
anak buah Excel mendengarkan semua percakapan antara Siska dan wanita itu.
"nyonya, kenapa kau sangat membenci Vano, bukankah dia adalah keponakanmu sendiri?" tanya Siska.
"dia memang keponakanku, tapi aku tidak terima jika dia yang meneruskan perusahaan besar milik keluarga Perkasa, harusnya perusahaan itu jatuh ke tangan suamiku, Hendrawan menikahi gadis miskin, ia melanggar janjinya, bahwa keturunan dari keluarga Perkasa tidak boleh ada yang menikah dengan gadis biasa" ucap wanita itu yang tak lain adalah tante dari Vano, adik ipar Hendrawan.
Siska semakin penasaran dengan apa yang diutarakan oleh Veronica.
"maksud nyonya apa?" seru Siska serius
"ada suatu aturan dalam keluarga besar Perkasa, bahwa anak keturunannya tidak boleh menikahi gadis dari keluarga sederhana, entah kenapa mama membolehkan Hendrawan menikahi Leona, gadis miskin itu" seru Veronica mengingat kesal tentang siap sosok Leona.
"apa Leona adalah ibunya Vano?" tanya Siska menyelidik.
Veronica terdiam, ia masih sangat kesal mengingat Hendrawan dan Leona menikah.
Veronica dan Leona adalah teman sekampus, Veronica menaruh hati kepada Hendrawan, namun Hendrawan justru mencintai Leona, gadis sederhana yang lembut dan kalem, semua itu membuat Veronica membenci Leona.
hingga akhirnya Hendrawan menikah dengan Leona, dan Veronica membalaskan dendamnya dengan menikahi adik Hendrawan, yaitu Vincent.
hingga suatu hari penyakit kanker otak yang diderita Vincent semakin parah, ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit, karena keadaannya yang semakin genting, waktu itu Hendrawan dan Leona sedang berada diluar negeri atas permintaan Nenek Vano, untuk mengurusi bisnis mereka di Dubai.
nenek Vano menghubungi Hendrawan, memberi kabar kalau adiknya sedang berada di rumah sakit, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk Hendrawan kembali pulang, maka ia memutuskan untuk membiayai seluruh pengobatan dan operasi untuk Vincent.
namun takdir berkehendak lain, Vincent meninggal dunia, dan itu yang membuat Veronica semakin membenci Hendrawan dan istrinya.
*****
"iya... Leona adalah ibunya Vano!" ucap Veronica dingin.
"jadi...ini adalah dendam dan asmara" seru Siska sembari menyipitkan matanya.
"katakan nyonya, apa yang bisa aku lakukan kepada mereka, kau tahu sendiri mereka sudah waspada dengan diriku, akan sangat sulit untukku mendekati mereka lagi" seru Siska
Veronica menyunggingkan bibirnya, wanita senja yang masih terlihat cantik itu, tampak menatap Siska dengan sangat serius.
"buat Vano kehilangan anak dan istrinya, aku mau pembalasan ini lebih kejam, supaya Hendrawan bisa berfikir, bahwa Veronica tidak bisa dianggap sepele" ucap Veronica dengan tatapan sinisnya.
Siska menatap tajam, ia mulai berfikir bagaimana caranya untuk menyingkirkan Shesa dan anak yang ia kandung.
"jika kamu berhasil, aku berikan 25 persen dari harta kekayaanku" tukas Veronica.
Veronica adalah pebisnis wanita yang terbilang sukses, ia cukup wara Wiri dalam dunia bisnis, darah konglomerat yang ia wariskan dari sang ayah, membuat Veronica cukup berpengaruh dalam dunia bisnis, Veronica memiliki seorang anak perempuan yang tentu saja sangat cerdas, tak lain adalah Liu Helena, sepupu Vano, namun sifat dan karakter Helena sangat bertolak belakang dengan ibunya.
"baiklah nyonya, akan aku coba pikirkan rencana apa yang akan aku lakukan terhadap Shesa dan bayinya, setelah itu aku akan menghubungimu!" seru Siska menyetujui rencana Veronica.
"usahakan tanganmu bersih, hingga mereka tidak mencurigaimu lagi, kau harus hati-hati, Vano mempunyai kekuasaan yang luas, dia bisa saja mengetahui rencana kita, sebelum kita mengeksekusinya" tandas Veronica mengingatkan.
"iya aku mengerti" balas Siska dengan tatapan sinisnya.
******
akhirnya Siska dan Veronica meninggalkan Cafe tersebut, tampak Excel melihat mereka dari kejauhan.
seorang anak buah Excel sedang menghampirinya.
"apa yang kau dapatkan?" tanya Excel serius.
kemudian anak buah Excel menceritakan semua apa yang sudah ia dengarkan tadi, dan tentu saja itu membuat Excel khawatir dengan keselamatan Vano dan Shesa.
"aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada mereka, ini adalah janjiku padamu Vano, Siska atau siapapun tidak akan bisa menyentuh Shesa ataupun bayinya" gumam Excel serius.
*******
sementara di kediaman Vano yang mewah, Shesa sedang menyelesaikan tugas kelompoknya yang harus diserahkan besok pagi kepada Bu Dewi, tampak Vano menunggu sang istri menyelesaikan tugasnya.
Vano berbaring diatas ranjang mewahnya, sembari memperhatikan Shesa yang masih sibuk dengan laptopnya.
"sayang udah belum?" seru Vano yang menunggu istrinya, Vano tak bisa tidur jika belum mendapat pelukan dari istrinya.
"iya sayang, sebentar nanggung nih, sepuluh menit lagi..oke" seru Shesa sembari tersenyum.
Vano dengan ekspresi malasnya, mulai bosan menunggu Shesa yang lama, ia memutuskan untuk duduk di balkon kamar tidur mereka, ia mengambil sebuah minuman untuk menghangatkan tubuhnya, kondisi malam yang gerimis membuat suasana terasa lebih dingin, Vano merebahkan tubuhnya di sandaran kursi sembari memejamkan matanya.
sepuluh menit sudah berlalu, Shesa telah selesai dengan tugas-tugasnya, kemudian ia menutup laptopnya dan membereskan lembaran tugas sekolahnya, lantas ia melihat kearah tempat tidur, ia tak mendapati Vano berada disana.
"loh... kemana dia?" seru Shesa sembari bola matanya berkeliling mencari keberadaan Vano.
"sayang...aku sudah selesai, sayang...kamu dimana?" seru Shesa yang terus berusaha mencari keberadaan Vano, perlahan Shesa melihat pintu balkon terbuka, ia tersenyum, Shesa yakin suaminya ada diluar.
Shesa melangkahkan kakinya menuju balkon, ia melihat Vano yang sedang menyandarkan kepalanya pada kursi, kemudian Shesa mendekati Vano dengan berdiri di depannya.
Vano menyadari kedatangan Shesa, ia membuka matanya, lantas ia melihat sang istri sedang berdiri menghadapnya.
Shesa menundukkan tubuhnya, tangannya menyentuh dada Vano dan mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat sekali.
"maafkan aku, sudah membuatmu menunggu lama" ucapnya lirih sembari menyentuh bibir Vano dengan lembut.
"aku tak bisa menunggumu terlalu lama, itu sangat menyiksaku" ucap Vano dengan suara seraknya.
hembusan nafas keduanya saling beradu, nafas hangat Vano menyapu lembut pipi Shesa yang mulus, beberapa kecupan sudah mendarat di pipi Shesa.
tatapan nakal Vano mulai liar, ia menarik tubuh Shesa hingga Shesa jatuh kedalam pangkuannya, Shesa mulai mengerti bahasa tubuh sang suami.
"aku ingin menagih janjimu, temani aku begadang malam ini!" bisik Vano yang membuat Shesa merinding setengah mati.
Shesa yang duduk diatas pangkuan Vano, membuat Vano leluasa untuk mengeksplorasi tubuh Shesa, dan mata Shesa mulai terpejam saat Vano memulai pemanasan itu dengan menyelami dua lembah dihadapannya, bermain disana sungguh sangat mengasyikkan buat Vano, benda kenyal itu membuatnya betah berlama-lama untuk menyesapnya dan membuat lukisan baru yang lebih indah.
"aahhh... sayang" Shesa meremas rambut Vano, saat sentuhan membuat aliran darahnya semakin berdesir, hingga membuat yang disana menjadi basah.
Vano melihat sang istri yang terbuai dengan apa yang dia lakukan, lantas tangannya mulai turun menjelajahi lembah yang sudah basah itu.
"ssssshhh..." Shesa berdesis saat sensasi rasa dari tangan Vano yang mulai mendarat pada area intinya.
" basah" Vano menyeringai, ia melihat istrinya yang terpejam.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥
OTOR ATUR NAFAS DULU YA😁