
Vano meletakkan tubuh Shesa dengan sangat pelan, Shesa masih dalam keadaan polos tanpa apapun, kemudian Vano menutupi tubuh istrinya dengan sebuah handuk besar, kemudian ia mengeringkan tubuh Shesa dengan handuk itu dengan sangat hati-hati.
"biar aku saja" sahut Shesa mencoba membantu suaminya untuk melalukakanya sendiri.
"tidak usah, kamu diam saja" sahut Vano sembari mengabsen setiap inci tubuh istrinya, setiap lekuk tubuh indah itu, Vano keringkan dengan mesra.
setelah selesai, Vano mengambil baju tidur piyama dan ia pakaikan di tubuh istrinya, dengan masih bertelanjang dada, Vano meletakkan tangan Shesa diatas dadanya yang dipenuhi bulu-bulu halus itu
"apapun yang terjadi, aku akan tetap menjadi milikmu, apa yang kau lihat tadi, jangan pernah mengkhawatirkan kesetiaanku padamu, Laura hanya objek yang aku jadikan sebagai kunci untuk membuat Siska jera, kau mengerti?" ucap Vano sembari menempelkan kening mereka.
"darimana dia tahu, aku melihatnya bersama Laura?" tanya Shesa dalam hati.
"tidurlah, aku mau keruang kerja dulu, ada hal penting yang harus aku periksa" ucap Vano sembari mengelus puncak kepala Shesa.
Shesa tersenyum pada suaminya, kemudian Shesa mulai berbaring ditempat tidur, sementara Vano mengganti pakaiannya dengan piyama tidur dan segera menuju ruang kerjanya.
******
diruang kerja
Vano mulai membuka laptopnya, dibukanya file-file yang dikirim sekretaris Jimmy, kemudian ia mulai memeriksanya, dengan teliti ia periksa setiap berkas yang dikrim kepadanya.
senyumnya mulai mengembang, ia berhasil memenangkan tender atas perusahaan asing yang kemarin baru saja bekerjasama dengan perusahaannya, ia juga berhasil mencegah perusahaan Exel untuk mengambil alih hak atas perusahaan Dewa, sang mertua.
hampir 3 jam ia berada di ruang kerjanya, kemudian ia melihat ke arah jam, tepat pukul 2 dinihari, Vano memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
dibukanya pintu yang tak terkunci itu, perlahan ia mendekati sosok yang sedang tidur terlentang dengan cantiknya, Vano menyunggingkan bibirnya, kemudian ia duduk disebelah Shesa, seorang gadis yang terbuai oleh mimpi sedang menggoda seorang pria dengan wajah imutnya.
"sayang...kenapa kau selalu menggodaku" bisik Vano lirih, tangannya mulai berani menyentuh kulit putih bersih itu, sesekali Shesa menggeliat saat tangan Vano mulai meraba dengan intens.
pemandangan itu semakin lama, semakin membuat nafas Vano tak beraturan, ia membenamkan wajahnya dan menciumi pipi Shesa semakin dalam.
ah...entahlah untuk menghadapi hal yang satu ini, Vano tak bisa menahannya, sang istri sudah menjadi candu baginya, Vano terus menghirup wangi kulit sang istri, semakin dalam dan semakin berani ia mulai merapatkan tubuhnya.
Ia melihat Shesa masih terbuai dalam mimpi indahnya, meskipun sesekali ia bergerak karena gerakan tangan Vano yang mulai menyentuh leher jenjangnya.
Vano tak bermaksud untuk membangunkan istrinya, ia hanya ingin bermain sebentar sebelum ia terlelap dalam tidurnya.
perlahan ia buka tali piyama yang dipakai Shesa, nampaklah pemandangan yang semakin membuatnya ingin membenamkan tubuhnya dan menyatukan kembali raga yang saling mencintai itu.
Vano mulai bergerak di ceruk leher Shesa, Shesa mulai menggeliat, bibirnya mulai terbuka meski netranya masih terpejam.
entah ia sudah terbangun atau tidak, namun gerak tubuhnya seolah merespon sentuhan suaminya, meskipun matanya enggan untuk membuka.
bibir Vano mulai bermain diantara gundukan yang tinggi menjulang itu, sesekali ia menyesap dan mencetak stempel kepemilikan disana, meskipun masih banyak bekas stempel-stempel kemarin yang belum menghilang, namun ia suka sekali mengkoleksi banyak stempel, karena itu adalah hasil karya terindah untuk sang istri, ia takut jika istrinya terbangun dan mengganggu tidurnya.
Shesa masih saja setia dalam tidurnya, mungkin ia terlalu lelah dengan aktivitas sebelumnya yang menguras tenaganya, namun tiba-tiba ia terbangun, matanya mulai terbuka, perlahan ia menatap Vano yang sedang berada diatasnya.
"sayang...apa yang kamu lakukan?" ucapnya dengan suara serak, ia melihat sang suami sudah mengungkungnya, ia tak menyadari bahwa Vano sedari tadi sudah bermain di atas tubuhnya saat ia masih terlelap.
"ssssttttt, jangan bicara, nikmati saja!" bisiknya mesra sembari menciumi belakang telinga Shesa.
keduanya terbuai dalam suasana malam itu, saling mencurahkan rasa hasrat dan cinta.
"emph..." Shesa menggeliat saat permainan itu dimulai, membuat sensasi yang luar biasa.
Vano menggerakkannya dengan lembut, ia sadar dengan kondisi istrinya yang tengah mengandung, ia ingin Shesa tetap merasa nyaman meski ada janin yang harus ia jaga.
Shesa mulai menikmati permainan sang suami, ia tak bisa menolaknya, karena ia juga ingin merasakan hal yang sama.
tak terasa keringat membasahi tubuh polos mereka, suara-suara indah menggema dalam kamar kedap suara itu.
"sayang...udah dong" pinta Shesa agar Vano mau menyudahi permainan ini, ia merasa sangat kelelahan dan menyerah.
"katakan padaku kalau kau sudah menyerah baby" bisik Vano sembari mengecup mesra bibir Shesa
"emh...iya...aku menyerah" jawab Shesa sembari menggigit bibir bawahnya.
Vano tersenyum puas saat sang istri berucap itu di telinganya, dengan segera ia menyudahi permainan ini, dengan ritme yang sedikit cepat, Vano mulai mencapai puncak keni*ma*an dengan sukses.
semburan lava pijar itu ia keluarkan diatas perut istrinya, dan akhirnya ia jatuh terhempas disamping sang istri.
nafasnya naik turun, dada bidangnya seolah bergerak cepat, Shesa dengan cepat mengangkat wajahnya dan membenamkannya pada dada Vano yang bergetar itu.
"kenapa kau suka sekali menggangguku sayang" ucap Shesa sembari memukul pelan dada suaminya yang penuh bulu-bulu halus itu.
Vano tersenyum dan kemudian memeluk tubuh istrinya, ia menutupkan selimut diatas tubuh keduanya, lantas kedua insan yang dimabuk cinta itu mulai beranjak dalam mimpi indahnya.
*****
di tempat lain
Exel membuka file-file yang baru saja masuk lewat emailnya, sorot matanya menunjukkan kekecewaan.
"sial...kenapa Vano lagi, Vano lagi" tangannya menggenggam dan sesekali memukul meja yang ada di hadapannya.
tiba-tiba seorang wanita bergelayut manja di pundak Exel.
"ada apa sayang! apa yang terjadi!" seru Siska dengan sebuah handuk yang melilit tubuh polosnya.
"lepaskan aku, ini semua gara-gara kamu, kalau saja kau tidak dipecat dari sekolah itu, mungkin aku bisa berkesempatan mengalahkan Vano" ucap Exel kesal.
"apa maksudmu? kenapa kamu malah menyalahkan aku?" tanya Siska sembari mengerutkan dahinya.
Exel melepaskan tangan Siska dari tubuhnya, lantas ia beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"lebih baik sekarang, kamu pergi dari kamarku, aku sudah muak melihatmu, kamu sudah tidak berguna lagi untukku, cepat ambil pakaianmu dan pergi dari sini!" Exel mengusir Siska untuk pergi dari rumahnya.
"dasar laki-laki brengsek, setelah kau puas bermain denganku, seenaknya saja kau mengusirku" seru Siska kesal
"ini...ambil dan pakai bajumu, kau sendiri yang datang kesini dan memintaku untuk bermain denganmu, dasar perempuan jalaang" umpat Exel semakin kesal.
Siska lantas mengambil pakaiannya dan segera memakainya kembali.
"aku akan buat perhitungan denganmu, tuan Exel" ucapnya kesal sembari berlalu meninggalkan kamar Exel.
"braakk..." suara pintu yang dibanting
Exel menarik nafasnya, terlintas dalam fikiranya seorang wanita yang tak bisa ia lupakan, wanita yang telah memberinya seorang anak.
"Vera...aku akan datang kepadamu"
BERSAMBUNG
πππππ
MAAF YA...OTOR LAGI OLENGπππ