Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
menemani weekend


Shesa menatap wajah Helena yang tampak tidak tenang, Shesa merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan, perlahan Shesa mendekati gadis berparas oriental itu.


"Helena, apa itu benar?" tanya Shesa menyelidik.


Helena benar-benar tak bisa berkata apa-apa, Shesa mulai curiga, akhirnya Helena mengajak Shesa untuk bicara diluar, agar sang nenek tidak mendengar percakapan mereka.


"kita bicara diluar" ajak Helena sembari menggandeng tangan Shesa.


Shesa menurut pada Helena, dan Helena mulai menceritakan semuanya mengenai selendang itu, dengan seksama Shesa mendengarkan apa yang dikatakan Helena kepadanya.


"aku curiga, Mommy ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Tante Leona" ucap Helena sedih.


"Helena...." seru Shesa sembari menepuk pundak Helena.


"jika memang benar Mommy dibalik semua ini, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, Mommy sudah menyakiti orang banyak, Mommy menyakiti om Hendrawan, nenek, Vano...dan juga aku" sesal Helena sembari tertunduk sedih.


"Helena..." Shesa menatap sedih Helena.


"Shesa, aku akan mencari tahu kebenarannya, semuanya harus jelas, jika ini memang kejahatan Mommy, aku rela menebus kesalahan Mommy kepada Vano dan om Hendra" seru Helena sungguh-sungguh.


Shesa memeluk Helena, ia tidak menyangka Helena memihak kepada Vano meskipun Veronica adalah ibunya sendiri, akhirnya hari itu juga Helena membatalkan pertemuannya dengan Vano.


"Shesa, aku pulang dulu, aku akan mencari bukti yang sebenarnya, sebaiknya kamu pergi temui Vano, aku rasa saat ini dia sangat membutuhkanmu" pinta Helena


"baiklah, terimakasih banyak kau mau membantu kami, Helena" ucap Shesa tersenyum.


Akhirnya Helena pulang penuh tanda tanya, ia segera mencari tahu kenapa selendang itu tiba-tiba ada di tangan Veronica.


********


Shesa mulai masuk ke kamarnya, perlahan ia membuka pintu kamar, dia melihat kamar tampak sepi.


"sayang... aku sudah pulang, sayang kamu dimana?" seru Shesa sembari mencari keberadaan Vano.


tiba-tiba Shesa melihat sang suami tengah duduk meringkuk dengan memeluk kedua kakinya.


"sayang...kamu kenapa?" Shesa berlari dan menghampiri Vano yang berada di sudut ruangan.


Shesa melihat sang suami tengah menangis, iya.... seorang lelaki yang sedang menangis karena teringat dengan ibunya, Shesa mengusap lembut wajah sang suami, air mata tampak membasahi wajah tampannya.


"sssttt... jangan menangis, aku sudah datang" seru Shesa sembari memeluk Vano penuh mesra, Vano pun memeluk Shesa penuh kehangatan.


"ayo bangun lah" seru Shesa sembari menarik tangan kuat Vano.


Vano pun mengikuti perintah istrinya, ia bangun dan duduk disamping istrinya.


Shesa teringat ucapan Dewa, bahwa Vano masih sangat trauma dengan kejadian yang menimpa ibu kandungnya, sehingga Shesa sangat berhati-hati saat membicarakan tentang Leona kepada Vano.


"maafkan aku sayang, aku teringat mama" ucap Vano lirih.


"iya aku mengerti, kamu pasti sangat merindukannya" seru Shesa sembari tersenyum.


Vano tertunduk, sosok garang dan tegas yang selama ini Vano tunjukkan, hari ini ia seperti seorang anak yang merindukan kedatangan ibunya, Shesa mencoba menghibur sang suami.


"sayang kamu jangan sedih dong, aku pasti selalu bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu, kami berdua akan selalu menemanimu, aku dan bayi kita" seru Shesa menghibur suaminya.


Vano meraih tubuh Shesa dan memeluknya dengan hangat.


"terimakasih sayang, kalian berdua adalah hidupku, aku sangat menyayangi kalian berdua" ucap Vano dengan sendu.


"sebentar lagi aku akan membawa mama Leona pulang ke rumah ini, karena aku yakin mama Leona masih hidup, aku akan membuatmu tersenyum kembali sayang" gumam Shesa yang masih dalam pelukan sang suami.


"oh iya sayang, aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Shesa.


"ada apa?" jawab Vano singkat.


"hm...tadi aku ngobrol-ngobrol sama Nata, aku tertarik ingin berkunjung ke desanya, sepertinya di desa Nata hawanya sejuk deh sayang, kita kesana yuk, sekalian weekend...ayo dong sayang, boleh ya" Shesa merengek dan mencoba membujuk sang suami untuk menemaninya pergi ke desa Sumber Waras, tempat Renata tinggal.


"ohhh... terimakasih sayang, kamu benar-benar suami yang paaaling baik" ucap Shesa sembari tersenyum.


"hmm... tapi tidak semudah itu kita bisa pergi kesana!" seru Vano mulai menggoda Shesa.


"apa maksudmu sayang" seru Shesa terkejut.


Vano tersenyum dan menatap lekat-lekat wajah istrinya, dengan senyum smirk nya, membuat Shesa mengerti apa yang diinginkan suaminya.


Shesa tersenyum manja, ia mengerti maksud suaminya.


"tapi kau janji akan menemaniku kan?" bisik Shesa sembari mengalungkan tangannya pada leher Vano.


"Tentu saja" jawab Vano singkat sembari memulai mengecup mesra bibir sang istri.


aktivitas itu tak terelakkan lagi, demi mendapat izin sang suami Shesa harus rela menemaninya begadang sepanjang malam.


Setelah Vano puas dengan beberapa ronde, akhirnya Shesa terbangun dari tidurnya, ia melihat jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, karena hari ini ia akan pergi bersama Vano ke tempat dimana Nata tinggal, maka Shesa menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.


setelah itu Shesa menghubungi Helena.


tampak ponsel Helena berdering, ia pun tidak bisa tidur sepanjang malam, Helena mencari cara untuk mengorek informasi dari Mommy nya.


Helena mengangkat ponselnya.


" iya Shesa, ada apa?" tanya Helena.


"hari ini aku dan suamiku akan pergi ke tempat dimana mama Leona kecelakaan, aku berharap bisa menemukan petunjuk tentang keberadaan mama Leona, doakan kami agar bisa menemukan keberadaan mama Leona secepatnya" ucap Shesa.


"pasti, aku akan mendoakan agar Tante Leona, bisa segera ditemukan" seru Helena.


tanpa sengaja perbincangan antara Helena dan Shesa di dengarkan oleh Veronica.


"apa, mereka sudah tahu kalau Leona masih hidup, aku harus melakukan sesuatu, mereka tidak boleh tahu kalau Leona masih hidup" gumam Veronica dari luar kamar Helena.


sementara Vano terbangun dari tidurnya, ia mendapati Shesa tida ada disampingnya.


"sayang kamu dimana?" panggil Vano dengan manjanya.


"iya sayang sebentar...eh sudah dulu ya, suamiku mencari" seru Shesa kepada Helena lewat telepon.


"oke bayi besarmu tampak nya ingin menyusu, ya sudah pergi sana, mudah-mudahan perjalanan kalian hari ini sukses dan selamat sampai tujuan" ucap Helena tersenyum.


"apaan sih kamu...by the way terimakasih banyak...bye" ucap Shesa sembari menutup ponselnya.


Shesa menghampiri Vano yang tampak sedang menunggunya.


"dari mana saja sih?" tanya Vano sembari menyilangkan kedua tangannya.


"anu..aku tadi habis mandi habis itu aku ambil air minum, haus sayang" ucap Shesa.


"kesini dong, jangan jauh-jauh" seru Vano sembari menarik tangan sang istri.


"aku masih ngantuk, temani aku tidur lagi yuk" ajak Vano sembari membawa Shesa masuk kedalam selimut.


"tapi jangan macam-macam, awas ya aku udah mandi soalnya" pinta Shesa pada Vano.


"iya...iya...tapi kalau sebentar nggak papa kan!" bisik Vano sengaja menggoda istrinya, Shesa menoleh suaminya, ia melihat sang suami tersenyum puas sudah menggodanya.


"kenapa lihat aku begitu, dosa loh kalau nolak suami" ucap Vano dengan senyum nakalnya.


"ihhhh...dasar modus" ucap Shesa sembari mencubit pinggang Vano.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥