Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
ulang tahun Hendrawan


Vano sudah sampai di Bandara Internasional Juanda, sesekali ia melihat jam tangannya, menurut jadwal penerbangan, pesawat yang ditumpangi Hendra landing jam 8 pagi, Vano tiba pukul 8 lewat lima menit.


Vano dan Mario menunggu di lobi bandara, setelah beberapa saat tampak seorang laki-laki berpenampilan necis datang menghampiri Vano yang sudah menunggunya.


"Vano"


"papa"


Vano memeluk sang ayah penuh kerinduan, Hendra menepuk pundak Vano dan sesekali mengacak-acak rambutnya yang hitam.


"bagaimana kabarmu nak, kamu tambah ganteng saja, pasti Shesa merawatmu dengan baik...iya kan" ucap Hendra dengan tawa khasnya.


sosok pria yang masih terlihat ketampanannya, meskipun usianya sudah setengah abad, membuat Vano sangat bahagia saat ia melihat lagi sang ayah dalam keadaan baik-baik saja.


"selamat datang tuan besar, saya senang bisa bertemu kembali dengan Anda" seru Mario menundukkan tubuhnya.


" terimakasih Mario, aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi, katakan padaku selama aku pergi, apa Vano masih suka memukulmu dengan pulpen?" seru Hendra sambil melirik Vano yang tampak malu


Vano melirik Mario, dengan lirikan sadisnya membuat Mario salah tingkah.


"hehe...nggak kok tuan besar, sekarang tuan muda sudah insyaf, tuan muda sekarang tidak berani memukul saya, karena takut dimarahi non Shesa tuan" ucap Mario cengar cengir sembari melirik Vano yang tampak melototkan matanya.


Hendra terkekeh mendengar pernyataan Mario.


"begitu ya...berarti papa tidak salah sudah menikahkanmu dengan Shesa, putri Dewa" ucap Hendra bangga.


"betul tuan besar, apalagi non Shesa sekarang bisa hamil gara-gara ulah tuan muda, benar-benar prestasi yang membanggakan" sahut Mario bangga sembari melirik Vano yang terlihat ingin menerkamnya.


Hendra tertawa mendengar itu.


"iya...aku dengar itu dari nenek, Vano kau sudah membuat papa bahagia, papa sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Vano junior" seru Hendra bahagia


"masih lama pa, kita harus nunggu beberapa bulan lagi, oh iya pa hari ini Vano mengadakan acara syukuran untuk kehamilan istri Vano, sekaligus merayakan ulang tahun papa" seru Vano


"Vano Vano...kamu masih ingat saja ulang tahun papa, biasanya mamamu yang selalu ingat ulang tahun papa...sekarang tinggal kenangan" ucap Hendra sembari menghela nafasnya.


"ayo kita pulang pa, nenek pasti sudah menunggu " seru Vano


"kita pulang pa, mama sudah menunggu papa"


gumam Vano dengan senyum mengembang.


Akhirnya Vano dan Hendra pergi menuju istana mereka, dalam perjalanan tiba-tiba Hendrawan melihat penjual bunga dipinggir jalan.


"tunggu, hentikan mobilnya" seru Hendra


Vano terkejut saat Hendra tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"ada apa pa?" tanya Vano.


"entah kenapa, papa ingin membeli bunga lily kesukaan mamamu, papa turun sebentar untuk membeli bunga itu" ujar Hendra sembari membuka pintu mobil, lantas ia keluar dari mobil.


sementara di dalam mobil tampak Mario dan Vano saling menebak.


"tuan muda, apa jangan -jangan papa Anda sudah kerasa kehadiran mama Anda, tiba-tiba saja tuan besar ingin membeli bunga lily, itukan bunga kesukaan mama Anda" seru Mario terheran.


"chemistry di antara mereka berdua sangat kuat, papa tahu mama pasti datang, namun papa belum menyadarinya...cinta sejati yang telah mempertemukan mereka kembali" ucap Vano lirih.


Dilihatnya Hendra tengah membawa rangkaian bunga lily, Hendra terlihat bahagia membawa bunga itu.


sesampainya di dalam mobil, Hendra selalu memperhatikan bunga yang menjadi favorit istrinya itu.


"pa...untuk apa papa membeli bunga itu, mama kan nggak ada, lantas siapa yang menerima bunga itu?" tanya Vano menyelidik.


"entahlah Vano, tiba-tiba saja papa ingin sekali membeli bunga ini, biarpun mamamu tidak ada, namun papa merasa mamamu ada diantara kita" seru Hendra tersenyum


"papa...sebentar lagi papa akan bertemu dengan mama" gumam Vano


*****


Di kediaman Vano


Tampak semua sudah siap dengan acara syukuran kehamilan Shesa, terlihat tamu undangan sudah datang, Shesa merasa deg degan karena hari ini suaminya akan pulang membawa sang mertua.


Dewa dan Anggi mulai terlihat memasuki rumah mewah itu, Shesa menyambut mereka dengan senang.


"Shesa sayang, semoga selalu diberi kemudahan untukmu sampai lahiran nanti" ucap Anggi sembari memeluk putrinya.


"papa selalu mendoakan kebaikan untuk putri papa, bahagialah selalu nak, semoga selalu diberi kesehatan ibu dan bayinya" ucap Dewa senang.


"Aamiin.. .makasih pa" jawab Shesa bahagia


tiba-tiba seseorang mengejutkan Dewa dengan menyebut namanya.


"Dewa"


Dewa membulatkan matanya saat mendengar namanya disebut oleh suara yang masih ia ingat.


"Leona" seru Dewa saat membalikkan badannya, terlihat istri temannya itu masih sehat bugar, tersenyum padanya.


Dewa sangat tidak percaya Leona berdiri didepannya.


"benarkah kau Leona, istri Hendrawan?" tanya Dewa yang masih tidak percaya.


"iya Dewa...aku Leona, istri sahabatmu " ucap Leona.


"ya Tuhan...aku benar-benar tidak percaya kamu masih hidup, ini adalah keajaiban" seru Dewa berkaca-kaca.


Dewa tersenyum bahagia, akhirnya keluarga Hendra bisa bersatu.


"Shesa, papa tidak menyangka kamu seberani itu mencari fakta tentang hilangnya ibu mertuamu, papa pikir waktu itu kamu cuma sekedar tanya saja, ternyata kamu menjadi detektif untuk ibu mertuamu, papa bangga padamu nak" seru Dewa senang.


"itu sudah tugas Shesa pa, Shesa tidak percaya mama Leona meninggal, maka dari itu Shesa mencari tahu tentang kecelakaan yang membuat mama Leona menghilang, bahkan dikabarkan telah meninggal dunia, nyatanya semua itu hanya konspirasi tante Veronica" ungkap Shesa kepada Dewa.


"apa? Veronica? jadi Veronica yang menyebabkan Leona kecelakaan, dari awal papa sudah menduganya" ucap Dewa


"papa merasa Veronica mencintai Hendrawan, karena Hendra lebih memilih Leona, sehingga membuat Veronica berbuat jahat seperti itu" ucap Dewa mengingat saat -saat itu.


"sudahlah Wa, semuanya sudah berakhir, aku sangat bersyukur bisa berkumpul lagi dengan anakku, ibu mertuaku, dan juga menantuku" ucap Leona sedikit sedih karena sang suami belum bisa ia jumpai.


Tampak di luar, mobil Vano sudah tiba di pelataran rumah, terlihat seseorang yang turun bersama Vano, dengan membawa rangkaian bunga lily segar, entah ia berikan kepada siapa bunga itu, namun Hendrawan tetap percaya diri membawa bunga lily itu.


"Vano, sepertinya sudah banyak tamu yang datang, apa kau mengundang kolega bisnis kita?" tanya Hendra yang melihat banyak mobil mewah terparkir di pelataran parkiran.


"iya pa, karena hari ini adalah momen yang sangat berharga, di ulang tahun papa yang sekarang, papa akan mendapat kebahagiaan yang tak terkira" seru Vano


"ayolah Vano, papa ini sudah tua, apa yang bisa papa harapkan di usia papa yang sudah menua ini, selain melihat kamu bahagia bersama anak istrimu" ucap Hendra sembari merangkul putra kesayangannya itu.


"ayo kita masuk pa, semuanya pasti sudah menunggu" seru Vano sembari mengajak Hendra masuk ke dalam rumah.


sementara Leona tengah berbincang dengan Dewa dan Anggi, Shesa pun ikut bercengkerama dengan mereka.


Vano dan Hendra mulai masuk kedalam ruangan utama yang sudah dipenuhi tamu undangan, tampak nenek menyambut Hendra pulang


"Hendra...apa kabar kamu nak?" seru nenek sembari memeluk putranya itu.


"ibu...bagaimana kabar ibu, Hendra rindu sekali dengan ibu" seru Hendra menepuk penuh kasih sang ibu.


"ibu baik-baik saja Hen, ibu sangat bahagia sekali, akhirnya keluarga kita sudah lengkap" ucap nenek yang membuat Hendra terkejut.


"sudah lengkap?" tanya Hendra penasaran


"ah...tentu saja bu, keluarga kita sudah lengkap, sebentar lagi ibu akan dipanggil nenek buyut, bukan begitu Vano" ujar Hendra yang masih belum mengerti maksud nenek, bahwa Leona sudah datang melengkapi keluarga mereka.


Vano dan nenek bekerja sama menyembunyikan kehadiran Leona, hingga waktu yang tepat Hendra akan bertemu dengan Leona.


Tampak Shesa mengetahui kedatangan suaminya bersama Hendra, sang papa mertua.


Shesa datang menghampiri Hendra dengan membawa sebuah kue ulang tahun untuk mertuanya.


Hendra tengah sibuk berbincang dengan nenek, tiba-tiba Shesa datang dari arah belakang.


"selamat ulang tahun papa"


Hendra menoleh dan melihat Shesa tengah membawa kue ulang tahun untuknya.


"Shesa...menantu papa yang cantik, terima kasih atas kejutannya sayang" seru Hendra terkejut.


"di tiup dong pa lilinnya"


Hendra meniup lilin yang bertuliskan angka 50 tahun.


Ulang tahun Hendra memang cukup sederhana, namun kejutan yang diberikan Vano bukanlah hadiah yang sederhana, hari ini Vano akan mempertemukan Hendra dan Leona.


"selamat ulang tahun papa, semoga papa selalu panjang umur dan selalu bahagia" doa Shesa untuk papa mertuanya.


"terimakasih sayang, oh iya bagaimana dengan cucu papa? apa dia baik-baik saja?" seru Hendra tersenyum.


"tentu saja pa, cucu papa sangat sehat" ucap Shesa sembari tersenyum pada suaminya.


"dengar nak, jika Vano menyakitimu bilang sama papa, biar papa beri pelajaran padanya" ucap Hendra yang diiringi gelak tawa mereka.


Leona masih berbincang dengan Dewa dan Anggi, ia belum menyadari bahwa Hendra berada dalam satu ruangan bersamanya, pun juga dengan Hendra, ia belum menyadari bahwa Leona tengah berbincang dengan sahabatnya.


tiba-tiba Hendra menanyakan keberadaan Dewa.


"oh iya nak, dimana papamu, apa dia ada disini" tanya Hendra yang merindukan sahabatnya itu.


"i..iya pa ...papa ada disini...ta...tapi...." belum selesai Shesa berucap, saking senangnya mendengar Dewa di acara itu, Hendra sudah pergi mencari keberadaan sahabatnya itu.


"sayang...mama Leona bersama papa dan mama sedang berbincang" ucap Shesa kepada Vano.


"biarkan saja papa kesana...kita ikuti papa, bagaimana reaksinya saat melihat mama masih hidup" ujar Vano.


"hm...kamu benar, ayo kita kesana, sudah waktunya papa tahu tentang mama Leona"


sementara Hendra tengah sibuk mencari keberadaan Dewa, tak butuh waktu lama Hendra mencari Dewa, wajah Dewa terlihat menggandeng istrinya Anggi, namun ada seorang wanita yang tengah berbincang dengan mereka dan membelakangi Hendrawan.


"hai Dewa..." suara Hendra yang membuat Leona membulatkan matanya.


"seperti suara mas Hendra" gumam Leona yang masih membelakangi Hendra.


BERSAMBUNG


💖💖💖💖💖


...terimakasih buat readers yang sudah memantau sejauh ini, tetap ikuti kisah Vano dan Shesa ya, masih banyak konflik yang belum terselesaikan....


...maka dari itu tetap dukung karya ini, agar author tetap update setiap hari, dengan cara like, komen, beri vote kalian dan hadiah sebanyak-banyaknya, dan jangan lupa tambahkan ke favorit agar kalian tahu notifikasi update terbaru dari Vano dan Shesa...


...nantikan update selanjutnya ya, author akan selalu memberikan kejutan untuk kalian semua ...


...😘😘😘😘...