
Helena menerima dokumen itu, sungguh ia beruntung memiliki keluarga yang mendukungnya, tampak semua penghuni rumah itu memberi dukungan dan semangat untuk putri Veronica.
"Terimakasih Vano, Om dan Tante, aku sungguh beruntung hidup diantara kalian, kalian orang-orang yang baik, terimakasih kalian sudah memaafkan kesalahan Mommy, setidaknya beban derita Mommy berkurang, dan maafkan aku juga, karena sudah membangunkan kalian malam-malam begini" seru Helena.
"Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, apapun yang ingin kamu sampaikan, kami akan selalu ada untukmu, Helena... kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, karena dirimu lah yang sudah menyelamatkan nyawaku, aku juga berhutang Budi kepadamu" ucap Vano
"Terimakasih Vano" balas Helena tersenyum
Kemudian Hendrawan mendekati sang keponakan.
"Helena, om akan memberikan hak harta warisan dari kakek kepadamu, tapi tentu kamu sudah tahu syaratnya!" ucap Hendra sembari mengingatkan Helena, Sejenak Helena merasa tertunduk dan malu, saat Hendra berucap itu kepadanya.
"Tentu om, Helena masih ingat kok" jawab Helena malu
"Apa sudah ada calon suami untukmu? jika sudah ada, segeralah menikah, semakin cepat akan semakin baik, bukan begitu" ucap Hendra sembari menatap wajah sang keponakan.
"Papa tidak usah khawatir, Helena sudah memiliki calon suami pa" sindir Vano kepada Helena.
Helena menatap Vano dan bersungut.
"Ssstt Vano diam... apa-apaan sih!" seru Helena yang tampak sedang malu.
"Oh ... benarkah, bagus itu.... kira-kira siapa laki-laki yang beruntung menjadi pendamping Helena!" seru Hendra penasaran.
"Dokter Erick" sahut Vano singkat, padat dan jelas.
Helena sontak memukul lengan kekar Vano, tampak semua yang ada di ruangan itu ikut tertawa melihat tingkah keduanya.
"Aww...sakit dong, tapi itu benar kan?" seru Vano sembari menyentuh lengannya.
"Hus... jangan sembarangan kamu, aku dan dokter Erick tidak ada hubungan apa-apa" ucap Helena lirih.
"Masa? aku nggak percaya, Dokter Erick tuh suka sama kamu, lagipula kita pasti setuju, kalau kamu berhubungan dengan Dokter Erick, bukan begitu pa!" seru Vano
"Dokter Erick, teman kuliahmu itu?" tanya Hendrawan, dan Vano mengangguk.
"Oh ...tentu saja, Helena... kamu beruntung sekali, dokter Erick itu sangat baik dan sopan, om mengenalnya dengan baik, Vano, Erick dan siapa lagi satunya, itu...yang cewek, aduh papa lupa namanya...Si...Siska....iya Siska, mereka bertiga selalu bersama, ngomong-ngomong bagaimana kabar Siska sekarang?" ucap Hendrawan yang tiba-tiba membuat suasana menjadi mencekam.
Sejenak Vano maupun Helena terdiam saat Hendra menyebut nama Siska, dan tentu saja itu membuat Hendra menjadi terkejut.
"Loh kok pada diam! Vano... bagaimana kabar temanmu itu, apa dia baik-baik saja!" tanya Hendra sembari menatap wajah Vano yang berubah saat Hendra menyebut nama Siska.
"Iya...dia baik-baik saja" jawab Vano malas.
"Kamu tahu, semenjak ayahnya meninggal, gadis itu menjadi berubah, papa mengenal ayahnya, Almarhum Tuan Surya sangat menyayangi putrinya, sejak kematian istrinya, Tuan Surya yang mengasuh sendiri putri kesayangannya itu, hingga akhirnya beliau meninggal saat Siska baru lulus kuliah, Siska sangat kehilangan sosok ayahnya, dulu dia gadis yang pendiam dan cerdas, namun semenjak ditinggal ayahnya, Siska seolah tidak punya arah hidup, yang papa dengar, Siska menjadi guru di sekolah kita, apa itu benar Vano?" tanya Hendra kepada Vano yang tampak malas mendengarkan kisah Siska.
"Sudahlah pa, sebaiknya kita tidak usah membicarakan tentang Siska lagi, Vano mau tidur ....ayo sayang, kita tidur" ucap Vano sembari menggandeng tangan Shesa.
"Ta...tapi sayang"
Shesa tampak bingung, namun ia tetap harus mematuhi perintah suaminya, dan Shesa pun mengikuti Vano dari belakang.
"Kenapa dengan tuh anak? main pergi saja" ucap Hendra penasaran sembari memperhatikan keduanya yang tengah menaiki anak tangga.
Helena yang melihat Hendra tengah bingung atas sikap Vano, mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi selama ini.
"Sudahlah mas, mungkin Vano sudah capek ingin istirahat" hibur Leona sembari mengelus lengan Hendra.
Tiba-tiba Helena menengahi pembicaraan Hendra dan Leona.
"Maaf Om dan Tante, Helena akan menjelaskan nya kepada Om dan Tante, tentang perbuatan Siska selama ini kepada Vano dan juga Shesa"
Hendra dan Leona tampak terkejut dengan pernyataan Helena.
Helena menghela nafasnya, kemudian ia mencoba menceritakan tentang semua perbuatan Siska kepada Vano dan Shesa.
Tampak Hendra dan Leona mendengarkan seksama apa yang diungkapkan oleh Helena
-
-
-
"Begitulah Om ceritanya, itulah kenapa Vano tidak mau lagi membicarakan Siska" ungkap Helena
"Ya Tuhan, apa yang sudah dilakukan gadis itu, benar-benar sangat keterlaluan, gadis itu benar-benar kehilangan arah hidupnya, dia menjadi jahat, karena masih belum terima dengan kematian ayahnya, Tuan Surya, gadis itu merasa kesepian dan sangat terpukul dengan kematian ayahnya" ungkap Hendra.
"Tapi apapun alasannya Om, Siska sudah jahat banget, dia ingin menghancurkan Vano dan Shesa, Siska tidak akan bisa hidup tenang sebelum melihat Vano dan Shesa menderita" ucap Helena.
"Iya ...Om tahu, perbuatannya sudah sangat kriminal, Helena...apa kamu tahu dimana Siska tinggal?" tanya Hendra
"Tahu Om! tapi untuk apa Om ingin mengetahui alamat Siska?" tanya Helena menyelidik.
"Om...akan bicara dengannya, Om yakin dia pasti akan mengerti" ucap Hendra yakin .
"Sebaiknya jangan Om, Siska itu wanita licik, aku takut dia akan berbuat jahat kepada Om" seru Helena yang khawatir.
"Siska tidak akan berani menyakiti Om, percayalah" seru Hendra meyakinkan.
*****
Sementara di dalam kamar, Vano tampak diam saja dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Shesa yang mendapati sang suami bersikap dingin, lantas ikut berbaring disampingnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Shesa sembari mengelus pipi Vano yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
"Hm .." jawabnya singkat
"Kamu marah papa Hendra menyebut nama Bu Siska?" ucap Shesa
"Papa belum tahu siapa Siska yang sebenarnya, aku malas saja membicarakan perempuan itu" ucap Vano kesal.
"Sayang, bukankah dulu kalian berteman?" tanya Shesa menyelidik.
"Iya...itu dulu" jawab Vano singkat
"Kata papa, Bu Siska dulu adalah gadis yang cerdas dan pendiam, apa itu benar sayang?" tanya Shesa sekali lagi.
"Hm..." jawab Vano malas
"Karena ayahnya meninggal, Bu Siska menjadi liar seperti sekarang, jadi Bu Siska menjadi jahat karena dia terpukul dan sangat patah hati, kehilangan sosok ayah yang selama ini telah menemaninya, kasihan sebenarnya, sayang... sayang... kok malah tidur sih" ucap Shesa sembari melihat Vano yang tampak sudah terpejam.
Akhirnya Shesa ikut tidur membelakangi suaminya, karena merasa Vano tidak mendengarkan ia berbicara.
"Ya sudah, aku tidur aja, ngomong juga percuma, nggak di dengerin" umpat Shesa sembari menarik selimut ke seluruh tubuhnya.
Shesa mulai memejamkan matanya, namun tiba-tiba tangan besar Vano melingkar di pinggang Shesa dan menyembunyikan wajahnya pada tengkuk istrinya, sembari berbisik lembut di telinga Shesa.
"Aku tidak mau membicarakan orang lain saat kita berdua, aku hanya ingin membicarakan tentang kita saja, aku dan kamu...kamu mengerti baby" bisik Vano mesra sembari tangannya mulai bergerilya dan melakukan penjelajahan.
Bukan penjelajahan Pramuka loh ya🤣
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥