
Laura kemudian meninggalkan tempat dimana Vano dan Shesa berada, matanya sakit melihat pemandangan yang mesra itu, namun ia sudah mendapat foto-foto kemesraan antara Shesa dan pak Dante.
"sayang mengapa kau lakukan ini? untuk apa wajah pak Dante kau pasang lagi, bukankah aku sudah mengetahui rahasiamu?" ucap Shesa sembari menyentuh wajah Vano yang tertutup kulit sintetis itu.
Vano menggapai tangan istrinya, ia menciumnya dengan lembut.
"ini belum berakhir sayang" ucapnya pelan.
"maksudmu?" tanya Shesa penuh arti.
Vano membelai wajah sang istri, dilihatnya dua bola mata yang indah itu, sangat meneduhkan hatinya, perlahan ia mendekatkan bibirnya pada bibir Shesa, namun sebuah jari menuntut Vano untuk menghentikan gerakannya.
"stop...no...no" ucap Shesa sembari menempelkan satu jarinya pada bibir Vano yang hendak ingin mencium bibirnya.
Vano melotot, tak biasanya sang istri menolak permintaan nya.
"ada apa?" tanya Vano sembari mengerutkan dahinya.
"buang dulu kumismu, setelah itu kau bisa menciumku sesuka hati" seru Shesa sembari melepaskan dirinya dari pelukan Vano.
Shesa tersenyum renyah, melihat ekspresi wajah Vano yang menurutnya sangat lucu itu.
"ayolah sayang, bukankah ini sangat menantang, ini akan terasa geli-geli enak sayang" goda Vano sembari mengejar istrinya.
"aku nggak mau tahu ya pak Dante, pokoknya lepasin dulu kumismu sebelum menciumku" seru Shesa sembari berlari kecil.
Vano tersenyum dan mulai mengejar Shesa.
"awas kamu ya...!" Vano semakin cepat mengejar Shesa, hingga akhirnya tangan Shesa berhasil diraih oleh tangan Vano yang kuat.
"kena kau" Vano berhasil menangkap tubuh Shesa kedalam pelukannya.
dengan nafas yang tersengal-sengal, Shesa mencoba melepaskan dirinya dari pelukan sang suami, sembari menggelengkan kepalanya, ia tidak mau Vano menciumnya dengan kumis yang masih terpasang diwajah tampan suaminya.
"lihat aku" seru Vano menatap dalam-dalam mata Shesa.
perlahan Vano melepaskan kumis itu dengan sangat hati-hati sekali, demi permintaan sang istri, ia rela membuka kumis palsunya.
"sudah... sekarang apa kau sudah puas" ucap Vano sembari menyeringai dan siap melahap habis bibir Shesa yang indah itu.
Shesa tersenyum dan dengan sengaja ia membuka mulutnya sedikit, agar Vano bisa leluasa menguasai bibir Shesa yang menggoda itu.
matanya terpejam saat sentuhan itu mulai terasa, saling menyesap dan bertukar Saliva, Vano begitu menikmati ciuman mereka berdua, dengan tangan yang memegang tengkuk Shesa, Vano dengan leluasa menguasai pagutan mesra itu.
Ciuman itu mulai menjalar ke leher Shesa, hampir saja Shesa ikut terbawa suasana yang panas itu, namun dengan cepat ia menghentikan aktivitas itu, ia sadari mereka sedang berada dimana, tentu saja teman-teman nya bisa saja sewaktu-waktu menemukan Shesa dan Vano yang sedang berciuman.
"sayang udah, lepasin" Shesa mendorong tubuh Vano untuk menjauhinya.
Vano terkejut, baru saja ia menikmati bibir Shesa yang manis, tiba-tiba istrinya mendorong tubuh kekarnya, ia memperhatikan Shesa yang sedang mengancingkan bajunya yang sempat terbuka karena ulahnya itu.
Vano masih diam mematung di tempatnya, Shesa mulai mendekati suaminya yang sedang memperhatikannya itu.
Shesa mengambil kumis yang Vano masukkan ke dalam kantong bajunya, Shesa hendak memasang kumis itu kembali pada wajah suaminya.
"pak Dante, pasang kembali kumismu, sebentar lagi, anak-anak akan datang, bapak mau mereka memergoki bapak yang sedang tidak memakai kumisnya!" ucapnya sembari menempelkan kembali kumis palsu itu.
Vano masih diam mematung, ia terus memperhatikan Shesa yang sedang sibuk menempelkan kumis itu.
"hm ... sudah!" seru Shesa sembari tersenyum, ia telah mengembalikan kumis itu ditempat semula.
tiba-tiba suara kerumunan teman-teman Shesa sedang menuju mereka berdua.
"itu mereka sudah datang" ucap Shesa sembari menjauh dari Vano.
beberapa anak sudah terlihat, dan perlahan mereka menghampiri Vano dan Shesa yang menunggu di sana.
"ini pak, kami sudah selesai mendapatkan informasi itu" ucap seorang siswa.
dengan memasang sikap wibawanya, Vano memerintahkan seluruh siswanya untuk segera ke pos dua.
"awas kamu sayang, aku akan menghabisimu dirumah"
"aku tidak takut, aku pastikan kau akan kalah dengan permainanku"
mata mereka beradu dan saling berbicara, hingga akhirnya Shesa dikejutkan dengan suara sahabatnya, Monic.
"Shesa... kamu kok ngelamun, ayo kita ke pos dua" seru Monic sembari menepuk pundak Shesa.
"hah... iya, ayo kita pergi!" jawab Shesa gelagapan.
akhirnya Shesa dan teman-temannya pergi ke pos dua, Vano terus saja memperhatikan langkah istrinya sembari tersenyum tipis.
setelah beberapa menit mereka sudah sampai di pos dua, sudah ada Bu Dewi yang menunggu kedatangan mereka semua.
"baik anak-anak, hari ini kegiatan Out Dor Learning kita sudah berakhir, tugas kalian bisa kalian kumpulkan kepada Shesa"
"Shesa, kamu bisa membantu ibu kan?" sambung Bu Dewi.
"dengan senang hati bu" jawab Shesa tersenyum.
"nanti setelah tugas terkumpul semua, kamu serahkan kepada pak Dante ya" ucap Bu Dewi
"iya Bu .." jawabnya singkat.
"baik semuanya, silahkan kembali ke bus masing-masing, sesuai nomor kursi kalian yang kemarin ya" ucap Bu Dewi menyeru kepada seluruh siswanya.
"siap Bu" jawab mereka serentak.
semua siswa tanpa terkecuali mulai memasuki bus masing-masing, Shesa menempati kembali tempat duduknya seperti awal keberangkatannya kemarin.
begitupun Monic juga duduk didepan Shesa.
"huffttt yang... akhirnya kita pulang, oh ya Sha, pak Dante kok belum kelihatan ya!" tanya Monic yang belum melihat pak Dante masuk kedalam bus.
"mana kutahu" jawab Shesa sembari mengangkat bahunya.
tak butuh waktu lama, pak Dante sudah berdiri disamping tempat duduknya yang bersebelahan dengan Shesa.
Shesa terlihat masih memeriksa tugas-tugas yang terkumpul padanya, tiba-tiba saja ballpoint yang dipegang Shesa terjatuh, dan iapun mencoba mengambilnya.
bukannya mengambil ballpoint, pandangannya justru terfokus pada kaki seseorang yang sedang berdiri disampingnya, namun ia menyadari siapa pemilik kaki yang kokoh ini.
perlahan ia mengangkat wajahnya, ia melihat wajah pak Dante sedang tersenyum kepadanya.
"pak Dante" Shesa menegakkan tubuhnya dan membenarkan posisi duduknya.
kemudian Vano mulai duduk disampingnya, ia melihat Shesa yang sedang salah tingkah dengan kedatangan suaminya.
"bersiap-siaplah untuk pulang, malam ini aku akan menghabisimu tiada ampun" seru Vano berbisik ditelinga Shesa.
Shesa membulatkan matanya, ia memejamkan mata dan menarik nafasnya dalam-dalam, ia sudah bisa membayangkan Vano akan membuatnya lumpuh malam ini.
Shesa terdiam dan sesekali melirik wajah suaminya yang telah berubah itu.
ia terus memandangi wajah pak Dante yang lucu menurutnya.
"apa lihat-lihat, tidak bisa lihat orang ganteng apa?" seru Vano yang sadar, Shesa tengah memperhatikannya.
"astaga... terserah anda pak Dante!" jawab Shesa sembari memutar bola matanya.
dan Vanopun tersenyum.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥