
sementara ditempat lain, Helena tengah menemani Mommy nya yang tengah terbaring sakit, kemudian dokter Erick datang menghampiri gadis berdarah indo itu.
"istirahatlah, dari semalam kamu belum beristirahat, hari ini kita akan melihat hasil pemeriksaan nyonya Veronica, mudah-mudahan tidak ada yang serius" seru Dokter Erick
"terimakasih Erick, aku tidak tahu entah apa yang kulakukan jika aku tidak bertemu denganmu, pertama kamu sudah menolongku mengangkat peluru itu dari tubuhku, sekarang kau kembali menolongku untuk kesembuhan Mommy, aku sangat berhutang budi kepadamu" ucap Helena
"jangan bicara seperti itu, itu semua aku lakukan karena aku peduli padamu, kamu berhak bahagia, dan aku akan berusaha membuatmu bahagia" ucap dokter Erick tulus dari dalam hati, sehingga membuat Helena terkejut
"apa?" ucap Helena sembari mengerutkan dahinya
"eh..lupakan, tidak...tidak, aku tidak bermaksud apa-apa" jawab dokter Erick gugup
Helena tertunduk malu, entah kenapa ia senang sekali dokter Erick mengatakan hal itu padanya.
"kamu pulanglah, biar aku yang menunggu Mommy mu disini" seru dokter Erick
"tapi Rick, apa tidak mengganggu jadwal checkup pasien yang lain? atau ada pasien lain yang sedang membutuhkanmu?" tanya Helena khawatir.
"kau tidak perlu khawatir, aku sudah minta cuti 2 hari, jadi tidak akan ada pasien yang mencariku?" ucap dokter Erick santai
"jadi, dia minta izin cuti, hanya untuk menemaniku merawat Mommy?" gumam Helena tidak percaya.
"hei...kok malah bengong, udah pergi sana" seru dokter Erick yang melihat Helena masih berdiam diri di tempatnya.
"i...iya...tolong jaga Mommy, aku pergi dulu" seru Helena sembari berlalu pergi.
Erick tersenyum senang melihat Helena yang merasa mulai tertarik padanya, ia akan terus berusaha mendekati Helena, karena ia merasa Helena adalah gadis sesuai kriterianya.
*******
Sementara di suatu tempat.
Hari itu Laura tengah berjalan di sepanjang trotoar, ia baru saja dari toko buku, Laura sangat suka dengan buku-buku novel, Laura berjalan sembari membuka halaman buku novel yang baru saja ia beli, secara tak sadar Laura menabrak seseorang yang sedang berjalan.
"bruuggh"
"awww...ssss"
Laura terjatuh, ia tampak kesakitan di area pinggangnya, terlihat sebuah tangan mengulurkan bantuan untuknya, Laura terkejut lantas ia segera melihat siapa pemilik tangan itu.
"maafkan aku, bangunlah" seru seorang pria tampan dengan memakai setelah jeans dan outer kemeja yang dibiarkan kancingnya terbuka, tampak cool dan keren.
dengan satu tarikan tangan, Laura bangun dan pria itu dengan segera mengambil buku Laura yang berserakan.
Pria itu melihat buku milik Laura dan menyerahkannya kepada Laura.
"ambillah"
Laura menerima buku-buku itu.
"terimakasih...maaf aku tadi tidak melihatmu" ucap Laura meminta maaf dengan menundukkan wajahnya.
"kenalin, Romi" seru Romi kepada Laura
Laura terkejut ternyata pria itu tidak marah kepadanya, justru pria itu berkenalan dengannya, dengan sedikit agak canggung, Laura mengulurkan tangannya.
"Laura" ucapnya lirih
"Laura, nama yang cantik, secantik orangnya" seru Romi yang memuji kecantikan Laura.
Laura tampak malu dan membuang wajahnya.
"oh...iya kamu suka baca novel rupanya" ucap Romi sambil menunjuk buku yang dibawa Laura.
"darimana kau tahu?" tanya Laura
"tuh..." seru Romi sembari menatap buku yang dibawa Laura.
"oh...iya ini aku dari toko buku, dan buku ini baru ku beli" ucap Laura sembari menunjukkan buku novel yang dibelinya.
"sayap-sayap patah! Kahlil Gibran!" seru Romi saat melihat buku novel yang dibawa Laura.
"ah iya ..." balas Laura tersenyum
"sayap - sayap patah, cerita tentang kasih yang tak sampai" ucap Romi
"iya benar apa kamu juga pernah membaca novel ini?" tanya Laura
"benarkah?" ucap Laura terkejut
"ah...sudahlah, aku pergi dulu, senang bertemu denganmu!" seru Romi yang mulai beranjak pergi
"ngomong -ngomong kamu mau kemana?" seru Laura yang melihat Romi tampak tergesa-gesa.
"em...aku mau ke sekolah Harapan Bangsa" ucap Romi
"loh emangnya ada urusan apa kamu mau ke sekolah itu? hari ini sekolah pulang cepet soalnya seluruh dewan guru lagi menghadiri acara penting pemilik yayasan sekolah, pak Vano" ucap Laura menjelaskan.
"darimana kamu tahu?" tanya Romi terkejut, Laura mengetahui tentang sekolah Harapan Bangsa.
"tahulah, aku kan siswa disana" ucap Laura tersenyum.
"ohh...pantesan, ya ya ...kamu murid baru ya? kelas berapa?" seru Romi
"kelas 12" jawab Laura
"berarti kamu murid pindahan dong" seru Romi menebak.
Laura terkejut kenapa Romi bisa tahu bahwa dirinya adalah siswa pindahan dari sekolah lain.
"loh kok kamu bisa tahu kalau aku murid pindahan?" tanya Laura penasaran.
Romi tersenyum pada gadis manis itu, Laura justru mengerutkan dahinya.
"kok malah tersenyum" ucap Laura terheran.
Romi menghela nafasnya lantas ia menjelaskan siapa dirinya.
"aku alumni sekolah itu, aku lulusan tahun kemarin" ucap Romi yang membuat Laura terkejut
"ohh pantesan" ucap Laura tersenyum
"senang bisa bertemu kakak, ngomong -ngomong kakak darimana? aku perhatikan kakak dari jauh deh" tanya Laura yang melihat penampilan Romi yang seolah dari perjalanan jauh.
"ohh...iya, aku baru saja dari bandara, aku dari Jerman dan langsung kesini" jawab Romi
"apa? kakak dari Jerman? nggak langsung pulang tapi langsung ke sini? ke sekolah?" tanya Laura sembari membulatkan matanya.
"hehe...iya, aku ingin melihat seseorang yang sudah lama tidak aku jumpai" ucap Romi tersenyum
"seseorang? pasti dia istimewa sekali buat kakak?" tanya Laura menebak.
"iya...begitulah, tapi sayang sekolah sudah pulang, jadi aku urungkan niatku, tapi nggak papa, justru aku senang bisa ketemu sama kamu" ucap Romi dengan senyum manisnya.
"iya...hari ini pak Vano sedang ngerayain acara syukuran atas kehamilan istrinya, makanya sekolah pulang cepet" seru Laura menjelaskan.
"pak Vano sudah menikah?" tanya Romi penasaran.
"sudah" jawab Laura singkat
"oh".
Sampai saat ini Romi masih belum mengetahui bahwa Vano adalah suami Shesa, selama di Jerman ia tak pernah membuka sosmed atau berita trending topik, ia hanya disibukkan oleh kegiatan kuliah dan usaha bisnis keluarganya di sana, bahkan Excel sang kakak, juga tak pernah bilang kepada Romi tentang pernikahan Vano dan Shesa.
Romi datang ke Indonesia untuk menghadiri rencana pernikahan Excel dan Vera sebentar lagi, Excel sengaja memanggil Romi sebagai keluarga satu-satunya di Indonesia, mengingat Mami Excel nyonya Emily Andreas, tidak mau datang ke Indonesia, karena kematian suaminya membuat Emily sangat trauma untuk kembali ke Indonesia.
Tiba-tiba hujan turun begitu saja, tampak Laura mengajak Romi berlari ke rumahnya yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berbincang.
"ya ampun hujan, ayo kak...ikut aku" seru Laura sembari menarik tangan Romi.
Romi ikut berlari mengikuti Laura, karena hujan deras mengejar mereka, sehingga membuat baju mereka sedikit basah kuyup.
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di rumah sederhana milik Laura yang diberikan Vano untuknya.
namun tiba-tiba Laura dan Romi dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang tengah duduk diteras rumah, wanita itu tampak sedang menunggu kedatangan Laura.
"dari mana saja kamu Laura, aku sudah lama menunggumu disini, hmm...Romi kamu disini rupanya?" tanya seorang wanita yang mengenal pria yang sedang bersama Laura
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹🌹🌹
...Wah...siapa ya wanita itu? kok tahu nama Romi?😁...