
Akhirnya mereka berangkat juga ke gedung pertemuan untuk menghadiri wisuda kelas 12 SMA Harapan Bangsa, terlihat Hendra dan Leona turut serta menghadiri acara tersebut, keduanya datang sebagai tamu undangan istimewa, mengingat Hendra adalah pendiri sekolah tersebut.
Tampak Baby Ray di gendong oleh bu Lasmi, wanita yang menolong Leona saat kecelakaan silam, bu Lasmi sudah di anggap oleh keluarga sendiri oleh keluarga besar Hendrawan Perkasa, Vano mempercayakan bu Lasmi saat nanti baby Ray di tinggal Shesa kuliah, karena bu Lasmi sangat berjasa atas keselamatan Leona, sehingga Vano sangat yakin bu Lasmi mampu menjaga baby Ray dengan baik.
Dewa dan Anggi pun turut serta bersama mereka. Dewa sangat bahagia melihat putrinya akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan tingkat SMA, Dewa pun juga bangga kepada menantunya yang selalu memberi support untuk Shesa agar ia terus bisa belajar meskipun Shesa sudah berstatus sebagai seorang istri.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, terlihat sudah banyak yang hadir dalam acara itu, terlihat Monic dan Laura sudah menunggu kedatangan Shesa, mereka berdua menghampiri Shesa yang tengah bersama keluarga besar mereka, dan tak lupa baby Ray juga ikut serta menghadiri wisuda kelulusan mamanya.
"Selamat siang pak Vano, Pak Hendra dan Bu Leona" sapa kedua teman Shesa.
"Selamat siang" jawab keduanya tersenyum
"Selamat siang om Dewa dan tante Anggi, Waah senang sekali ya Shesa didampingi keluarga besar" ucap Laura yang turut bahagia melihat keluarga Shesa yang sudah lengkap, sementara dirinya hanya di dampingi oleh ibunya seorang, karena ayah Laura sudah meninggal.
Shesa terlihat menghampiri Laura yang terlihat sedih, Shesa mencoba mengembalikan semangat Laura.
"Dengarkan aku Laura, sebentar lagi keluargamu akan menjadi sempurna, Romi akan datang menjemputmu, iya... dia pasti akan datang untuk membawamu bersamanya" ucapan Shesa seolah seperti tiupan angin yang membuat Laura terasa sejuk.
"Terimakasih Shesa, kamu memang teman yang paling baik, aku beruntung bisa mengenalmu, meskipun awalnya aku udah jahat sama kamu, aku sudah hampir saja membuatmu kehilangan calon buah hatimu, aku benar-benar menyesal" ucap Laura sembari menundukkan wajahnya sedih
"Ssssttt...sudah lupakan itu semua, kita nggak perlu ingat masalah itu lagi, aku tahu kamu gadis yang baik, hanya keadaan yang memaksamu untuk melakukan hal itu, kamu lihat baby Ray, dia akan selalu tersenyum untukmu, benarkan sayang" seru Shesa sembari melihat baby Ray yang di gendong oleh bu Lasmi.
Tampak Baby Ray ikut tersenyum dan menghentakkan tangan dan kakinya, saat Shesa berkata kepadanya, seolah ia menyetujui ucapan ibunya.
"Ya ampun, dia bayi yang lucu sekali, sangat menggemaskan, moga ajah nular kepadaku, tapi...apa aku masih bisa mempunyai anak setelah aku mengalami peristiwa mengerikan itu Sha?" ucap Laura yang sedikit sedih.
Shesa menepuk kedua pundak Laura dan tersenyum kepadanya.
"Tentu saja, operasi itu hanya membersihkan sebagian luka infeksi yang di akibatkan obat itu, agar tidak menyebar ke seluruh rahim kamu, dan syukurlah dokter berhasil melakukan nya tanpa kendala yang berarti, dan kamu masih bisa memiliki seorang anak" papar Shesa meyakinkan. Dan Laura pun tersenyum bahagia.
Vano sangat bangga memiliki istri yang berbesar hati memaafkan kesalahan Laura, Vano bahagia akhirnya anak-anak mereka akan lahir dari rahim seorang perempuan hebat dan membanggakan. Vano menatap baby Ray yang tampak bahagia, seolah baby Ray tahu jika papanya tengah memperhatikannya, tiba-tiba saja ia terdiam dan menatap wajah sang papa dengan mata bulatnya yang lucu.
Vano terkejut melihat ekspresi putranya yang begitu menggemaskan, kemudian ia menghampiri baby Ray dan menggendongnya.
"Hmm...kamu tuh ya...bikin papa pingin uyel-uyel kamu saja" ucap Vano sembari membawa baby Ray dalam pelukannya.
Sementara itu Monic mencoba mencairkan suasana, dan mendekati Shesa yang hari ini tampak berbeda.
"Hai Sha, waaah kamu cantik banget, gila bener bodymu masih sama seperti dulu, kayak masih perawan ting-ting, salut deh sama kamu, pasti pak Vano semakin tergila-gila padamu" seru Monic yang saat melihat bentuk tubuh temannya yang sudah kembali normal diiringi senyum tipis dari kedua teman Shesa.
Vano yang mendengar ucapan Monic, lantas ia datang menghampiri mereka.
"Ehem" Vano berdehem dan membuat Shesa menoleh kearah suaminya yang tengah menggendong putranya. Shesa terlihat malu saat Vano menatapnya penuh dengan gairah seperti saat pertama kali mereka menikah.
"Kalian bisa ajah, kita masuk yuk" balas Shesa sembari mengajak mereka masuk ke dalam aula.
"Apa yang dikatakan mereka memang benar, kamu terlihat seperti masih gadis sayang, aku sudah tidak sabar lagi" bisik Vano sambil tersenyum nakal kepada istrinya.
"Iihh...pasti deh suka gitu" jawab Shesa tersipu malu.
Vano beserta Hendrawan mulai memasuki ke ruang acara, tampak mereka disambut hangat oleh kepala sekolah dan segenap dewan guru.
"Selamat datang pak Hendra dan Pak Vano, kami sangat senang sekali melihat kehadiran bapak pada hari ini, semoga sekolah ini akan semakin maju dan semakin banyak menghasilkan lulusan terbaiknya" seru kepala sekolah
"Tentu saja pak, ini semua juga tidak lepas dari dukungan bapak dan ibu guru yang sudah mendidik siswa siswi dengan telaten dan tanggung jawab" balas Vano
******
Dan akhirnya acara puncak pun akan dimulai, tampak Shesa duduk berjajar dengan teman-temannya yang juga di wisuda hari itu, sementara Vano dan keluarganya duduk di kursi paling depan, Vano didaulat untuk memberikan sambutannya, dan dengan penuh bangga Vano naik ke atas podium, matanya sesekali melihat kearah Shesa yang tengah duduk diantara Monic dan Laura.
Kedua temannya yang sadar jika tatapan mata Vano terus konsentrasi kepada Shesa.
"Cie...kayaknya Pak Vano lihatin kamu terus deh" ucap Monic sambil menyikut tangan Shesa.
"Eh bener loh, Monic bener, kayak nya pak Vano sudah tak sabar lagi ingin menerkammu Shesa" sambung Laura yang diiringi senyum kecil Monic
"Apaan sih, emangnya macan, suka menerkam" jawab Shesa sembari mengerucutkan bibirnya.
"Eh...ngomong-ngomong emang Kalian berdua udah akur lagi gitu?" tanya Monic yang membuat Shesa mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu? akur? orang kita nggak bertengkar kok" tanya Shesa yang masih belum mengerti.
"Ya ampun Shesa, maksud Monic tuh, apa kalian udah berhubungan lagi setelah kamu melahirkan baby Ray? kita kan juga ingin tahu, sakit nggak sih rasanya, soalnya kita juga pasti ngerasain hal yang sama dengan kamu" sahut Laura berbisik lirih.
Shesa menghela nafasnya, kemudian ia mencoba mengerjai kedua temannya.
"Kalian mau tahu rasanya seperti apa?" ucap Shesa yang membuat kedua temannya penasaran.
"Rasa nya tuh, sakiiiiiiiitttttt banget, nyeri sampai nggak bisa jalan" ucapan Shesa membuat kedua temannya ikut merasakan ngilu dan berekspresi seolah ikut kesakitan
"Masa sih kayak gitu, ngeri juga ya..." ucap Monic membayangkan
Shesa tampak tertawa kecil melihat ekspresi kedua temannya, padahal dirinya sendiri belum mempraktekkannya.
"Emang sakit nggak sih rasanya?" gumam Shesa sembari menatap Vano yang terlihat menyejukkan hatinya.
Ada rasa sedikit takut dalam hatinya, namun ia tak mungkin menolak permintaan suaminya, bagaimana pun juga ini adalah tanggung jawabnya sebagai seorang istri, ia harus memenuhi kewajibannya untuk memberikan hak suaminya.
Akhirnya Shesa bertekad akan memberi kejutan kepada Vano di hari Anniversary mereka yang pertama.
"Aku akan memberikan hadiah terindah di hari Anniversary kita besok" gumam Shesa yakin.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤
...HAYO...NGGAK SABAR NUNGGU ANNIVERSARY MEREKA😊....IKUTIN TERUS SAMPAI BAB AKHIR YA 😙😙...