Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
aku cinta kamu


Mita dan Nabila langsung pergi meninggalkan Shesa dan Monic.


"Shesa, kenapa sih kamu nggak bilang aja sama mereka tentang hal yang sebenarnya" seru Monic.


"aku tidak tega melihatmu diperlakukan seperti itu, mereka sudah memandangmu rendah, bagaimana kalau pak Vano tahu? dia tidak akan tinggal diam kamu diperlukan seperti ini" sambung Monic yang mencoba meyakinkan Shesa.


"aku mengerti maksudmu Monic, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan menyimpan rahasia ini sampai aku lulus sekolah nanti, aku tidak mau cita-citaku terkubur hanya karena aku menikah muda" tukas Shesa pelan.


"kau tahu sendiri reputasi sekolah ini sangat bagus dimata masyarakat, bahkan sekolah ini popularitasnya sudah mencapai Internasional, apa kamu mau reputasi sekolah ini akan hancur, gara-gara salah seorang siswanya sudah menikah diam-diam?" sambung Shesa


"apalagi suamiku adalah pemilik tertinggi saham di sekolah ini, aku tidak mau membuatnya malu karena sudah menikahi anak didik yang belum lulus dari sekolah yang sudah ia dirikan sendiri" jelas Shesa pada Monic.


"entahlah Shesa, kalau aku jadi kamu, aku nggak sanggup untuk menghadapi masalah berat seperti ini, aku salut sama kamu Sha" puji Monic sembari memeluk Shesa.


"ayo kita pulang" ajak Shesa Kepada Monic.


Shesa mengajak Monic pulang bersamanya, Mario sudah berada didepan sekolah.


"Monic, bareng aku aja" seru Shesa


"tidak, terimakasih aku bisa pulang sendiri" seru Monic menolak.


"baiklah, terserah kamu saja, kalau begitu aku pulang dulu" pamit Shesa.


"iya hati-hati, jangan lupa istirahat" sahut Monic mengingatkan.


"iya, terimakasih....bye" balas Shesa sembari melambaikan tangannya.


********


di rumah


Shesa pulang dengan sedikit lemas, entah kenapa hari itu ia merasakan badannya lemas dan capek banget, padahal pagi tadi ia masih baik-baik saja, nenek yang melihat itu segera menghampiri Shesa.


"menantu sayang, kamu kenapa? wajahmu pucat sekali, kamu sakit?" tanya nenek penasaran.


"tidak nenek, Shesa tidak apa-apa, cuma sedikit kecapekan saja, Shesa istirahat dulu nek, kepala Shesa sangat pusing" balas Shesa sembari tersenyum.


"baiklah, istirahatlah di kamar, aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan makanan" seru nenek.


"ah...tidak perlu nenek, Shesa nggak nafsu makan, Shesa cuma butuh istirahat sebentar" ucap Shesa menolak permintaan nenek.


"ya sudah, kalau itu maumu" ucap nenek, kemudian nenek memanggil pelayan untuk mengantarkan Shesa ke kamarnya, karena nenek melihat Shesa merasa sangat lemas.


"pelayan, antar nona muda ke kamarnya," perintah nenek pada seorang pelayan wanita.


"baik nyonya besar" jawab pelayan itu


Shesa berjalan dibantu oleh pelayan itu, mengingat badannya masih sangat lemas sekali, sehingga nenek takut jika Shesa tidak kuat saat menaiki anak tangga yang cukup banyak.


akhirnya Shesa sampai di kamarnya, pelayan mengantarnya sampai ke tempat tidur.


"terimakasih" ucap Shesa.


"iya nona, apa nona muda butuh sesuatu? nanti saya ambilkan?" seru pelayan menawarkan sesuatu.


"tidak ada" jawab Shesa singkat.


"baiklah saya permisi dulu nona" pamit pelayan itu.


******


diruang tengah


nenek segera menelepon Vano untuk memberitahu tentang keadaan Shesa, saat itu Vano sedang berada di ruang rapat bersama delegasi dari Singapura, Vano melihat ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon nya.


dengan segera Vano mengangkat telepon dari neneknya.


"iya nek, ada apa?" sapa Vano.


"Vano, istrimu pulang sekolah terlihat sangat lemas, nenek takut dia sakit, kamu pulang ya... halo, halo... Vano" seru nenek.


"kebiasaan nih anak, aku belum selesai bicara, sudah main tutup ajah...hm" seru Nenek yang mendapati kebiasaan Vano yang tiba-tiba menutup teleponnya.


Vano sudah mendengar nenek nya bicara lewat telepon, belum selesai neneknya melanjutkan kata-katanya, Vano sudah tak sabar ingin segera pulang ke rumah dan menemui Shesa yang.


"sekretaris Jimmy, urus semua pertemuanku dengan beberapa delegasi hari ini, aku mau pulang segera, ada yang lebih penting dari rapat kali ini" ucap Vano pada Sekretaris Jimmy.


"baik tuan muda" jawab Sekretaris Jimmy.


kemudian Vano lekas meninggalkan ruangan rapat, ia segera keluar gedung dari untuk naik ke mobil nya, hatinya sudah was-was tentang apa yang dikatakan nenek lewat telepon tadi, ia sangat mencemaskan Shesa.


"kamu kenapa sayang, tunggu aku, akan segera pulang" gumam Vano dalam hati, padahal hari ini adalah rapat penting untuk membicarakan kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan milik asing, namun semua itu ia tinggalkan demi mengkhawatirkan keadaan Shesa yang sedang tidak enak badan di rumah.


setelah hampir lima belas menit, Vano telah sampai dikediamannya yang mewah, ia turun dari mobil mewahnya, dan langsung berlari ke dalam rumah, ada nenek yang masih berada di ruangan tengah.


"nenek, bagaimana keadaan istriku?" tanya Vano pada nenek dengan sedikit tergesa-gesa


"Vano, cepat sekali kau pulang" ucap nenek yang terheran melihat Vano pulang dengan cepat sekali.


"istrimu ada di kamarnya" ucap nenek, dengan segera Vano berlari menuju ke kamar mereka, hingga akhirnya ia tiba di depan kamar mereka, Vano membuka pintu dengan tenang, perlahan bayangan seseorang yang sedang tidur mulai terlihat, Vano semakin mendekat, dan Shesa menyadari kehadiran suaminya.


"sayang, kau sudah pulang?" tanya Shesa pada Vano yang terlihat sangat khawatir, Vano mendekati Shesa dengan segera.


"sayang, apa yang terjadi padamu? kamu sakit?" tanya Vano sembari memeluk tubuh istrinya, Shesa menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vano.


"akan aku panggilkan dokter sekarang!" seru Vano sembari membuka ponselnya, namun Shesa mencegahnya.


"jangan, tidak usah, aku sudah agak mendingan" jawab Shesa sembari meyakinkan suaminya.


"tapi, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu sayang" ucap Vano sembari membelai lembut pipi Shesa, dan Shesapun memegang tangan Vano yang menyentuh lembut pipinya.


"sayang, bukannya hari ini ada rapat penting dengan delegasi dari Singapura, kenapa pulang? apa ini tidak akan merugikan perusahaan?" seru Shesa serius.


"demi kamu, rintangan apapun akan aku terjang, meskipun harus merelakan kerja sama ini, tapi sudah ada sekretaris Jimmy yang mengurusnya, jadi kamu tidak perlu khawatir" jawab Vano yang terus memeluk Shesa, seakan tak ingin jauh-jauh dari istrinya.


"katakan padaku, apa yang terjadi padamu hari ini?" tanya Vano sembari menatap tajam kearah Shesa, Shesa tak kuasa menahan tatapan Vano yang penuh kehangatan.


"aku... pingsan" jawab Shesa singkat


"apa? pingsan! aku panggil dokter sekarang" ucap Vano yang memaksa Shesa untuk pergi ke dokter.


"sayang, aku tidak apa-apa, percayalah... mungkin aku cuma kecapekan, kamu jangan terlalu khawatir, aku baik-baik saja kok" ucap Shesa sembari menahan tangan Vano yang memaksanya untuk pergi ke dokter.


"baiklah, kalau kamu memaksa tidak mau di periksa dokter, setidaknya kamu harus istirahat, besok tidak usah masuk sekolah dulu" pinta Vano.


"tapi sayang, ini hanya sakit ringan, besok pasti sudah sembuh kok, pliss jangan larang aku ke sekolah" jawab Shesa memohon.


"tidak bisa" ucap Vano tetap pada pendiriannya.


"baiklah, kalau kamu tidak mau, lebih baik malam ini aku tidur di kamar nenek saja" Seru Shesa menggoda suaminya, Vano menghela nafas panjang, ia berfikir bila Shesa tidur bersama nenek, terus siapa yang akan menemaninya tidur, sedangkan Vano tidak bisa tidur tanpa Shesa disampingnya, akhirnya ia menyetujui Shesa untuk tetap sekolah esok hari.


"oke... besok aku izinkan kamu sekolah, tapi ingat kalau terjadi apa-apa lagi, aku akan menskors kamu dari sekolah" ucap Vano sembari menatap arah jendela, mendengar itu Shesa dengan senangnya memeluk Vano dari belakang.


"makasih sayang, aku cinta kamu" seru Shesa yang membuat Vano tersenyum bahagia.


BERSAMBUNG


❤️❤️❤️❤️