Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
krim ajaib


Seusai keduanya membersihkan diri, baik Shesa maupun Vano menyiapkan diri mereka untuk beraktivitas seperti biasa, Shesa yang sedang duduk di meja rias, nampak begitu berseri pagi ini, tapi ia masih bingung dengan stempel kepemilikan suaminya yang masih terlihat dengan jelas, belum lagi jumlahnya menambah karena aktivitas semalam.


"Hmm...ditutupin pakai apa yah biar anak-anak nggak lihat!" ucap Shesa sembari mendongakkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, Vano yang melihat itu dari arah pantulan cermin, tersenyum dan mendekati istrinya.


"Muach..." ciuman manis mendarat di ubun-ubun gadis cantik itu.


"Ah... kamu mengagetkanku saja!" kata Shesa sambil tersenyum.


"Katakan padaku, apa hari ini kamu bahagia?"


ucap Vano dengan sedikit menunduk, sambil menciumi leher Shesa yang beraroma wangi blossom itu


"Tidak!" jawab Shesa singkat.


Vano lantas berdiri dan melihat wajah Shesa pada pantulan cermin dengan tatapan yang serius. Shesa menatap Vano sembari tertawa kecil, melihat suaminya dengan ekspresi wajah tegangnya.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Vano sedikit kesal.


"Kamu lucu banget deh...sumpah!" jawab Shesa.


"Hei! Sini kamu, istriku ini benar-benar nakal ya!" seru Vano sembari menggelitik pinggang Shesa.


"Ah...iya...ampun...ampun" pekik Shesa yang merasa kegelian karena ulah suaminya yang sedang menggelitik pinggangnya.


Shesa membalikkan badannya dan menatap wajah Vano yang terlihat sangat tampan hari itu. Vano melingkarkan tangannya di pinggang Shesa seraya mengatakan sesuatu kepada istrinya.


"Katakan! Kenapa kamu tidak bahagia? Apa aku telah menyakitimu lagi?" tanya Vano dengan tatapan yang serius.


Shesa mengembangkan senyumnya, nampak lesung pipi itu semakin dalam menghiasi senyum Shesa yang terlihat begitu manis.


"Bagaimana aku bisa bahagia, jika ke sekolah harus memamerkan stempel cintamu yang masih segar ini?" seru Shesa sambil membelai manja pipi Vano yang berbulu tipis itu. Vano tersenyum sumringah, deretan gigi yang putih menonjolkan murninya ketampanan CEO muda itu.


"Aku punya sesuatu untukmu" seru Vano sambil menggandeng tangan Shesa mengambil barang yang dimaksudkan olehnya, sebuah kotak kecil berwarna hitam.


"Ambillah dan pakai!" pinta Vano agar Shesa menerimanya.


"Apa ini?" tanya Shesa seraya membolak-balikkan kotak kecil itu.


"Stempel cintaku tidak akan terlihat jika kamu mengoleskannya pada leher cantikmu ini sayang!" kata Vano mencoba menjelaskannya.


"Benarkah? Aku aku coba!" balas Shesa sembari berkaca dan mengoleskan krim ajaib itu pada lehernya.


Setelah beberapa olesan, Shesa sudah bisa melihat hasilnya, dan ajaib tanda merah itu seperti hilang tak berbekas, ia tersenyum bahagia karena ia tak perlu repot-repot lagi menutupinya dengan syal.


"Wahh...hilang...hmm...makasih sayang" seru Shesa kegirangan sembari memeluk suaminya.


"Kamu dapat ini darimana? Sumpah ini bener-benar krim ajaib" sambung Shesa senang.


"Tak penting krim itu darimana, yang penting kamu bahagia, Aku mencintaimu!" ucap Vano dengan tatapan mesra. Shesa benar-benar sudah terpedaya dengan apa yang dikatakan Vano.


Bibir Vano mulai mendekat ke bibir Shesa yang mungil. Sejenak mereka berciuman dan Vano pun semakin dalam menikmati kemesraan mereka, hingga akhirnya Shesa tersadar ini bukan waktunya untuk bercinta.


"Hhm....cukup!, ini bukan waktu yang tepat, aku harus ke sekolah, lekas ke kantor gih" seru Shesa sembari melepaskan pelukan Vano darinya.


Shesa beranjak mengambil tas, kemudian ia mencium pipi Vano.


"Daahh.... Aku berangkat dulu!" Shesa melambaikan tangan dan segera keluar dari kamarnya.


Vano hanya terdiam dan menghela nafas panjang, sejenak ia menenangkan dirinya karena ketegangan yang sempat terjadi pagi ini, ia tersenyum senang mengingat momen pagi ini, kemudian Ia segera pergi ke kantor.


*


*


*


*


Shesa telah sampai di sekolah, saat ia memasuki halaman sekolah, beberapa siswa melihat Shesa penuh dengan tatapan aneh, ia melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya, Shesa berjalan di sepanjang koridor sekolah.


"*Eh itu dia, lihat deh masih PD aja ke sekolah*"


"Hmm...nggak nyangka ya, cantik-cantik ternyata mesum"


"Iya bener...nggak ada kok, mungkin bu Siska salah lihat kali"


"Kamu benar...nggak mungkin Shesa seperti yang dituduhkan bu Siska, buktinya nggak ada kok tanda merah itu"


"Iya...ya"


Bisik-bisik teman Shesa membicarakan tentang Shesa.


Shesa tersenyum kecil saat tak sengaja mendengarkan ghibahan mereka, lantas Shesa langsung masuk ke dalam kelas.


"Hai semua!" sapa Shesa pada ketiga sahabatnya.


"Hai! Kamu cantik banget hari ini" seru Monic


"Hai juga!" sahut Mita dan Nabila malas.


Shesa melihat Mita dan Nabila tak seperti biasanya, Shesa mengernyitkan dahinya lantas mendekati mereka berdua.


"Kalian berdua kenapa? Kok cemberut sih?" tanya Shesa sambil merangkul keduanya.


"Kami kecewa sama kamu Sha!" jawab Mita datar


"Iya!" sambung Nabila


"Okeyy...aku minta maaf sama kalian berdua, apa yang dikatakan bu Siska itu tidak benar, itu bukan tanda bekas ciuman, bu Siska salah besar, itu cuma gigitan serangga, nih sudah ilang kan, mana coba udah nggak ada kan?" jelas Shesa sambil menunjukkan lehernya yang terlihat bersih tak ada tanda merah yang dituduhkan oleh guru bahasa Inggris nya..


Mita dan Nabila melihat leher Shesa yang sudah bersih dan putih tanpa ada tanda apapun di sana.


"Eh...iya...kok nggak ada sih, jadi bu Siska salah sangka dong" seru Mita


"Ya ....begitulah" sahut Shesa sambil melirik Monic.


Monic tersenyum dan juga heran, kenapa tanda merah itu cepat sekali hilangnya, padahal kemarin masih nampak merah segar.


"Kalau gitu maafin kita ya Sha! kita udah salah sangka sama kamu!" ucap Nabila sambil memeluk Shesa.


Shesa memeluk Mita dan Nabila dengan senang.


"Iya nggak papa" seru Shesa tersenyum


Monic ikut senang melihat Shesa ceria lagi.


"Kriiinnggg....krriinnnngg....krriinnggg" bel masuk telah berbunyi, tak berapa lama bu Siska memasuki ruangan.


"Selamat pagi anak-anak" sapa bu Siska


"Selamat pagi bu" jawab siswa serentak


Bu Siska melihat Shesa yang sedang duduk di bangku nomor 3, lantas Siska menghampiri Shesa dengan ekspresi mencibir.


"Hmm...masih berani kamu datang ke sekolah?" seru Siska sambil menyipitkan matanya, Shesa Shesaemnalssndhtsenyum dan berkata


"Kenapa saya harus malu,saya tidak melakukan hal yang memalukan" jawab Shesa tenang


"Tidak melakukan hal yg memalukan? lantas ini apa?" seru Siska sambil mendongakkan wajah Shesa, betapa terkejutnya Siska melihat leher Shesa yg bersih tanpa ada tanda merah yg kemarin masih terlihat nyata.


"Apa-apaan ini" seru Siska kesal sambil menarik tangannya dari wajah Shesa, karena ia tak mendapati bukti tanda itu, lantas ia pergi ke depan kelas dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa bisa ilang secepat itu?Ah...menyebalkan, awas kamu Shesa suatu hari nanti aku akan benar-benar membuatmu malu" umpat Siska kesal.


"Kamu hebat Sha, bu Siska jadi tak berkutik" bisik Monic senang.


"Emang bener-bener jadi ilang loh tanda itu, aku aja nggak percaya" sambung Monic berbisik lirih


Shesa tersenyum senang bisa sekolah dengan tenang tanpa di bully oleh teman-temannya.


"Terimakasih suamiku, aku beruntung punya suami sepertimu" bisik Shesa dalam hati.


BERSAMBUNG


🌻🌻🌻🌻🌻🌻