Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Detik-detik


...Sebelum membaca bab ini, persiapkan dulu oksigen yang banyak, author takut kalian ikut tahan napas, efek samping author nggak nanggung loh ya😁😁...


Sementara di rumah, Hendrawan sudah pulang dan segera membantu sang menantu untuk membawanya ke rumah sakit, tentu saja kedua teman Shesa juga ikut ke rumah sakit, mereka juga tidak sabar dengan detik-detik launching nya Vano junior.


"Mari nona kami bantu untuk naik ke mobil" seru beberapa pelayan kepada Shesa, mereka sudah menyiapkan kursi dorong agar Shesa tidak kesulitan saat berjalan menuju mobil yang berada di pelataran rumah mewah mereka.


"Tidak usah, lebih baik aku jalan kaki saja, kata dokter ini akan membantu proses persalinan lebih cepat" ucapnya sembari tersenyum.


Tampak Monic melihat Shesa yang tidak merasa kesakitan yang berlebihan, meskipun terkadang ia melihat Shesa tampak mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, karena kontraksi itu mulai membuat Shesa sedikit terengah-engah.


"Shesa kuat banget ya, padahal dulu aku pernah lihat tanteku melahirkan, ampun deh teriak-teriak kesakitan, kayak menyiksa gitu, tapi Shesa kok anteng-anteng saja, atau jangan-jangan melahirkan itu nggak sakit? lihat Shesa rileks kayak gitu, jadi pingin punya anak banyak" bisik Monic kepada Laura sembari tersenyum.


"Yeay dasar Monic" balas Laura tersenyum sembari menyikut lengan Monic.


Sementara Leona selalu mendampingi menantunya, Hendrawan menyuruh seluruh pelayan untuk mempersiapkan kehadiran cucu mereka, dari semua perlengkapan dan segala yang dibutuhkan untuk kehadiran si jabang bayi.


Setelah beberapa saat Shesa sudah sampai di dalam mobil yang sudah disediakan khusus untuk nya, mobil mewah dengan fasilitas yang super, agar membuat Shesa merasa nyaman disaat-saat yang menegangkan ini. (author nggak pake lambho lagi, entar di demo massal😁)


Dan akhirnya mobil mewah itu berangkat menuju rumah sakit, dan mobil satu lagi untuk mengawal Shesa agar selamat sampai di tempat, kedua teman Shesa berada di mobil kedua.


Sementara Vano menghubungi Hendrawan yang kini tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit, dengan segera Mario langsung melajukan mobilnya.


"Mario Kita langsung ke rumah sakit, aduhhh...sss" perintah Vano sambil memegangi pinggangnya yang sedari tadi terasa sakit, Mario melihat kearah spion dan mendapati Tuan Mudanya tengah meringis kesakitan.


"Tuan muda kenapa? sakit?" tanya Mario khawatir.


"Pinggangku rasanya mau patah" jawab Vano


"Loh kok tumben pinggang Tuan muda sakit, seumur-umur baru kali ini saya melihat Anda sakit pinggang, atau jangan-jangan tuan muda terkena encok atau rematik gitu?" tanya Mario sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Ngawur kamu, aduhh ternyata sakit juga ya rasanya melahirkan!" ucap Vano sembari mengelap keringat yang selalu keluar dari wajah tampannya, meskipun udara di mobil sudah dingin karena AC, namun tetap saja keringat Vano bermunculan menghiasi wajahnya yang tampan.


"Yang melahirkan non Shesa, kenapa yang sakit Tuan muda? aneh sekali, kalau lihat kayak gini, jadi takut punya anak banyak" gumam Mario sembari membayangkan dirinya kesakitan saat Monic melahirkan nanti.


"Mario cepetan, pasti mereka sudah sampai di rumah sakit, aku sudah tak sabar melihat keadaan istriku" seru Vano dengan sangat gelisah.


"Iya...iya Tuan muda, sebentar lagi kita sampai" jawab Mario.


*******


Di rumah sakit.


Shesa beserta keluarganya tiba di rumah sakit, terlihat tenaga medis mulai menyambut kedatangan mereka, tampak Shesa berjalan sendiri, ia menolak untuk dibantu dengan kursi roda, ia ingin persalinannya ini lancar tiada kendala, ia juga berusaha menguatkan raganya agar stamina nya tetap terjaga saat proses melahirkan nanti.


"Shesa, apa kamu masih kuat berjalan sampai ke kamar persalinan? kalau tidak kuat kamu bisa pakai kursi roda" seru Leona yang tidak tega melihat menantunya, karena dirinya sendiri pernah mengalaminya saat Vano akan lahir ke dunia.


"Tidak ma, tidak apa-apa, Shesa masih kuat, selama Shesa masih bisa berjalan sendiri, Shesa akan berusaha untuk sampai ke kamar persalinan" jawab Shesa tersenyum, meskipun sesekali ia menggigit bibir bawahnya karena rasa ngilu itu terus mendorong si baby untuk segera keluar.


Laura yang tak tega melihat Shesa, meskipun Shesa tidak menunjukkan rasa sakit, mencoba membujuk Shesa agar ia pakai kursi roda saja.


"Shesa, kamu naik aja di kursi roda, aku khawatir saja kalau baby-nya jumping sendiri, tahu sendiri mamanya lincah banget panjat dinding, pasti baby-nya nggak kalah lincah tuh" ucap Laura, membuat Shesa tersenyum.


"Kamu bisa aja!" jawabnya singkat.


Dan akhirnya sampai juga Shesa di depan kamar persalinan, suster segera memapah Shesa untuk masuk ke ruang persalinan, sementara dokter sudah menunggu di dalam.


"Maaf kami mohon keluarga menunggu di depan, kami akan segera menangani pasien" seru dokter Feby, dokter ahli kandungan dan kebidanan yang menangani proses persalinan Shesa.


Tampak Leona dan Hendrawan menunggu diluar, sementara kedua temannya juga harap-harap cemas.


Sementara Vano sudah mulai tiba di rumah sakit, ia langsung bergegas menuju tempat istrinya melahirkan.


*****


"Bagus, baby-nya sudah dalam posisi pas, pembukaan masih 5, kita tunggu sampai pembukaannya sempurna ya, Nyonya masih kuat kan? mungkin sekitar setengah jam lagi baby akan minta keluar, oh iya... papanya nggak ikut nemenin?" seru dokter Feby sembari melepaskan kaos tangan seusai mengecek pembukaan leher rahim.


Dan tiba-tiba saja, Vano masuk bersama suster.


"Sayang, kamu sudah datang" seru Shesa yang melihat kedatangan suaminya.


Vano berjalan menghampiri istrinya yang duduk diatas tempat tidur, dengan segera Vano memeluk Sang istri penuh kelembutan, sesekali ia mencium pipi dan seluruh wajah istrinya.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan? aku khawatir sekali!" ungkap Vano dengan sedikit menahan rasa sakit di pinggangnya, sehingga membuat Shesa terkejut melihat wajah sang suami yang terlihat tegang.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Shesa sembari mengelap keringat yang keluar dari wajah suaminya.


"Pinggangku sakit sekali, dari tadi perutku juga mulas-mulas, apa perut kamu nggak sakit sayang?"ungkap Vano sambil menahan rasa sakitnya.


"Nggak, cuma pingin banget pipis, tapi nggak bisa keluar pipisnya, aku juga heran" seru Shesa.


Dokter Feby tersenyum mendengar nya


"Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir, apa yang anda rasakan berdua itu sangat bagus sekali, itu tandanya kalian berdua memiliki ikatan batin yang sangat-sangat kuat, sehingga sang ayah ikut merasakan apa yang dirasakan sang ia ibu ketika melahirkan, dan hal ini jarang sekali terjadi" ungkap dokter Feby.


Vano dan Shesa ikut tersenyum bahagia, namun tiba-tiba saja Shesa ingin sekali mengejan dan itu membuat Vano semakin khawatir.


"Sayang kamu kenapa?...aduhhh" seru Vano sembari menahan rasa sakitnya yang semakin luar biasa.


"Sayang aku rasa baby kita mau keluar" seru Shesa sambil mencengkram tangan Vano.


Dokter Feby dan beberapa suster mengubah posisi Shesa dengan membuka kedua kakinya lebar-lebar, dan mengangkat kakinya, sehingga akan mudah untuk Shesa mengejan dan mendorong baby-nya keluar.


Sementara wajah Vano sudah sangat merah karena rasa sakit itu benar-benar ia rasakan, belum lagi cengkeram tangan Shesa yang membuat Vano semakin menahan rasa sakitnya, sedangkan Shesa mulai mengambil nafas dalam-dalam dan mendorong baby-nya untuk keluar.


"Ambil nafas dalam-dalam dan dorong!" perintah dokter Feby.


"Huffft....huffff.....eemmmm" suara Shesa saat mengambil nafas, Vano terus memegang tangan sang istri sembari melihat secara live detik-detik lahirnya Vano junior.


"Ayo Nyonya, tinggal sedikit lagi, kepala nya sudah terlihat, satu tarikan nafas lagi" seru dokter Feby mengarahkan.


"huffft.... huffft.... huffft...emmmmhh" Dengan sekuat tenaga Shesa mendorong bayinya agar segera keluar, sedangkan Vano terperangah melihat kepala bayinya mulai keluar dari sarangnya.


"Iya...terus...bagus" Dokter Feby dengan cepat menangkap baby mungil itu.


"Oek...oek... oek..."


Suara tangis bayi mulai memenuhi ruangan itu.


"Selamat ya Tuan dan Nyonya, baby-nya laki-laki, cakep sekali" ucap dokter Feby senang.


Tak terasa air mata kedua pasangan itu tumpah secara bersamaan, Vano memeluk istrinya penuh cinta.


"Terimakasih sayang, kamu sudah memberikan kebahagiaan untukku, selamat kamu sudah menjadi ibu" ucap Vano sembari mencium kening istrinya.



BERSAMBUNG


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


...Akhirnya Vano junior udah lahir ke dunia, author udah lega... terimakasih banyak atas dukungannya, jangan lupa pantau terus kisah ini sampai ending, author nggak bakalan bikin kalian kecewa, semuanya akan bahagia pada waktunya....


...Kuyy dukung terus, like komen dan vote kalian sangat berarti untuk author, dan jangan lupa beri hadiah seikhlasnya 🙏🥰🥰...


...Terimakasih...