Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
aku tidak mau berpisah


Shesa berhenti saat Vano meraih tangannya, perlahan Vano mendekati istrinya, tangannya yang kuat mulai menurunkan retsleting gaun Shesa, Shesa tampak memejamkan mata saat tangan itu mulai menyentuh punggungnya dengan lembut.


Hingga akhirnya pemandangan nan mulus itu terpampang nyata dihadapan Vano, dengan senyum smirknya, Vano mengecup punggung sang istri dengan mesra, sentuhan itu membuat Shesa merasa geli sekaligus nikmat, entahlah setiap sentuhan yang diberikan Vano selalu membuatnya terbuai.


kecupan Vano menjelajah ke seluruh permukaan punggung Shesa, Shesa membusungkan dadanya saat sentuhan itu menjalar seperti aliran listrik, menciptakan daya beribu-ribu volt, denyut jantung yang berpacu dengan aliran darah, membuat keduanya terbuai dalam irama cinta.


Hingga tak terasa gaun itu jatuh di kaki Shesa, suasana romantis malam itu membuat keduanya terlena dalam buaian asmara, suara indah dan deru nafas yang memburu seakan membuat penyatuan itu tak bisa dihentikan.


Shesa menatap mesra sang suami, dengan posisi Balet Dancer membuat keduanya saling menatap dan berpacu semakin lincah.


"sayaannggg aku..." de*ahan sang istri membuat Vano semakin semangat untuk mencapai puncak tujuan.


Hingga akhirnya pelepasan itu terjadi bersamaan, Shesa tersenyum pada suaminya, tangan lembutnya mengusap wajah Vano yang penuh keringat.


"aku mencintaimu" ucap Vano sembari mencium kening sang istri, keduanya melanjutkan dengan mandi bersama.


*****


di kediaman Veronica.


Veronica pulang dengan wajah yang kacau, ia membanting tasnya dan merebahkan tubuhnya diatas sofa mewahnya, tampak seorang gadis cantik yang tengah memperhatikannya.


"Mommy" Helena melihat ibunya tengah kacau, ia mulai menghampiri Veronica yang sedang memegang kepalanya.


"Mommy, ada Mom?" tanya Helena yang bingung melihat Veronica yang tampak kesal.


"Vano sudah mengambil data-data perusahaan kita" seru Veronica kesal.


"apa? Vano mengambil data-data kita? bagaimana bisa? Vano tidak mungkin mengambil data-data perusahaan orang lain, kalau bukan tanpa sebab, pasti ada sesuatu yang membuatnya terusik" seru Helena.


"Helena, kamu itu anak Mommy, seharusnya kamu membela Mommy daripada dia" ucap Veronica menatap tajam kepada putrinya.


"maaf Mom...aku tidak bermaksud begitu, aku sudah sering bekerja sama dengan Vano, selama ini dia sangat profesional, dia selalu jujur, mana mungkin Vano sampai mengambil data-data perusahaan kita kalau tidak ada sebabnya" tukas Helena menentang


"Mommy tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Helena, jelas-jelas dia sudah berusaha menghancurkan perusahaan kita, tapi kamu malah membela dia" seru Veronica marah.


"bukan begitu Mom, Mommy udah salah faham" seru Helena.


"seharusnya kamu membantu Mommy untuk merebut kembali data-data perusahaan kita yang sekarang ada ditangannya" ucap Veronica sembari menunjuk wajah sang putri.


"tapi Mom, aku tidak bisa melakukan itu, Vano tidak mungkin sengaja mengambil data-data perusahaan kita, selama dia merasa tidak terancam, atau jangan-jangan ini ulah Mommy sendiri?" Helena mulai curiga dengan ibunya.


"ke...kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu? kamu sudah menuduh Mommy yang mencari gara-gara sama dia?" ucap Veronica gugup.


"bisa jadi? Mommy sengaja melakukan itu untuk membalas dendam atas kematian Daddy kan Mom? Mommy ingin menyakiti om Hendrawan dengan cara menyakiti Vano juga...iya kan Mom?" seru Helena yang sudah mengetahui dendam Veronica dari sang nenek.


"itu tidak benar, Vano memang sengaja ingin menghancurkan perusahaan kita" jawab Veronica mengelak.


"Mommy untuk apa sih melakukan ini? percuma Mom, Daddy meninggal bukan karena om Hendrawan, ini sudah takdir, kenapa Mommy masih ingin membalaskan dendam kepada mereka" seru Helena sedih.


"kamu tidak tahu apa-apa Helena, apa yang Mommy lakukan ini untuk mendapat keadilan" seru Veronica.


"keadilan? apa maksud Mommy?" tanya Helena tidak mengerti.


"tapi setahuku om Hendrawan dan Vano merintis sendiri perusahaan mereka Mom, mereka memulainya dari nol, bukan karena harta warisan itu" ucap Helena menjelaskan


"tahu apa kamu tentang harta warisan itu, memangnya kamu tahu mereka menggunakan harta warisan itu untuk apa, ya pasti untuk kepentingan mereka sendiri, mereka lupa bahwa kamu juga cucu nenek, kamu juga berhak mendapatkan harta warisan itu" seru Veronica mencari pembelaan.


"ya ampun Mommy, Mommy sudah salah faham, nenek pernah bilang padaku, seluruh harta peninggalan milik kakek masih utuh, belum tersentuh siapapun, om Hendra memang yang mendapat hak waris itu, tapi beliau tidak mau menggunakannya untuk kepentingan dia sendiri, om Hendra lebih memilih berjuang sendiri untuk membangun sebuah perusahaan, hingga akhirnya om Hendra berhasil seperti sekarang" ucap Helena menjelaskan.


"Mommy, om Hendrawan sangat menyayangi Daddy, om Hendra tidak serta merta menggunakan harta warisan itu untuk dirinya sendiri, karena om Hendra tahu Daddy memiliki seorang putri, yaitu aku Mom...om Hendra sudah berjanji pada Helena, bahwa om Hendra akan memberikan hak Helena setelah Helena menikah nanti" ucap Helena sembari memegang tangan Veronica.


"Mommy tidak usah khawatir, Helena akan tetap mendapatkan hak, mereka tidak sejahat yang Mommy kira...percayalah Mom" seru Helena sembari menatap sendu pada ibunya


Veronica tampak gusar, apa yang dikatakan sang putri membuat dirinya sedikit berpikir, namun rasa dendamnya pada Leona tidak akan pernah padam.


"hahhh...Mommy capek, Mommy mau ke kamar dulu" seru Veronica sembari meninggalkan Helena.


"Mommy, semoga Mommy segera sadar" gumam Helena


*******


Di kamar.


tampak Vano dan Shesa tengah berbaring diatas tempat tidurnya, Vano memegang perut sang istri yang tampak berisi itu.


"sayang...papa sudah tidak sabar melihatmu lahir ke dunia ini" seru Vano mengusap lembut perut sang istri.


"dia pasti juga tidak sabar melihat papanya yang nakal ini" sahut Shesa sembari mencubit pipi Vano.


"aww...sakit dong sayang" seru Vano sembari memegang pipinya.


"biarin...emang kamu nakal" ucap Shesa sembari memgerucutkan bibirnya.


Vano melihat ekspresi Shesa yang menggemaskan, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Shesa, lantas berbisik.


"nakal nakal...tapi kamu juga suka kan...hm" seru Vano yang langsung menautkan bibirnya pada bibir Shesa.


"emmhhh...." pekik Shesa sembari memukul -mukul dada Vano, karena ia merasa kehabisan nafas saat Vano melahap bibirnya.


Vano yang merasa istrinya mulai tak nyaman, dengan segera ia melepaskan ciuman brutalnya itu.


"hufftt....hhhhh" nafas Shesa yang tak beraturan.


"tuh kan, kamu benar-benar nakal, untung aja aku tidak mati lemas tadi " celetuk Shesa yang membuat Vano menutup bibir Shesa dengan satu jarinya, Shesa terkejut dan menatap dalam-dalam wajah sang suami.


"sssttt...jangan bicara kematian, aku tidak mau kita berpisah, kita akan selalu bersama dalam suka dan duka, jika kau mati akupun akan ikut mati bersamamu" ucap Vano sendu.


"sayang...." Shesa langsung memeluk sang suami penuh kehangatan, air matanya terjatuh tanpa bisa dibendung lagi.


"aku mencintaimu...aku mencintaimu" bisik Shesa sendu...


BERSAMBUNG


🍁🍁🍁🍁🍁