Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
pemenang pertama


Sedangkan Siska hanya melihat kejuaraan itu lewat televisi, dengan senyum liciknya Siska menunggu saat-saat reputasi sekolah yang selama ini mendapat nilai tertinggi, akan jatuh begitu saja, saat tali yang digunakan oleh peserta dari siswa sekolah Harapan Bangsa itu putus.


Siska sengaja menyabotase tali pengaman pada panjat dinding itu, ia membayar seseorang untuk membuat tali itu menjadi rapuh, ia berharap sekolah itu tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk menjadi pemenang, hingga akhirnya nama Vano yang akan dipertaruhkan.


"sebentar lagi, Vano akan merasakan bagaimana rasanya terjatuh dari kesuksesan, nama baiknya akan ikut jatuh seiring dengan jatuhnya siswa yang mewakili kejuaraan itu, ini momen yang sangat langka" ucapnya sembari minum segelas jus.


*******


sementara Laura sudah ancang-ancang untuk segera naik pada dinding setinggi 15 meter itu, Laura disandingkan dengan siswi sekolah SMA Gentabuana, sementara Shesa harap-harap cemas melihat Laura yang segera memanjat dinding setinggi 15 meter yang pernah ia taklukkan itu.


"Laura semoga kamu berhasil, nama baik sekolah kita ada di tanganmu" gumam Shesa penuh harap.


Monic tampak curiga melihat Shesa yang terlihat khawatir, ia mendekati sahabatnya itu.


"Shesa, apa yang kamu pikirkan, kamu tampak gelisah sekali" tanya Monic penasaran.


"ada berita gawat Mon" ucap Shesa serius.


"berita gawat? apa yang sebenarnya terjadi?" seru Monic khawatir, kemudian Shesa menceritakan semua tentang ia yang tak sengaja mendengar percakapan antara kepala sekolah dan Bu Dewi.


Monic membulatkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang akan terjadi jika Laura tidak bisa memenangkan kejuaraan ini.


"Laura, hanya dia satu-satunya penyelamat kita, ya Tuhan berikan perlindungan kepada sekolah kami" seru Monic yang berharap Laura bisa berhasil.


dan saatnya tiba, Laura mulai naik memanjat dinding setinggi 15 meter itu, dengan seluruh kekuatannya Laura berusaha mengungguli siswa yang menjadi rivalnya, namun tiba-tiba ia terpeleset dan tali pengaman Laura putus, hingga membuat Laura terjatuh dilantai.


"Laura..." teriak Shesa dan Monic yang melihat Laura terjatuh secara tiba-tiba, kemudian Shesa dan Monic menghampiri Laura.


"Laura...kau tidak apa-apa kan?" seru Shesa saat melihat Laura kesakitan, namun masih untung Laura belum sampai berada dipuncak, ia masih memanjat sekitar 2 meter hingga akhirnya tali itu terlepas begitu saja, Laura segera di evakuasi di tenda darurat.


Shesa melihat ada ketidak beresan pada tali yang digunakan Laura, ia lantas mengadukan itu kepada pihak panitia, bahwa ada kesalahan teknis yang membuat sang pemanjat terjatuh karena keamanan nya belum memenuhi syarat.


akhirnya juri mendiskualifikasi Laura, juri menyuruh mengulang kembali panjat dinding itu, namun Laura sepertinya sangat kesakitan, ia tak sanggup melakukannya lagi, karena luka bekas operasinya menjadi sangat nyeri saat ia terjatuh tadi.


"Laura, kamu kenapa?" tanya Shesa saat melihat Laura tampak kesakitan diperutnya.


"isshh...perutku sakit sekali" Laura meringis kesakitan.


"kita harus bagaimana Sha? sepertinya Laura tidak bisa melanjutkan nya" seru Monic yang khawatir dengan keadaan Laura.


Shesa berfikir sejenak, ia harus melakukan sesuatu, ia tidak mau nama baik suaminya menjadi pertaruhan, sekolah yang selama ini telah membesarkan nama baik sang suami akan jatuh begitu saja, saat kejuaraan ini tidak berhasil dimenangkan.


namun tiba-tiba...


"aku yang menggantikan Laura" ucap Shesa lugas, ia bertekad untuk memenangkan kejuaraan ini.


"Shesa...apa maksudmu? kamu jangan bercanda ya, kamu sedang hamil, bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu dan bayimu" seru Monic khawatir.


"aku yakin aku tidak akan apa-apa, reputasi sekolah kita dan nama baik suamiku ada di tanganku" ucapnya dengan keyakinan bahwa Shesa pasti mampu melewati dinding setinggi 15 meter itu.


"maafkan aku Shesa, aku tidak bisa berbuat apa-apa" seru Laura yang lemas dan tampak kesakitan.


"Laura, sebaiknya kamu istirahat saja, lukamu masih belum sembuh betul" seru Shesa sembari tersenyum.


lantas Shesa beranjak dan segera pergi ke panitia pelaksana, Mario melihat Shesa yang sedang berbicara dengan panitia pelaksana lomba, tatapan mata Mario semakin terkejut lagi saat Shesa dipasangkan tali pengaman itu pada tubuhnya.


sementara Monic terus mendampingi Shesa, ia sangat khawatir sekali dengan keadaan Shesa sekarang.


"Shesa ..aku tidak bisa bayangin kalau saja pak Vano tahu" seru Monic khawatir.


"kau jangan khawatir Monic, aku tidak akan apa-apa, bayiku pasti kuat, ia tahu mamanya berjuang untuk papanya, pasti dia ikut membantu...iya kan sayang" seru Shesa penuh keyakinan sembari menatap perutnya.


tiba-tiba saja Mario berlari menuju Shesa yang hendak memanjat dinding itu.


"nona muda, sebaiknya anda jangan lakukan itu, tuan muda pasti marah besar" ucap Mario merengek agar Shesa mengurungkan niatnya.


dan tentu saja itu membuat Monic terkejut saat Mario memanggil Shesa dengan sebutan nona muda.


"kok dia manggil Shesa dengan nona muda, siapa dia sebenarnya?" gumam Monic penasaran


"Mario tolong Jangan bilang padanya, aku akan segera menyelesaikan semua ini, aku hanya butuh tidak lebih dari satu menit untuk mencapai puncak itu, ini semua demi suamiku" seru Shesa yang semakin tidak dimengerti oleh Mario.


"tapi non..."


"sudahlah, kalian berdua jangan khawatir, semua akan baik-baik saja" seru Shesa menenangkan keduanya.


Mario dan Monic saling menatap penuh kekhawatiran, apalagi Mario, ia sangat khawatir dengan keadaan Shesa.


"aduh non, semoga saja nona muda berhasil dan baik-baik saja, kalau tidak aku bisa dipenggal sama tuan muda" seru Mario sangat takut dan khawatir, Monic yang mendengar ucapan Mario semakin terkejut dan ia mulai curiga, jangan-jangan Mario adalah anak buah Vano.


hingga akhirnya aba-aba segera dimulai.


"sayang, kamu bantu mama ya, jangan rewel, kita saling menguatkan, ini semua demi papa kamu" bisik Shesa pada bayinya.


dalam hitungan ketiga, Shesa mulai cekatan menaiki dinding setinggi 15 meter itu, tanpa ada rintangan yang berarti, Shesa berhasil menyalip lawannya, dan dalam hitungan detik, Shesa berhasil meraih puncak dengan sangat mudah.


Monic dan Mario deg-degan melihat Shesa yang mulai menaiki setiap pijakan kaki pada dinding itu, namun semangat Shesa untuk mencapai puncak tidak menjadi kendala baginya, dengan cepat dan cekatan ia meraih puncak dengan waktu tercepat.


Shesa tersenyum bahagia saat dirinya berhasil mencapai puncak itu dengan mudah, tali pengaman mulai menurunkan tubuh Shesa perlahan.


"makasih sayang, kau sudah membantu mama untuk kuat" bisiknya pada calon buah hatinya..


"Yeay...Shesa berhasil, kita berhasil" seru Monic yang tidak sadar ia memeluk Mario yang berada disampingnya.


tiba-tiba Monic menyadari bahwa ia spontan memeluk Mario karena rasa bahagianya, kemudian ia melepaskan pelukannya dari Mario dengan cepat, Monic sangat senang Shesa berhasil menaklukkan dinding itu lagi.


******


Sementara Siska tidak percaya, bahwa Laura yang mewakili sekolah untuk kejuaraan itu, Siska sudah mencelakai keponakannya sendiri.


"ah...sial kenapa Laura bisa melakukan itu" ucapnya kesal


ditambah lagi sekolah Harapan Bangsa keluar sebagai pemenang pertama, dan itu semua berkat usaha Shesa yang ingin menjaga nama baik sekolah dan nama baik suaminya.


"Shesa lagi, Shesa lagi... kenapa sih dia selalu bernasib baik" umpat Siska yang penuh kekesalan.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥