Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
malaikat tak bersayap


Shesa berfikir sejenak, ternyata Vano sudah membayar semua biaya pengobatan Dewa, ia tak menyangka Vano sangat peduli kepada keluarganya, Shesa merasa kehadiran Vano seperti malaikat tak bersayap, setelah ia berhasil menemukan Vera kakaknya, sekarang Vano membiayai biaya pengobatan Dewa yg tak sedikit.


Shesa berjalan menuju kedua orang tuanya, Anggi yg sedang memegang kursi roda Dewa nampak terkejut dengan kedatangan Shesa yg begitu cepat.


"Shesa..sudah selesai? Kok cepet banget?" tanya Anggi penasaran.


"Iya ma...semua biaya pengobatan papa selama ini sudah di lunasi oleh suamiku" tukas Shesa.


"Apa? Suamimu yang membiayai pengobatan papa?" sahut Dewa tiba-tiba, Shesa mengangguk pelan.


"Papa nggak tahu harus ngomong apa, dulu Hendra yang selalu membantu papa, sekarang Vano yang menjadi wakil Hendra, papa sangat berhutang budi pada mereka" seru Dewa terharu.


"Papa..." Shesa menatap Dewa dengan berkaca-kaca.


"Shesa...papa mohon sama kamu, bahagiakanlah Vano, karena papa tidak bisa membalas budi kebaikan mereka, selain kehadiran kamu di sisi Vano" seru Dewa kepada putri keduanya tersebut.


"Papa jangan khawatir, Shesa akan selalu mendampingi dia dalam suka dan duka, karena Shesa yakin dia adalah jodoh yang terbaik, yang telah dikirim Tuhan untuk Shesa, makasih papa udah ngejodohin aku dan dia" ungkap Shesa sambil memeluk Dewa, Anggi tersenyum bahagia melihat keduanya.


"Kamu bahagia nak?" tanya Dewa senang, dan Shesa pun mengangguk dan tersenyum.


"Syukurlah....tapi kenapa dulu kamu kayak benci gitu sama Vano?" tanya Anggi yang tiba-tiba menengahi percakapan mereka, hal itu membuat Shesa menjadi salah tingkah.


"Hehe....itu...dulu...kan Shesa belum kenal dia sepenuhnya ma" jawab Shesa gugup.


"Benarkah?" seru Anggi menggoda.


"Katanya...dulu Vano tuh nyebelin banget, sombong, arogan...eh sekarang kok bilang dia baik? Kamu sudah jatuh cinta ya sama suamimu...hayo ngaku!" goda Anggi yang membuat Shesa tersipu malu.


"Ah mama...godain mulu, ayo ah kita pulang, nanti keburu malem" sahut Shesa cepat, Dewa melihat itu terkekeh mendapati putrinya terlihat sangat menggemaskan.


"Iya...iya...ayo kita pulang pa...nanti keburu malem, Shesa nggak mau melewati malam tanpa suaminya" goda Anggi.


"Apaan sih mama..." jawab Shesa sambil mengerucutkan bibirnya, tapi dalam hatinya ia sangat senang sekali.


*


*


*


*


Jam menunjukkan pukul 7 malam, Dewa, Anggi dan Shesa telah sampai di rumah, Dewa merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sementara Anggi membereskan baju-baju kotor dari rumah sakit milik Dewa, sementara Shesa menemani Dewa .


"Bagaimana keadaan papa?" tanya Shesa


"Papa udah baikan" jawab Dewa.


Shesa ingin sekali menceritakan pada Dewa bahwa ia telah bertemu dengan Vera, namun ia urungkan niatnya untuk bercerita, Shesa menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada Dewa hak yang sebenarnya.


"Shesa sayang banget sama papa" Seru Shesa sambil memeluk Dewa, Dewa mengecup kening Shesa dengan lembut.


"Pulanglah nak...ini sudah malam, suamimu pasti sudah menunggumu" perintah Dewa


"Papa mengusir shesa?" sahut Shesa sambil mengernyitkan dahinya.


"Bukan begitu, kamu punya tugas yang lebih besar daripada harus merawat papa, yaitu melayani suamimu....pulanglah papa baik-baik saja kok, sudah ada mama tuh yang nemenin papa" ucap Dewa tersenyum, tiba-tiba Anggi datang dari belakang sambil membawa sup untuk Dewa.


"Iya sayang...kamu pulang saja, mama bisa sendiri kok nemenin papa, nanti suamimu nungguin loh" sambung Anggi.


Shesa menghela nafasnya, ia mulai beranjak dan mengambil tasnya.


"Baiklah...kalau papa dan mama maunya gitu, Shesa pulang sekarang"


"Shesa pulang dulu ma...pa..." seru Shesa sambil mencium tangan Dewa dan Anggi, keduanya melihat Shesa begitu bangga, Shesa mulai melangkahkan kakinya keluar kamar Dewa, namun tiba-tiba Dewa menghentikan langkah kakinya.


Shesa menoleh dan menatap Dewa.


"Ada apa pa?" jawabnya


"Bilang sama Vano, papa sangat berterima kasih padanya, nanti papa akan mengembalikan uang Vano yang ia gunakan untuk membiayai pengobatan papa secepatnya" tukas Dewa dan Shesa pun mengangguk, lantas ia segera keluar dari sana.


*


*


*


*


Di rumah mewah Vano.


Vano sedang berada di dalan ruang kerjanya, tiba-tiba ada suara pintu diketuk.


"Tok...tok...tok ..."


"Masuk"


Ia mendapati Shesa baru pulang menjemput Dewa dari rumah sakit, Vano menutup laptopnya dan ia melihat Shesa duduk di depannya.


"Bagaimana keadaan papa?" tanya Vano menatap dalam-dalam wajah istrinya.


"Baik-baik saja" jawab Shesa datar.


"Ada apa? Ada yg tidak beres?" tanya Vano penasaran melihat sikap Shesa yang berbeda.


"Kenapa kamu tidak bilang, kalau kamu sudah melunasi biaya pengobatan papa?" sahut Shesa sambil menatap mata Vano dengan serius.


"Eh...iya...maafkan aku, aku tidak bilang padamu, tapi ya sudahlah yang penting papa Dewa sudah sembuh, aku tidak peduli berapapun biaya pengobatan papa Dewa, bagiku beliau seperti papaku sendiri" seru Vano sambil mendekati Shesa dan memegang pundaknya lembut, Shesa berdiri menghadap Vano.


"Tapi...biaya pengobatan papa sangat mahal, aku takut itu merepotkan kamu" tukas Shesa menunduk, Vano tersenyum mendengar pengakuan polos istrinya.


"Kau...sudah menjadi nyonya Vano Adiputra Perkasa, apapun yg menjadi bebanmu, itu juga bebanku juga, apapun yg membuatmu tidak bahagia, akupun tidak akan bahagia, aku telah menikahimu, keluargamu adalah keluargaku juga, kau mengerti" seru Vano sambil menempelkan dahinya pada kening Shesa.


"Papa bilang...akan mengganti secepatnya uang yang sudah kamu keluarkan untuk biaya pengobatan papa, papa tidak mau menyusahkan kamu, papa sangat berterima kasih sekali padamu" seru Shesa dengan nada rendah, Vano berjalan agak menjauhi Shesa.


"Jadi...papa Dewa ingin mengembalikan uang yang aku gunakan untuk biaya pengobatan itu?" tanya Vano serius dengan membelakangi Shesa.


"iyaa" jawab Shesa singkat.


Shesa melihat Vano begitu serius, ia harap-harap cemas entah apa jawaban Vano, sejenak suasana menjadi hening, tiba-tiba Vano mulai bicara dengan suara khasnya.


"Baiklah...jika memang papa bersikeras untuk mengembalikan uang itu, apa kamu jika kamu harus kembali pada mereka?" Vano menggoda istrinya, Shesa yg mendengar itu sangat terkejut, ia langsung berlari menghampiri Vano dan memeluknya dari belakang.


"Tidak....aku tidak mau, jangan berkata begitu kepadaku, aku tidak mau berpisah denganmu" seru Shesa dengan linangan air mata, Vano tersenyum mendengar penuturan dari istri kecilnya itu, lantas ia memegang tangan Shesa dan membalikkan badannya.


Vano melihat Shesa menangis sesenggukan, ia raih wajah istrinya, nampak buliran bening yang jatuh berderai di pipi Shesa yang putih, Vano mengusapnya dengan lembut.


"Hei...apa yang kau tangisi?" tanya Vano sembari mengangkat dagu Shesa.


"Apa kau akan meninggalkanku?" jawab Shesa sendu, Vano tersenyum dan mencium kening Shesa.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yabg terjadi kamu akan tetap bersamaku, papa Dewa juga papaku, aku tidak mau menerima uang apapun dari kalian, aku ikhlas melakukannya, papa Dewa adalah bagian terpenting dalam hidupku, karena beliaulah yg telah memberikan putri cantiknya untuk diriku... kamu mengerti" bisik Vano sembari mengecup bibir Shesa.


BERSAMBUNG


💖💖💖💖💖