Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Kenyataan Pahit


"Romi...."


Shesa benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan bertemu Romi disini, Shesa hanya diam dan sesekali menoleh ke belakang, ia khawatir Vano datang dan mendapati mereka berdua.


Romi tampak pangling melihat penampilan Shesa yang semakin berubah, tubuhnya semakin padat dan berisi, Shesa terlihat tampak lebih gemuk sekarang.


Romi memberanikan diri untuk membuka percakapan.


"Shesa, apa kabar? kamu sekarang udah berubah ya?" ujar Romi sembari memperhatikan penampilan Shesa dari atas hingga bawah.


"Aku baik" jawab Shesa singkat.


"Bukannya kamu berada di Jerman? kenapa bisa ada disini?" tanya Shesa


"Iya...bang Excel kan mau nikah, jadi dia memintaku untuk datang" jawab Romi


"Oh...iya" balas Shesa datar.


Romi tampak terkejut melihat keranjang belanja yang dibawa Shesa, tampak Shesa memasukkan beberapa susu hamil kedalam keranjang nya, belum lagi perlengkapan bayi yang sudah masuk duluan kedalam keranjang.


Romi terlihat mengerutkan dahinya, dalam hatinya ia berkata untuk apa Shesa membeli perlengkapan bayi dan susu hamil.


"Sha, buat apa kamu membeli perlengkapan bayi sebanyak ini, dan itu susu hamil?" tanya Romi sembari menatap tajam kearah Shesa.


"A...a.. iya...itu ... anu.." jawabnya gugup


"Oh aku ngerti, pasti mamamu hamil lagi, iya kan? selamat ya sebentar lagi kamu akan memiliki adik baru" ucap Romi sembari tersenyum.


Shesa hanya tersenyum paksa, mendengar ucapan Romi.


"Aku senang bisa melihatmu lagi Sha" ucap Romi senang, namun tiba-tiba Vano datang menghampiri Shesa yang tengah berdiam diri di tempatnya.


"Aku juga senang sekali melihatmu Rom!" suara khas Vano membuat Romi benar-benar terkejut, tiba-tiba saja Vano sudah berada di belakang Shesa, dan tentu saja itu membuat Shesa sangat bingung.


"Pak Vano, kenapa bapak bisa ada disini?" tanya Romi yang terlihat bingung melihat Shesa bersama Vano.


Dengan cepat Vano menarik pinggang istrinya, dan merangkulnya dengan mesra, dan Shesa hanya terdiam tak mampu berucap sepatah katapun, ia takut jika suaminya marah, karena telah mendapati mereka tengah bertemu.


"Sayang, kenapa kamu tidak bilang, kalau ada temanmu disini!" seru Vano sembari menatap dalam-dalam wajah Romi, seolah ia menunjukkan bahwa Shesa adalah miliknya.


Romi tidak percaya mendapati pemandangan yang sedang ia lihat, Vano dan Shesa saling berpelukan, seolah mereka adalah sepasang kekasih.


"I...iya, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan nya sayang!" balas Shesa sembari tersenyum paksa.


"Sayang?...kamu panggil apa Sha? sayang? sebenarnya kalian berdua ada hubungan apa sih ?" seru Romi yang masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada didepan matanya.


Tiba-tiba Laura datang menghampiri Romi yang masih terkesiap atas pemandangan yang sangat membuatnya sakit kepala itu.


"Romi, ternyata kamu disini!" ujar Laura yang tengah menemukan Romi sedang bersama seseorang, tanpa sengaja Laura melihat Vano dan Shesa yang sedang berdiri di hadapan Romi.


"Pak Vano, Shesa... kalian berdua disini juga, wah senang sekali bisa bertemu dengan pak Vano dan Shesa" ucap Laura yang membuat Romi semakin tidak percaya.


Baik Vano, Shesa ataupun Romi hanya saling diam, Vano telah mengetahui bahwa Romi sudah datang di Indonesia, ia sengaja tidak memberitahukan kepada Shesa, agar Shesa tidak teringat lagi kepada pemuda yang menaruh hati kepada istrinya itu.


Sedangkan Romi masih tanda tanya besar, apa mungkin yang dikatakan kakaknya Excel memang benar, ah sungguh sial, sudah berapa kali Excel memperingatkan nya, namun Romi masih saja tidak percaya.


"Loh kok pada bengong, Romi kamu nggak suka bertemu dengan ex sekretaris OSIS mu, bukankah kalian pernah bekerja sama, iya kan Sha?" seru Laura yang tiba-tiba membuat Shesa terpaksa menjawab pertanyaan nya.


"I...iya" jawabnya singkat.


Tampak Laura melihat daftar belanjaan yang dibawa Shesa didalam keranjangnya, Laura sangat suka dengan baju-baju bayi, menurutnya itu sangat lucu dan menggemaskan.


"Waah... kalian sudah belanja perlengkapan bayi, emm lucu- lucu sekali, ya ampun Sha kamu beli susu banyak banget, lagi doyan sumil ya" seru Laura sembari menggoda Shesa, dan Shesa hanya tersenyum paksa.


Shesa masih memperhatikan wajah suaminya yang tampak tegang, Shesa berharap akan segera keluar dari situasi ini, yang membuatnya semakin tidak tenang.


"Bukannya itu punya mamanya Shesa yang sedang hamil, Shesa mau punya adik kan!" sahut Romi menebak.


"Ha...mamanya Shesa hamil! astaga Romi... bukan mamanya yang hamil, tapi Shesa sendiri yang hamil" ucapan Laura seperti sebuah meriam yang menghantam kepala Romi, serasa meledak sangat keras, sehingga membuat pandangan nya berkunang-kunang.


"Shesa hamil?" ucapnya dengan tidak percaya.


"Iya, Shesa hamil, kamu baru tahu ya...oh iya aku lupa, selama ini kamu kan di Jerman mana mungkin tahu kabar tentang Shesa, sorry aku juga lupa ceritain ke kamu, kalau Shesa itu istrinya pak Vano, dan sekarang mereka berdua tengah menanti kelahiran buah cinta mereka" ungkap Laura tanpa dosa.


Belum selesai Romi merasakan hantaman meriam di kepalanya, sekarang ditambah lagi hujaman pisau berkarat yang menusuk relung-relung hatinya, terasa sangat sakiiit sekali menerima kenyataan pahit bahwa gadis pujaan hatinya telah menjadi milik orang lain, apalagi sekarang gadis itu tengah mengandung buah cinta mereka.


Wajah Romi tampak pucat, keringat dingin keluar dari wajah tampannya, pupus sudah harapannya untuk membawa Shesa pulang ke Jerman, sekarang Shesa tampak nyaman dan bahagia berada di dalam pelukan Vano.


Romi mengusap wajahnya kasar, sesekali ia melihat kearah Vano dan Shesa yang semakin erat dalam pelukan.


"Romi, kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Laura yang terkejut melihat wajah Romi yang kelihatan pucat.


"Tidak... tidak...aku tidak apa-apa" jawab Romi mencoba menenangkan dirinya.


Romi harus bersikap dewasa, ia harus merelakan gadis pujaan hatinya, Shesa bukan jodohnya, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Romi mencoba mengangkat tangan nya dan mengucapkan selamat untuk Vano dan Shesa.


"Selamat Pak Vano, Shesa semoga pernikahan kalian langgeng selamanya, saya ikut bahagia" ucapnya dengan tatapan keikhlasan.


"Dan Shesa, selamat atas kehamilanmu, semoga kamu dan bayimu selalu diberi kesehatan dan kelancaran" ucap Romi penuh keharuan.


Vano dan Shesa membalas uluran tangan Romi


"Terimakasih Romi, aku berharap kita melupakan masalah yang pernah ada diantara kita, semoga kamu segera mendapatkan gadis yang lebih baik lagi, dan aku yakin gadis itu akan segera datang kepadamu" seru Vano sembari tersenyum.


"Terimakasih pak Vano, saya bahagia, akhirnya Shesa mendapatkan pria yang tepat, pak Vano adalah sosok yang bertanggung jawab, saya yakin pak Vano pasti bisa menjaga Shesa dengan baik"


"Shesa kamu beruntung memiliki suami seperti pak Vano, aku akan selalu berdoa untukmu, semoga kamu selalu bahagia" ucap Romi yang mencoba mengikhlaskan, meskipun hatinya masih terasa sangat getir....


"Terimakasih Rom" ucap Shesa sembari tersenyum.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥