehingga membuat seisi ruangan terpana dengan begitu mesranya Vano menatap Shesa, padahal baru saja ia menjadi singa yang buas saat berhadapan dengan Siska, tapi saat berhadapan dengan Shesa Vano berubah 180 derajat, menjadi lembut dan terlihat sangat elegan.
*******
disisi lain, Mita dan Nabila sangat takut menghadapi Vano, mereka takut akan dikeluarkan dari sekolah, dan Vano mulai bertanya kepada mereka berdua.
"kalian berdua, bukankah kalian adalah sahabat dari istriku? apa yang membuat kalian berfikir bahwa istriku telah menjual dirinya? katakan" seru Vano sembari menatap tajam kearah mereka berdua.
"ma...maaf pak, kami sudah salah faham, malam itu saya terbangun dari tidur, terus saya tidak melihat Shesa berada di kamar bersama kami, jadi kami pikir Shesa sedang pergi bersama orang lain" ucap Mita pelan
"kalian benar, malam itu Shesa memang pergi bersama orang lain, dan orang lain itu adalah aku, dia menemaniku di kamar sebelah, karena kamar kami yang pertama sudah kalian pinjam untuk bermalam" seru Vano menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"maaf pak, kami tidak tahu kalau pak Vano adalah suami Shesa, dan Shesapun tidak pernah menceritakannya pada kami" ucap Nabila.
"kenapa istriku merahasiakan pernikahan kami? karena ia tak ingin orang lain menganggapnya berbeda, ia ingin tetap nampak seperti biasa, gadis sederhana yang selalu membuat orang sekitarnya bahagia, apa kalian pernah berfikir sejauh itu?" seru Vano pada kedua sahabat Shesa itu.
Mita dan Nabila tertunduk malu, mereka menyadari kesalahannya, sesekali mereka menyeka air mata yang mulai jatuh dengan sendirinya, mereka berdua tidak berani menatap wajah Shesa.
"maafkan kami pak Vano, kami berdua sangat menyesal" ucap Mita dengan sesenggukan.
"jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada istriku" seru Vano menuturkan.
Mita dan Nabila tidak berani sama sekali menghadap Shesa, mereka sudah terlanjur malu dengan sikap mereka kepada Shesa.
karena Vano merasa mereka tidak juga minta maaf pada Shesa, akhirnya Vano akan mengeluarkan keduanya dari sekolah.
"cepat minta maaf, atau kalian berdua keluar dari sekolah ini" seru Vano yang membuat Shesa beranjak dari tempatnya semula.
"jangan sayang, aku mohon padamu, jangan keluarkan mereka berdua, Mita dan Nabila masih aku anggap sahabat, meskipun mereka sempat membuatku kecewa, tapi aku masih menyayangi mereka, Monic, Mita dan Nabila adalah sahabat terbaikku" ucap Shesa dengan berkaca-kaca.
mendengar itu semua dewan guru merasa kagum terhadap jiwa besar Shesa, meskipun ia telah dihina dan direndahkan oleh orang yang ia sayangi, namun Shesa masih punya nurani untuk memaafkan kedua sahabatnya itu.
"Shesa...maafkan kami" Mita dan Nabila berlari memeluk Shesa yang sedang berdiri disamping Vera, Monic yang melihat pemandangan itu merasa terharu dengan sikap Shesa.
Shesa memeluk Mita dan Nabila penuh haru, Monicpun ikut serta memeluk ketiga sahabatnya.
Vano melihat aura kebahagiaan di wajah istrinya, sehingga ia memutuskan untuk tidak mengeluarkan Mita serta Nabila dari sekolah.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖